Peta Utama
Peta SD Negeri
Peta SMP Negeri
Peta SMA Negeri
Your result will display here
 
 BERANDA |  ARTIKEL/ PUBLIKASI |  GALLERY |  BUKU TAMU |  HUBUNGI KAMI     

Beranda

Profil

Jadwal Kegiatan

Tautan Website

Sistem Informasi SDM

Sistem Informasi Diklat

Sistem Informasi Kelembagaan

Informasi Publik BPP Jambi

Denah Balai Pelatihan Pertanian Jambi

RTL Pelatihan

  PENCARIAN DATA :

MUTIARA HIKMAH :

"Dari Pada Mengutuki Kegelapan, Lebih Baik Ambil Sebatang Lilin dan Nyalakan”
(Pepatah Tiongkok)

Bagaimanakah Pendapat Anda Tentang Website ini?

 Baik Sekali
             1%
 Baik
             98%
 Cukup
             0%

Bagaimana pelayanan BPP Jambi

 Sangat Baik
             71%
 Baik
             22%
 Cukup
             7%

 
User ID :
Password :
 

PENGKONDISIAN MANUSIA PEMBANGUNAN

Sebuah Refleksi Diri Untuk Mengisi Tahun 2013
Oleh : Ir. LINDUNG, MP (WIDYAISWARA MADYA BPP JAMBI)


Sudah menjadi kesepakatan terhadap premis yang menyebutkan, bahwa faktor manusia memainkan peran sentral (amat penting) dalam pembangunan, sudah cukup sering diketengahkan. Jika premis itu diterima, wajar jika kemudian lahir istilah manusia pembangunan, sebagai istilah yang mencerminkan aksentuasi pada peran sentral itu.
Manusia pembangunan adalah manusia yang memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap panggilan untuk ikut bertanggung jawab atas pembangunan masyarakatnya, dengan bekal utama berupa kemampuan dan kreativitas yang dimilikinya. Jadi ada beberapa unsur hakiki dalam manusia pembangunan, yaitu:
• Kesadaran
• Kepedulian
• Tanggung jawab
• Kemampuan
• Kreativitas

Jelaslah, keberadaan manusia yang kualitasnya ditandai oleh unsur-unsur itu, tidak otomatis begitu saja. Artinya kehadiran manusia dengan kualitas seperti itu perlu diupayakan.
Maka, pertanyaan kemudian muncul, upaya apakah yang dapat (dan perlu) dilakukan untuk menjamin kehadiran manusia pembangunan yang diperlengkapi dengan unsur-unsur yang hakiki itu ?

Jawaban (upaya yang menjadi jalan keluar) atas pertanyaan itu bisa bersifat kondisional, namun bisa pula bersifat teknis.
Jawaban kondisional mengemukanan kondisi-kondisi yang harus ada, supaya ada peluang yang lebar bagi kehadiran manusia pembangunan.

Jawaban teknis mengemukakan teknik-teknik rekayasa tertentu yang perlu diterapkan untuk mengupayakan terciptanya kualitas tertentu pada manusia pembangunan
Sebenarnya jawaban kondisional secara genetik dan logis perlu mandahului jawaban teknis. Argumentasinya, kondisi-kondisi yang dipaparkan dalam jawaban kondisional itu menjadi syarat-syarat yang harus dipenuhi lebih dahulu. Tanpa kehadiran kondisi-kondisi itu, peluang kehadiran manusia pembangunan dapat dikatakan menjadi mustahil. Kalau sudah deikian, tidak ada lagi tempat untuk berbicara dan berupaya lebih jauh tentang manusia pembangunan. Dalam keadaan demikian, kecanggihan jawaban teknis yang mana pun tidak ada manfaatnya.

Jawaban kondisional mengejewantah dalam proses konkrit yang disebut pengkondisian. Sedangkan jawaban teknis mengejewantah dalam proses yang disebut rekayasa. Meskipun keduanya merupakan proses-proses konkrit yang bertujuan membuahkan manusia pembangunan, namun ada berbagai perbedaan fundamental antara pengkondisian dan rekayasa.
Pada pengkondisian, manusia tetap bebas dan diperlakukan sebagai subyek. Artinya, manusia diperlakukan berdasarkan pengakuan, bahwa ia adalah mahluk bermartabat yang memiliki kehendak bebas, kemampuan yang asli dari dirinya, potensi, dan kreativitas sendiri. Pengkondisian hanya menyediakan kondisi-kondisi yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan kehendak bebas, kemampuan, potensi, dan kreativitas itu, untuk menuju terbentuknya kesadaran dan kepedulian, tanggung jawab, kemampuan dan kreativias sebagai manusia pembangunan.

Secara filosofis, pengkondisisan hanya terjadi jika ada keyakinan, bahwa martabat manusialah yang menjadi jaminan terpenting bagi pertumbuhan dan perkembangan unsur-unsur hakiki manusia pembangunan, sehingga yang diperlukan terutama adalah penyediaan kondisi-kondisi yang kondusif itu.
Kalau tidak ada keyakinan, bahwa martabat manusia mampu menjadi jaminan utama, maka yang lebih cenderung mengejewantah adalah rekayasa. Pada rekayasa, manusia lebih bersifat obyek yang diharapkan patuh (jadi, tidak bebas!) terhadap upaya-upaya yang akan diterapkan oleh pemrakarsa rekayasa. Disini kebebasan, prakarsa, dan kreativitas tidak mendapat tempat yang cukup luas untuk tumbuh dan berkembang. Manusia yang menjalankan rekayasa yang diharapkan (bahkan tak jarang diharuskan) mengikuti saja pola upaya yang sudah ditetapkan. Dalam konteks ini, semakin manusia patuh, semakin baik.
Baik pengkondisian maupun rekayasa, keduanya dibutuhkan dalam pembangunan, karena keduanya bertujuan menghadirkan manusia pembangunan dengan unsur-unsurnya yang lengkap.

Pertanyaan sekarang yang muncul adalah. Proses mana yang lebih berhasil dalam membuahkan manusia pembangunan? Bagaimana hubungan kedua proses itu?
Ada beberapa argumen yang mendorongtampilnya jawaban, bahwa pengkondisian yang kan lebih berhasil. Argumen-argumen itu adalah
1. Kalau manusia terus menerus diperlakukan sebagai obyek, maka salah satu unsur kebutuhan manusiawi yang hakiki, yaitu harga diri, dikorbankan.oleh karena itu, pada suatu saat akan terjadi protes, pembangkangan, bahkan mungkin terjadi pemberontakan sehingga agenda-agenda pembangunan bisa kacau balau.
2. Pada proses rekayasa, prakarsa-prakarsa pihak penguasa dijejalkan untuk diterima dan dilaksanakan. Akibatnya, prakarsa-prakarsa itu tidak pernah dirasakansebagai milik sendiri. Tidak ada rasa memiliki terhadap prakarsa-prakarsa yang disodorkan, sehingga partisipasi aktif bersifat minimal. Padahal, permasalahan pembangunan seringkali multikmpoleks, bahkan mengandung unsur-unsur saling bertentangan satu sama lain, sehingga membutuhkan partisipasi aktif yang kaya gagasan dan kreativitas, yang berasal dari seluruh anggota masyarakat. Rasa memiliki dan partisipasi aktif lebih mendapatkan peluang tumbuh dan berkembang pada proses pengkondisian, bukan pada rekayasa.
3. sebagaimana dikatakan oleh filsuf Jurgen Habermas, pemahaman hubungan antar manusia berdasarkan model hubungan pekerjaan (teknik) belaka, adalah suatu kesalahan mendasar. Untuk mendukung pandangan ini, Habermas menunjuk pada kegagalan konsep Karl Marx sebagai contoh teoritis sekaligus historis yang tak terbantah. Marx yang sejak semula tidak sanggup memahami hakikat hubungan antar manusia sebagai suatu hubungan komunikatif yang manusiawi itu, gagal mencapai tujuannya, yaitu membebaskan manusia tertindas. Bahkan yang terjadi adalah suatu ironi yang menyedihkan, yaitu hadirnya sebuah filsafat manusia (yaitu komunisme) yang justru paling ekstrem dalam menindas manusia.

Setelah menjadi jelas, bahwa proses pengkondisianlah yang lebih unggul, maka pertanyaan yang timbul adalah, proses pengkondisian manusia pembangunan itu wujud-wujud konkretnya apa?
Wujud-wujud konkret itu berakar pada penghargaan terhadap martabat kemanusiaan. Dari situ kemudian lahirlah realitas-realitas yang merupakan kondisi-kondisi hakiki bagi tumbuh dan berkembangnya unsur-unsur hakiki manusia pembangunan.

Realitas-realitas itu adalah egalitarianisme (persamaan) derajat manusiawi, prinsip non diskriminasi, perlindungan hukum universal, penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, demokrasi, keadilan sosial, dan solidaritas manusiawi.
Lalu, dimanakah peran jawaban (upaya) teknis yang sudah disebutkan di bagian awal tulisan ini ? Jawaban teknis tetap penting, sebab pembangunan di tengah-tengah peradaban informasi yang rasional-teknologis ini, ternyata selalu melahirkan tantangan-tantangan yang amat rinci sifatnya, yang tidak mungkin terjawab hanya dengan menyediakan persyaratan-persyaratan saja. Jawaban teknislah yang akan membuahkan orang-orang yang ahli dalam bidang-bidang tertentu. Namun, kiprah jawaban teknis harus ada dalam naungan kiprah kondisional yang lebih mengacu pada dimensi-dimensi kemanusiaan universal. Hanya dalam posisi subordinatif terhadap jawaban kondisional itulah, jawaban teknis mampu memberikan andil yang optimal bagi pembangunan kehidupan yang sejati.

Teknis rekayasa akan memiliki aura bila tumbuh dan berkembang dalam payung kondisional manusiawi.
Penerapan rekayasa yang dipaksakan akan melahirkan paksaan-paksaan untuk diikuti secara kaku, seperti mesin yang menjalankan fungsinya secara tepat tanpa memperhatikan unsur lain di sekitarnya. Dalam arti kata individualistik yang rigid akan memenuhi setiap aktivitas kehidupan manusia.

Pengkondisian yang humaniter, akan melahirkan manusia-manusia yang manusiawi, menyadari dirinya manusia dan orang lain adalah manusia belahannya.

Jambi, 9 Januari 2013

Publisher : KSR

Halaman Sebelumnya

INFORMASI PENGUNJUNG :


Browser : CCBot/2.0 (https://commoncrawl.org/faq/)

Anda adalah pengunjung kami yang ke : 548182

Statistik Pengunjung Web 6 Bulan Terakhir

12134
7152
11613
8736
9763
3960

07-2018

08-2018

09-2018

10-2018

11-2018

12-2018