Peta Utama
Peta SD Negeri
Peta SMP Negeri
Peta SMA Negeri
Your result will display here
 
 BERANDA | SISTEM INFORMASI DIKLAT  ARTIKEL/ PUBLIKASI |  GALLERY |  BUKU TAMU |  HUBUNGI KAMI     

Beranda

Profil

Jadwal Kegiatan

Tautan Website

Sistem Informasi SDM

Sistem Informasi Diklat

Sistem Informasi Kelembagaan

Informasi Publik BPP Jambi

Denah Balai Pelatihan Pertanian Jambi

RTL Pelatihan

  PENCARIAN DATA :

MUTIARA HIKMAH :

"Dari Pada Mengutuki Kegelapan, Lebih Baik Ambil Sebatang Lilin dan Nyalakan”
(Pepatah Tiongkok)

Bagaimanakah Pendapat Anda Tentang Website ini?

 Baik Sekali
             1%
 Baik
             98%
 Cukup
             0%

Bagaimana pelayanan BPP Jambi

 Sangat Baik
             73%
 Baik
             22%
 Cukup
             5%

 
User ID :
Password :
 

DIKLAT PERTANIAN DAN WIDYAISWARA (PRASARAN UNTUK BALAI PELATIHAN PERTANIAN)

Oleh : Ir. Lindung, MP (Widyaiswara Madya)


Ada beberapa butir catatan menarik dari notulensi rumusan hasil Pertemuan Nasional Widyaiswara Pertanian Tahun 2013.

Pertama, isu strategis yang berkembang saat ini terkait dengan penyelenggaraan diklat yaitu: 1) pelatihan yang ada di Pusat Pelatihan Pertanian tidak efektif/’tidak nendang’, 2) ruh pelatihan tidak ada, dan 3) variasi metode pembelajaran yang kurang.

Kedua, bahwa kualitas penyelenggaraan diklat akan tergantung kepada widyaiswara, dimana widyaiswara mempengaruhi kualitas penyelenggaraan diklat melalui: 1) penyusunan program diklat dan kegiatan lainnya, 2) penyusunan kurikulum, modul, dan bahan ajar, 3) fasilitasi proses berlatih, 4) konsultasi dan bimbingan purnawidya (alumni) diklat, dan 5) rancangan fasilitas diklat dan identifikasi kebutuhan fasilitas

Ketiga, Apabila suatu UPT Diklat menunjukkan prestasi yang tinggi maka apresiasi itu sudah pantas diberikan kepada widyaiswara, sebaliknya jika UPT tersebut kurang berprestasi maka kita harus bertanya ada apa yang terjadi pada widyaiswara.

Dari ketiga butir dari butir-butir rumusan hasil pertemuan nasional tersebut, analisis yang muncul bisa beragam, bisa tendensius. Widyaiswara sebagai sebagai penentu prestasi UPT Diklat Pertanian adalah statemen yag tendensius, karena widyaiswara hanya satu komponen dalam sistem yang ramai, dan widyaiswara hanya mempunyai fungsi eksekutor dalam proses pembelajaran saat dia menyampaikan materi, hanya itu. Fungsi eksekutor lain, widyaiswara tidak punya, padahal suatu kegiatan diklat memerlukan sejumlah eksekutor penentu, seperti peralatan, bahan, ruang berlatih, penataan keuangan, dan masih banyak lagi, dimana fungsi ini dimiliki oleh pejabat struktual, terutama top manajemen. Pertanyaan yang muncul, mengapa hanya widyaiswara menjadi fokus untuk sebuah tanggung jawab dan status berhasil atau tidaknya sebuah diklat? Pernyataan yang cukup tendensius.

Widyaiswara adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diangkat sebagai pejabat fungsional oleh pejabat yang berwenang dengan tugas, tanggung jawab, wewenang untuk mendidik, mengajar, dan/atau melatih Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat) pemerintah. Batasan widyaiswara sudah jelas hanya sebatas untuk mendidik, mengajar, dan melatih. Bila saat melatih, ternyata bahan, alat, waktu, sarana tidak mendukung, sehingga kegiatan berlatih tersebut tidak ada ruh, tidak nendang, tidak ada variasi metode, pantaskah widyaiswara yang paling bertanggung jawab? Pertanyaan ini harusnya dijawab dengan argumentasi hasil evaluasi lapangan, bukan analisis on paper saja, baru lah bisa muncul pernyataan widyaiswara paling bertanggung jawab atas status berhasilnya sebuah diklat.

Adalah bijak bila kita mengatakan, lalu mencontohkannya dan melakukannya selalu pada rel yang sama sehingga kita adalah insan yang konsisten, yang memiliki persamaan tell = show = do.

Sebagai insan UPT diklat pertanian, sepantasnya untuk status berhasil tidaknya diklat pertanian menjadi tanggung jawab seluruh insan balai pelatihan pertanian dengan komandannya adalah kepala balai sebagai penanggung jawab utama.

Sebagai insan diklat pertanian, hal-hal inti yang menjadi rujukan dalam menyelenggarakan diklat pertanian haruslah dipahami terlebih dahulu, diuraikan berikut ini.

1. Makna diklat dan arahnya
Pendidikan adalah rekan tidak yang dapat membuat kesedihan, tidak ada kriminalitas yang dapat menghancurkan, tidak ada musuh yang dapat mengasingkan, tidak ada kekejaman yang dapat memperbudak.(Joseph Addison. English 1672 – 1719).

Pendidikan dan Pelatihan yang disingkat diklat itu adalah benih harapan. Jika seseorang galau akan kompetensi yang dimilikinya untuk menangai sesuatu dalam pekerjaanya sehari-hari; jika penyuluh dilanda kegalauan atas tugas pokoknya untuk merubah perilaku petani dan petani galau akan keadaan usahataninya, kunci jawabannya adalah diklat pertanian.

Haruslah tertanam kuat keyakinan pada pengelola diklat bahwa kunci keberhasilan diklat bukanlah fasilitas dan formalitas, melainkan tekad, kecintaan pendampingan, dan kepemimpinan. Di depan memberi contoh, di tengah memberi spirit, di belakang memberi dukungan. Kesatuannya adalah karakter. Insan berkarakter adalah insan yang konsisten.

Sistem kediklatan yang berkarakter yang dapat menumbuhkan peserta didik berkarakter. Lembaga diklat yang hanya mengandalkan daya beli atau tumbuh dengan berbagai program dan materi pembelajaran asal-asalan akan melahirkan peserta didik sebagai komoditi; sebagai hasil fungsi dari faktor produksi. Nilainya tidak lebih dari logam sepuhan, yang hanya bertahan sementara; gemerlapan dari luar tapi berkarat keropos di dalam.

Diklat sebagai proses manipulatif dan tanpa karakter, dengan menjadikan peserta didik sebagai sarana eksploitasi serapan anggaran semata, adalah modus pembudayaan yang paling efektif mencetak mental koruptif. Berapapun angkatan terdidik-terlatih yang dihasilkan tidak akan menjadi kekuatan pembebasan, malahan jadi sumber pemberat untuk capaian swadaya, swakarsa dan swasembada yang dicanangkan, karena hanya cuma terdata sebagai SDM yang sudah didiklat.

Karena itu, diklat sebagai benih harapan harus menjadikan karakter sebagai tumpuan dasar. Apapun yang dimiliki seseorang apakah kepintaran, keterampilan, keelokan , bahkan kekuasaan, akan menjadi tidak bernilai jika orang itu tidak bisa dipercaya dan tidak punya keteguhan sebagai ekspresi dari keburukan karakter. Diklat sebagai wahana pembebasan, pembudayaan dan kepemimpinan harus menempatkan karakter sebagai tumpuan dasar. harus dihindari pembelajaran yang terlalu menekankan aspek kognitif dan lahiriah semata. pertama-tama harus ditekankan pembangunan aspek sikap, aspek kejiwaan. “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”.

Bung Karno mengajukan pertanyaan yang ia pinjam darisejarawan Inggris, HG Wells, “apa yang menentukan besar kecilnya suatu bangsa?” lalu ia menjawab sendiri, yang menentukan bukanlah seberapa luas wilayahnya dan seberapa banyak penduduknya, melainkan kekuatan tekad sebagai pancaran karakternya.

2. Penanganan peserta sebagai sasaran diklat
Sasaran kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat) adalah peserta didik. Untuk institusi diklat pertanian, maka yang jadi sasaran utama peserta didiknya adalah penyuluh pertanian dan petani, dan unsur jabatan lain yang berhubungan dengan pertanian.

Sudah dapat dipastikan tujuan penyelenggaraan diklat adalah meningkatkan perilaku peserta terhadap bidang yang didiklatkan. Perilaku memiliki tiga variabel, yaitu 1) variabel pengetahuan (kognitif), 2) variabel keterampilan (psikomotor), dan 3) variabel sikap (afektif). ketiga variabel ini harus simultan untuk menghasilkan kompetensi yang mengandung nilai.

Variabel Pengetahuan. Diingatkan kembali bahwa variabel atau aspek pengetahuan memiliki grade yang harus dipahami oleh pengelola diklat, terutama para widyaiswara yang memegang sebagai fasilitator, sehingga penetapan tujuan pembelajaran aspek pengetahuan dapat dievaluasi sesuai indikatornya dengan baik dan benar. Grade pengetahuan yang dijadikan indikator berdasarkan hirarkinya meliputi penguasaan pengetahuan (knowledge), penguasaan pengertian (comprehension), kamampuan menerapkan (application), kemampuan analisis (analisis), dan kemampuan sintesis (synthesis).
Penghindaran perlu dilakukan agar proses pembelajaran tidak menetapkan aspek aspek pengetahuan sebagai mengambil porsi terbesar, yang biasanya dimunculkan dalam pembelajaran klasikal. Aspek pengetahuan merupakan pintu masuk untuk menuju tingkatan yang lebih lagi.

Variabel keterampilan mempunyai jenjang grade yang sekuen yaitu kecepatan, kekuatan, ketahanan, kecermatan, ketepatan, ketelitian, kerapihan, keseimbangan, dan keharmonisan. Penekanan mampu melakukan merupakan titik awal aspek keterampilan, namun perlu diingat keterampilan merupakan proses yang berulang (dribbling) agar sampai pada indikator keharmonisan. Widyaiswara harus mampu mendesain pembelajaran agar porsi terbesar adalah kegiatan melakukan terhadap suatu keterampilan. Aspek keterampilan merupakan isi dari pintu yang sudah terbuka.

Variabel sikap (attitude) memegang peranan yang menentukan terhadap SDM yang didiklat. Apapun hebatnya pengetahuan dan keterampian yang sudah dimiliki, akan menjadi tidak berarti bila sikap yang muncul adalah tidak mau untuk menerapkannya, bahkan bisa berbahaya jika sikap yang muncul adalah menyalahgunakan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Sikap adalah kunci penentu.
Aspek sikap mengandung tiga dimensi kepentingan, pertama adalah sikap terhadap materi pembelajaran (subject matter), kedua sikap terhadap aplikasi materi pembelajaran yang sudah didapat, dan ketiga sikap terhadap aplikasi total dari diklat yang diikuti (akumulasi materi pembelajaran).

Sikap terhadap materi pembelajaran adalah bagaimana seseorang memperlakukan sesuatu materi dengan efektif dan efesien. Sikap menggunakan bahan dengan sesuai keperluan, menggunakan peralatan dengan hati-hati dan merawatnya, meminimalkan kecelakaan kerja selama berlatih, dan sebagainya yang mengarah kepada sikap yang peduli terhadap materi pembelajaran. Ini lah yang harus dibangun widyaiswara dalam proses pembelajaran kepada peserta, tentunya diidukung dengan peralatan dan bahan yang tersedia.

Sikap akan memberikan “ruh”, nilai terhadap pengetahuan dan keterampilan; sebuah kompetensi yang bernilai. Sikap terhadap aplikasi materi pembelajaran akan menentukan alasan mengapa bekerja, menentukan alasan mengelola suatu usaha, mengapa menangani suatu pekerjaan.

3. Kegiatan Mengelola Diklat
Terminologi dari tujuan diklat adalah kepuasan peserta. Kepuasan peserta dicapai melalui meningkatkan pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan membentuk, menumbuhkan serta mengembangkan sikap peserta didik, sehingga membawa konsekuensi peserta adalah klien yang terkepuaskan. Jadi, tugas Balai Pelatihan Pertanian adalah mampu memberikan nilai dan kepuasan kepada peserta.

Kepuasan atau ketidakpuasan yang dirasakan oleh peserta merupakan hasil dari perbandingan atau kesenjangan yang dilakukan oleh diri sendiri terhadap berbagai macam hal yang sudah diperolehnya dari pelatihan/diklat dan yang menjadi harapannya. Kepuasan akan dirasakan oleh peserta tersebut bila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari kegiatan diklat kecil, sebaliknya ketidakpuasan akan dirasakan oleh individu bila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi peserta dengan apa yang diperoleh dari diklat besar.

Balai pelatihan pertanian harus bisa menempatkan diri sebagai produsen yang memproduksi jasa diklat pertanian dan peserta sebagai konsumennya. Produsen berkewajiban memberi nilai dan memberi rasa puas kepada konsumen terhadap produknya.

Pola pikir bagaimana menuju peserta latihan puas terhadap layanan balai seperti tertera pada ilustrasi gambar di bawah.



Tingkat kepuasan peserta dilat dapat dicapai dengan 3 pendekatan, yaitu
a. Kepuasan peserta di ruang tidur (manajemen ruang tidur)
b. Kepuasan peserta di ruang makan (manajemen ruang makan)
c. Kepuasan peserta di ruang kelas (manajemen ruang kelas)

a. Manajemen ruang tidur
Pada dasarnya manajemen ruang tidur adalah bagian dari manajemen asrama, namun lebih ditekankan pada ruang dimana peserta menggunakannya dengan hak privasinya.

Manajemen ruang tidur bukan berarti ruang tempat tidur semata. Ruang tidur adalah tata kelola ruang tidur tempat peserta beristirahat dan beraktivitas individu dengan segala kelengkapannya. Manajemen ini menekankan bagaimana peserta betah di ruang tidur dan menjadikannya tempat beristirahat sekaligus belajar.

Prasyarat ruang tidur yang mengarah peserta menjadi puas adalah:
• Penempatan jumlah peserta sesuai rasio: luasan ruang per orang.
• Tempat tidur haruslah kokoh, ukuran yang cukup luas, nyaman
• Kebersihan tempat tidur terjaga, termasuk kebersihan dan siklus penggantian sprei dan sarung bantal, kebersihan lantai yang terjaga kontinyu.
• Di ruang tidur, peserta bisa membaca atau menulis atau mengoperasikan laptop di ruang tidur dengan perlengkapan meja, kursi, lampu, kabel terminal yang tertata baik.
• Jika tidak menggunakan pendingin ruangan, maka sirkulasi udara kamar tidur harus baik
• Terdapat tempat sampah yang bersih, bisa ditempatkan di luar pintu ruang tidur
• Bila disatukan dengan kamar madi, maka ruang tidur tidak terpengaruh dengan aroma ruang mandi.
– Di ruang mandi tersedia air yang bersih, cukup, kontinyu
– Ada ember, gayung, tempat gantungan handuk, tempat sabun dan tempat sikat gigi yang tertata baik dan bersih.

• Terdapat instrumen saran yang bisa digunakan peserta dan harus ditindaklanjuti oleh petugas tentang kekurangan yang diperlukan.

b. Manajemen ruang makan
Manajemen ruang makan meliputi pengelolaan tempat peserta sarapan, makan siang, makan malam, tempat snack; makanan ringan dan minuman kopi teh dan fresh water dan kuantitas, kualitas, dan variasi makanan dan minuman yang disediakan untuk peserta. Daya tampung ruang makan yang nyaman dan kebersihannya akan membuat rasa puas sebalum peserta makan. Penempatan dan kebersihan meja serta kursi yang digunakan peserta.

Ketepatan Jadwal dan ketersediaan makanan dan minuman akan memberi nilai tambah menuju kepuasan peserta. Perlu disediakan instumen saran perbaikan oleh peserta terhadap makanan dan minuman yang disediakan, perlu diingat tindakan perbaikan segera dan harus dilakukan pengelola diklat.

c. Manajemen ruang kelas
Hambatan yang sering muncul, dan sering menjadi justifikasi untuk mendesain materi pembelajaran keterampilan adalah keterbatasan dana. Ini lah yang perlu disadari para pengelola diklat, bahwa aspek keterampilan yang dikelola seadanya akan menghasilkan peserta didik yang hanya pandai berbicara tanpa mampu berbuat, lahirlah purnawidya yang hanya pantas menjadi sebuah data kuantitas saja sebagai orang yang pernah didiklat. Di lapangan pekerjaan hanya bisa berbicara teori, mengkritisi, menyalahkan namun tidak bisa berbuat secara nyata untuk mengatasi permasalahan yang ada. Pandangan demikian membawa konsekuensi bahwa aspek keterampilan perlu ditangani serius untuk institusi diklat pertanian, karena pertanian adalah berbuat.

Manajemen ruang kelas adalah keseluruhan ruang untuk peserta beraktivitas dalam proses pembelajaran. Secara fisik ruang kelas meliputi:
– Ruang kelas, tempat pembelajaran klasikal yang menekankan pada aspek kognitif
– Ruang praktek, tempat pembelajaran yang menekankan aspek keterampilan, dapat berupa lapangan praktek, laboratorium, unit pengolahan hasil, alat dan mesin yang digunakan, tanaman/ternak objek pembelajaran.

Hal-hal lain yang dapat mengganggu tercapainya kepuasan peserta dalam proses pembelajaran adalah ketersediaan alat dan bahan praktek, alat yang tidak cukup, tidak sesuai spesifikasi, alat yang ketinggalan jaman, bahan yang tidak mencukupi, bahan tidak sesuai dengan teori yang sudah disampaikan, sampai pada objek tanaman/ternak yang tidak tersedia, atau tersedia tetapi tidak sesuai spesifikasi teori yang diberikan widyaiswara.

Manajemen ruang kelas memberikan kontribusi kepuasan peserta yang terbesar dalam sebuah diklat.

4. Kesiapan Insan Balai untuk Mengelola Diklat
a. Membangun Karakter insan Balai
Organisasi (baca: Balai Pelatihan Pertanian) yang mampu tumbuh, berkembang dan bertahan (dalam arti fungsional) harus didukung oleh kuatnya penanaman tata nilai. Tata nilai ini harus melekat, bisa dimplementasikan, dan dijunjung tinggi oleh seluruh pegawai, manajemen, hingga pemangku kepentingan.

Tata nilai organisasi adalah sekumpulan nilai yang dipercayai sebagai kekuatan dalam mengintegrasikan sistem, struktur, proses, dan strategi dalam mencapai tujuan. Tata nilai dapat berupa alat atau tujuan yang secara individu, kelompok, atau secara keseluruhan dijadikan pegangan bersama. Nilai-nilai yang merupakan kepercayaan yang ditetapkan dalam seluruh tatanan kehidupan, menembus batas obyek, manusia, dan situasi.

Soekarno, Presiden RI pertama dibisiki oleh rektornya di Technische Hogeschool saat menerima ijazah dalam acara wisuda, yang dikatakan adalah “Soekarno, ijazah ini suatu saat dapat robek dan hancur, dia tidak abadi. ingatlah yang abadi adalah karakter dari seseorang”.

When wealth is lost, nothing is lost; when health lost, something is lost; when character lost, everything is lost.

Karakter akan menentukan eksistensi dan kemajuan seseorang, akan menentukan juga eksistensi dan kemajuan sekelompok orang, bahkan sebuah bangsa. karena pengalaman bersama maka karakter individu karena pengalaman bersama, akan membentuk karakter kelompok dan karakter bangsa. Sejalan dengan pengertian bangsa oleh Otto Bauer menyakatan, bangsa adalah satu persamaan, satu persatuan karakter, watak, dimana persatuan karakter atau watak ini lahir, tumbuh karena persatuan pengalaman.

Para pengkaji budaya periode tahun 1940-an dan 1950-an memunculkan prasyarat nilai dan etos yang diperlukan bagi kemajuan suatu negara yang terpuruk akibat Perang Dunia II. Nilai dan etos akan memunculkan karakter. Namun, seiring perjalanan waktu, hampir semua negara menganut paham developmentisme, menekankan pada kemajuan material, berhitung kemajuan hanya dengan mengutak atik faktor-faktor produksi. Akhirnya nilai-nilai luhur, etos kerja dan karakter terpinggirkan dalam variabel pembangunan, melahirkan orang berakses yang miskin nilai.

Konsekuensinya adalah bahwa seluruh insan balai pelatihan pertanian (seluruh pegawai balai) harus memiliki karakter yang jelas yang mengarah kepada karakter Bangsa Indonesia. Pegawai balai yang tidak memiliki karakter akan menumbangkan bangunan balai dengan segala tugas pokok dan fungsinya, menjadikan balai hanya sebuah bangunan fisik tanpa memiliki ruh kediklatan, ruh pembelajaran.

Upaya membangun karakter harus didapat oleh seluruh insan balai pelatihan pertanian melalui berbagai kegiatan, yang harus diakomodasi oleh pimpinan balai.

Terminologi pertama bagi pengelola diklat adalah memiliki karakter.

b. Membulatkan Persepsi terhadap Visi dan Misi Balai
Balai Pelatihan Pertanian adalah institusi yang memberika produk berupa jasa kepada konsumennya, yaitu jasa pelatihan kepada para peserta pelatihan. Harus disadari, institusi yang memberikan pelayanan jasa haruslah mempunyai banyak pos-pos costumer service untuk mendengarkan keluhan pelanggan dalam hal ini peserta pelatihan, maka pegawai balai harus memiliki kemampuan mendengar yang baik.

Pegawai yang masih aktif memiliki memori sempurna, belum pikun, yang notabene memiliki kemampuan mendengar yang baik. Kenyataannya kita sering tidak menyadari, bahwa dengan kemampuan mendengar yang sempurna sekalipun, kita kerap tidak menyerap informasi secara keseluruhan. Berkaitan dengan visi dan misi balai, maka kemampuan mendengar visi dan misi haruslah utuh, tidak parsial, sehingga saat mengimplementasikan dalam pekerjaan sehari-hari tidak bias. Manajemen perlu membuat seluruh pegawai mendengar aktif terhadap visi dan misi balai.

Tujuan mendengar aktif terpusat pada siapa yang Anda dengarkan, meskipun di dalam kelompok atau perorangan, dengan tujuan untuk mengerti apa yang ia katakan. Sebagai pendengar, Anda kemudian harus mungkin mengulang kembali dengan kata-kata Anda sendiri apa yang mereka katakan tentang kepuasan mereka. Ini tidak berarti Anda setuju, tetapi cenderung pada, mengerti apa yang mereka katakan.

Seluruh pegawai tidak hanya pernah membaca tetapi juga harus mampu “mendengarkan” apa itu visi dan misi balai. persamaan persepsi terhaap visi dan misi balai akan membuat kesatuan derap langkah pengelola diklat akan sama, sama dalam pemahaman, sama dalam implemetasi, sama dalam evaluasi.

Visi dan misi menunjukan gambaran kemana suatu organisasi akan diarahkan dan hasil apa yang ingin dicapai.

Visi adalah what be believe we can be. Visi merupakan gambaran masa depan mau jadi apa lembaga kita. Menentukan visi berarti menentukan tujuan dan cita-cita yang ingin dicapai.

Misi adalah what be believe we can do. Misi adalah apa yang bisa dilakukan untuk mencapai gambaran masa depan (visi).

Misi merupakan langkah-langkah dan strategi apa untuk mencapai visi. Kadangkala misi perlu dirubah sedemikian rupa apabila visi belum tercapai. Jadi bukan visinya yang dirubah hanya cara-caranya mencapai tujuan yang dirubah. Apabila visi berubah-ubah maka akan terkesan tidak konsisten gambaran masa depan tentang organisasi tersebut.

Visi dan misi harus mampu dipahami benar oleh setiap pegawai balai, termasuk di jajaran paling bawah, tanpa memandang status pegawai negeri atau masih honor. Perlu kegiatan khusus untuk membedah visi dan misi balai yang diikuti unsur pimpinan sampai pegawai terendah, dan hasil pertemuan dijadikan komitmen bersama untuk diimplementasikan dengan standar terukur.

Terciptanya kesamaan cara pandang dan cara kerja seluruh pegawai terhadap visi dan misi akan meningkatkan juga motivasi atau dorongan kerja pegawai, akan muncul dorongan untuk mengatasi tantangan, untuk maju dan berkembang; dorongan untuk berhubungan dengan orang-orang secara efektif; dorongan untuk mencapai hasil kerja dengan kualitas tinggi; dan dorongan untuk mempengaruhi orang-orang dan situasi.

Pendengar yang baik mencoba mengerti melalui apa yang dikatakan orang lain. Pada akhirnya ia boleh secara tajam tidak setuju, tetapi sebelum dia tidak setuju, ia ingin mengetahui apa sebenarnya yang dimaksudkan (Kenneth A. Wells, American).

Visi dan misi balai harus mampu dikomunikasikan secara sederhana dan fokus pada sasaran yang ingin dicapai agar dapat diserap dan dijadikan persepsi yang bulat dan utuh oleh seluruh pegawai balai.

Beberapa pernyataan yang harus mampu diresapi oleh pegawai yang mendengar aktif dari penyampaian visi dan misi, antara lain:

• Apa yang anda pikirkan tentang visi dan misi?
Apakah ini baru atau anda mempunyai banyak pengalaman tentang itu?

Apakah sulit dimengerti atau sederhana?

Apakah penting untuk anda atau hanya suatu lelucon?

• Apakah pembicara berpengalaman atau gelisah? (Kematangan pembicara yang menyampaikan visi dan misi akan memberi dampak kepada pegawai sebagai pendengar)
Apa isyarat yang digunakan pembicara?

Apa kerangka pikirannya?

Bagaimana minat, ancaman, kecerdasan, dan seterusnya, dan seterusnya?

• Apakah pesan diilustrasikan
secara visual atau dengan contoh?

Apakah teknologi digunakan secara efektif (berdaya guna)?

Apakah konsep-konsep dikenalkan secara bertahap, atau dengan contoh?

Apakah ruang cukup mendukung untuk mendengar?

atau untuk berinteraksi atau bertukar pikiran dengan pembicara?

Apakah ada gangguan yang dapat dihindarkan?

Pegawai adalah pusat, pendengar, oleh karena itu pegawai yang mendengarkan penyampaian visi dan misi harus mempersiapkan diri dengan sikap yang positif.

• Konsentrasikan perhatian anda pada subyek.
Berhenti dengan kegiatan yang tidak ada hubungannya sebelum berorientasi dengan diri anda pada pembicara atau topik (pokok persoalan yaitu visi dan misi).

• Pertimbangkan secara mental apa yang anda sudah ketahui tentang visi dan misi balai.
Aturlah berdasarkan pengalaman terdahulu dalam kaitan dengan pengembangan selanjutnya.

• Menghindarkan Gangguan
Tempatkan diri Anda secara tepat dekat dengan pembicara.

Menghindarkan gangguan dari luar.

• Mengakui keadaan suatu emosi
Menangguhkan emosi sampai nanti, atau berpartisipasi secara pasif kecuali kalau anda dapat mengendalikan emosi.

• Kesampingkan prasangka anda, pendapat Anda.
Anda sekarang belajar apa yang dikatakan pembicara , tidak cara lain di sekitar.

• Mendengar secara aktif
? Menjadi arah lain; berkonsentrasi pada komunikasi dengan orang
Ikuti dan pahami pembicara sebagaimana kalau Anda berjalan dengan sepatu mereka.

? Dengar dengan telinga anda tetapi juga dengan mata dan pengertian lain.

? Hati-hati: menjawab secara lisan bagian-bagian di dalam pembicaraan.
Biarkan argumentasi atau presentasi berlangsung sesuai dengan durasi penyampaian.

Jangan Anda menyatakan setuju atau tidak, tetapi mendorong melatih pikiran.

? Melibatkan:
Secara aktif menanggapi mengarahkan pertanyaan

Gunakan posisi tubuh anda (misalnya, bersandar ke depan) dan perhatian pada dorongan dan tanda yang menarik dari pembicara.

Menjadikan pembahasan visi dan misi balai haruslah serius, baik itu jajaran penampai, maupun pegawai sebagai pendengar. Keseriusan pertemuan dalam rangka membahas visi dan misi akan mampu membuat semua persepsi pegawai balai sama, bulat, dan utuh.

“Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself” (Leo Tolstoy).

"If you take of your employees, so your employees will take care of your business" (Jika Anda peduli dengan karyawan Anda, maka karyawan Anda akan peduli dengan target-target Anda )

Terminologi kedua bagi pengelola diklat adalah memiliki kesamaan visi dan misi.

c. Makna Bekerja di Balai Pelatihan Pertanian adalah Melayani
Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang. Dalam pembicaraan sehari-hari istilah ini sering dianggap sinonim dengan profesi. Pekerjaan yang dijalani seseorang dalam kurun waktu yang lama disebut sebagai karier.

Kita pegawai balai pelatihan pertanian adalah bagian dari birokrasi yang sampai saat ini masih dalam perjalanan reformasi. kemampuan menyesuaikan ruh reformasi akan membuat kita lebih memahami eksistensi kita sebagai pegawai balai.

Berkenaan dengan tujuan reformasi birokrasi tersebut salah satunya adalah bagaimana menciptakan aparatur negara “mampu melayani publik”, maka di sini perlu adanya perubahan mind set dan kultural set aparatur dari penguasa menjadi pelayan. Hal ini secara filosofi sangat beralasan karena birokrasi sesungguhnya adalah abdi negara dan abdi masyarakat yang harus melayani dan kondisi ini memang harus dipahami birokrasi. Namun sesungguhnya pemerintah sejak lama telah mengembangkan “konsep pelayanan prima”, yaitu pelayanan yang memuaskan pelanggan/masyarakat atau pelayanan terbaik. Pelayanan prima bukan diminta oleh masyarakat tapi harus diberi oleh birokrasi.

Menyadari hal tersebut tiada pilihan lain bagi seorang birokrasi adalah kembali mengenal jati dirinya sebagai seorang pelayan dan mengenal karakter dirinya dalam birokrasi pemerintahan. Oleh sebab itu tiada berlebihan bila dikatakan bahwa seorang birokrat harus segara memposisikan dirinya bekerja untuk melayani, bukan untuk dilayani.

Catherine Devrye (1994) menulis tentang perilaku hidup yang mengarah ke pelayanan prima harus mengandung unsur-unsur (self esteem harga diri), exceed of expectations (melampaui yang diinginkan), recovery (pembenahan), vision (pandangan ke depan), improve (perbaikan), care (perhatian) dan empowerement (pemberdayaan) (Manajemen Pelayanan Prima untuk Diklat Adum dan Spama oleh Tim LAN, 1998).

Bila kita cermati konsep yang dikemukakan oleh Catherine Devrye tersebut berarti seorang birokrat harus memiliki keinginan untuk berbuat yang terbaik dengan menjaga harga diri, berorientasi kepada kepuasan pelanggan, terus melakukan perbaikan, antusias, semangat responsif, dan selalu mendahului kepentingan masyarakatnya. Oleh sebab itu saat yang tepat bila mind set dan kultural set aparatur yang mengandung kelemahan untuk segera diperbaiki bila selama ini telah menjadi karakter buruk pada dirinya dan menjadi kanker di dalam proses pengabdiannya, agar reformasi birokrasi yang berorientasi pada pelayanan, profesionalisme, integritas, netral, kompeten, berkinerja tinggi dan juga perbaikan dalam tata laksana pemerintahan yang meliputi sistem, proses, prosedur kerja jelas, efektif, efisien, dan terukur dapat diwujudkan.

Bekerja di Balai Pelatihan Pertanian tidak selamanya berada di kantor, terkadang harus ke lapangan yang jaraknya ratusan kilometer, di desa-desa terpencil dengan sarana yang terbatas. Terkadang muncul pertanyaan, apakah kita mencari uang sampai sejauh itu? Apa benar saya sedang mencari uang sampai sejauh itu? Kalau hanya untuk mencari uang, buat apa kita bersusah-susah datang ke pelosok meninggalkan anak dan istri saya berhari-hari di rumah, padahal kita sudah mempunyai gaji tetap sebagai pegawai.

Pertanyaan-pertanyaan itu dapat membuat perasaan tidak nyaman. Apa benar kita bekerja untuk mencari uang?

Kita, pegawai bukannya tidak membutuhkan uang, tetapi kalau uang yang kita cari rasanya tawaran untuk pergi ke pelosok-pelosok ini akan kita tolak. Medannya seringkali cukup berat, waktu yang tersita juga cukup banyak, belum lagi harus meredam perasaan rindu karena berada jauh dari istri dan anak-anak. Tapi kenapa akhirnya kita memilih untuk melakukannya.

Perlu tertanam bahwa misi hidup kita yaitu membantu para penyuluh, pelaku usahatani (petani, peternak, pekebun) dan pelaku usaha, membuat mereka tercerahkan dan termotivasi, membuat mereka lebih sukses dalam pekerjaannya. Singkatnya, kita bekerja untuk melayani.

Bekerja untuk melayani masih terdengar asing bahkan aneh di mata sebagian besar pegawai. Mungkin ada yang berpikir bahwa kalimat ini digunakan untuk menutupi motivasi yang sesungguhnya yaitu mencari uang. Mungkin ada yang menyangka bahwa kalimat ini diperlukan agar pekerjaan lebih berkesan elegan. Bahkan mungkin juga ada yang menuduh kita munafik dengan mengatakan ini. Memangnya ada orang yang bekerja bukan karena mencari uang? Seorang peserta pelatihan bahkan pernah mengajukan pertanyaan langsung kepada saya: “Memangnya Anda mau bekerja kalau tidak dibayar?”

Ini sebuah pertanyaan yang bagus. Apakah saya dibayar oleh klien? Tentu saja itulah yang terjadi, karena kita dibayar karena ada peserta diklat. Kita dibayar karena tugas pokok kita melayani peserta sehingga ada alokasi membayar kita sebagai pegawai, yaitu institusi yang memiliki tanggung jawab atas klien kita (dalam hal ini pengembangan sumberdaya manusia pertanian). Tapi bukankah klien saya juga dibayar oleh kliennya lagi? Dan bukankah kliennya klien saya itu juga dibayar oleh kliennya lagi? Demikian seterusnya. Jadi kalau saya tidak dibayar justru itu aneh dan menyalahi hukum keadilan.

Dibayar sesungguhnya adalah konsekuensi dari pelayanan yang kita berikan. Ia bukanlah tujuan bekerja, ia bukanlah sesuatu yang kita cari, tapi sesuatu yang kita dapatkan. Ia juga bukan satu-satunya yang kita dapatkan karena ada banyak hal lain yang saya dapatkan dengan bekerja yaitu kepuasan batin, perasaan bermakna, perasaan bahagia, perasaan menjadi orang penting, kemajuan dalam intelektualitas dan kompetensi serta mendapatkan persahabatan dan relasi.

Bekerja sesungguhnya memberikan banyak sekali keuntungan kepada kita. Namun di luar dugaan kebanyakan kita, manfaat terbesar yang kita dapatkan dari bekerja sesungguhnya bukanlah dari mendapatkan uang. Keuntungan terbesar dari bekerja justru adalah dari munculnya perasaan berharga, bermakna, berguna bagi orang lain.

Ketika kita bekerja untuk uang maka kita sedang berorientasi kepada diri sendiri. Dan semua kegiatan yang berorientasi pada diri sendiri memang dapat menghasilkan kesenangan dan kenikmatan, tetapi kegiatan tersebut tidak akan menghasilkan perasaan berguna dan bermakna. Dan ketika kita hanya mendapatkan kesenangan dan kenikmatan, rasa bosan akan sering melanda diri kita.

Kesenangan itu hanya bersifat sementara dan tidak langgeng? Hal ini berbeda dari perasaan bermakna yang akan bertahan lebih lama dari diri kita dan senantiasa membakar semangat kita secara terus menerus.

Sesungguhnya ini adalah rahasia di balik penciptaan manusia itu sendiri. Manusia diciptakan Tuhan memang untuk membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi alam semesta ini. Bukankah Tuhan selalu mengatakan bahwa Ia tidaklah menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia? Ini berarti bahwa segala sesuatu yang diciptakan Tuhan termasuk manusia adalah untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi alam semesta ini.

Karena itu ketika kita hidup hanya untuk kesenangan diri kita sendiri maka sesungguhnya kita sedang melawan hukum alam yaitu hukum manfaat. Orang yang melawan hukum alam tidak akan bahagia dan hidupnya jauh dari kepuasan yang sejati. Ia memang bisa menikmati kesenangan dan kenikmatan tetapi karena hidupnya tidak ia abdikan kepada takdirnya maka ia tidak akan pernah merasa cukup. Sesungguhnya jiwa manusia selalu merasa haus dan lapar untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Hanya dengan menjadi bermanfaatlah orang bisa menjadi puas dan bahagia. Orang menjadi puas sesungguhnya karena jiwa mereka sudah menunaikan amanat yang dititipkan Tuhan kepadanya. Orang menjadi puas karena mereka sudah hidup sesuai dengan kodratnya sendiri. Inilah yang jarang kita sadari.

Kita sering kali beranggapan bahwa kepuasan dan kenikmatan yang tertinggi adalah kenikmatan fisik padahal sesungguhnya puncak dari kenikmatan itu adalah kenikmatan spiritual; kebahagiaan spritual.

Kesadaran seperti ini sesungguhnya adalah penemuan yang paling menarik sekaligus yang paling indah. Ketika kita melayani orang lain kita sesungguhnya kita sedang memenuhi kebutuhan kita sendiri, yaitu kebutuhan spiritual. Hanya ketika melayani orang lainlah kita akan beroleh kenikmatan yang sejati yaitu kenikmatan spritual. Inilah rahasianya mengapa orang yang melayani orang lain tidak akan pernah merasa jenuh, bosan dan resah dalam pekerjaannya. Orang yang melayani adalah orang yang bahagia.

Bahagia mempunyai makna kenyamanan dan kenikmatan spiritual dengan sempurna dan rasa kepuasan, serta tidak adanya cacat dalam pikiran sehingga merasa tenang serta damai.

Kebahagiaan merupakan sebongkahan perasaan yang dapat dirasakan berupa perasaan senang, tentram, dan memiliki kedamaian.

Furnham (2008) juga menyatakan bahwa kebahagiaan merupakan bagian dari kesejahteraan, contentment, to do your life satisfaction or equally the absence of psychology distress. Ditambahkan pula bahwa konsep kebahagiaan adalah merupakan sinonim dari kepuasan hidup atau satisfaction with life (Veenhoven, 2000). Diener (2007) juga menyatakan bahwa satisfaction with life merupakan bentuk nyata dari happiness atau kebahagiaan dimana kebahagiaan tersebut merupakan sesuatu yang lebih dari suatu pencapaian tujuan dikarenakan pada kenyataannya kebahagiaan selalu dihubungkan dengan kesehatan yang lebih baik, kreativitas yang lebih tinggi serta tempat kerja yang lebih baik.

Sumner (dalam Veenhoven, 2006) menggambarkan kebahagiaan sebagai “memiliki sejenis sikap positif terhadap kehidupan, dimana sepenuhnya merupakan bentuk dari kepemilikan komponen kognitif dan afektif. Aspek kognitif dari kebahagiaan terdiri dari suatu evaluasi positif terhadap kehidupan, yang diukur baik melalui standard atau harapan, dari segi afektif kebahagiaan terdiri dari apa yang kita sebut secara umum sebagai suatu rasa kesejahteraan (sense of well being), menemukan kekayaan hidup atau menguntungkan atau perasaan puas atau dipenuhi oleh hal-hal tersebut.”

Diener (1985) menyatakan bahwa happiness atau kebahagiaan mempunyai makna yang sama dengan subjective wellbeing dimana subjective wellbeing terbagi atas dua komponen didalamnya. Kedua komponen tersebut adalah komponen afektif dan komponen kognitif.

Dengan demikian, dapat disimpulkan pengertian kebahagiaan adalah perasaan positif yang berasal dari kualitas keseluruhan hidup manusia yang ditandai dengan adanya kesenangan yang dirasakan oleh seorang individu ketika melakukan sesuatu hal yang disenangi di dalam hidupnya dengan tidak adanya perasaan menderita

Sekarang cobalah kita ingat-ingat. Pernahkah kita merasa bosan dalam pekerjaan Anda? Bila kita menjawab ‘Ya’ untuk pertanyaan tadi, cobalah kita telusuri perasaan kita yang terdalam. Bahwa ketika rasa bosan muncul, kita sedang berpikir untuk diri kita sendiri. Kita sedang berpikir mengenai kenikmatan dan keuntungan kita sendiri. Itulah yang membuat kita merasa jenuh dan bosan.

Lain kali kalau perasan bosan itu muncul, cobalah kita merenung dalam-dalam bahwa sesungguhnya kita berada di dunia ini untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Renungkan dan resapilah dalam-dalam. Kita akan merasakan hal yang ajaib.

Seketika itu juga rasa malas, jenuh dan bosan akan pergi jauh-jauh dari diri kita. Kita sedang mengalahkan kejenuhan fisik kita dengan kekuatan spiritual, dan kita akan benar-benar merasakan bahwa kekuatan spiritual itu jauh lebih ampuh, jauh lebih tinggi daripada apapun juga di dunia ini. Hal ini semakin mengukuhkan kenyataan bahwa manusia sesungguhnya bukanlah makhluk fisik melainkan makhluk spiritual.

Keyakinan bahwa sukses menjadi penyebab kebahagiaan (happiness) salah. Penelitian terkini dalam Psikologi Positif membuktikan yang benar adalah sebaliknya, kebahagiaanlah yang menyebabkan kesuksesan (Shawn Achor; The Happiness Advantage, 2010).

Penyebab utama ketidakterlibatan pegawai ini adalah karena mereka tidak bahagia di tempat kerja. Mereka melihat pekerjaan sebagai setumpuk tugas dan kewajiban, bukannya sebagai sesuatu yang mencerahkan, apalagi membahagiakan. Mereka sama sekali tidak menikmati pekerjaan mereka saat ini.

Maka, pekerjaan rumah bagi manajemen balai pelatihan pertanian sesungguhnya adalah bagaimana menciptakan kebahagiaan di tempat kerja. Ini bukannya tanpa masalah karena selama ini sudah tercipta berbagai persepsi yang salah mengenai kebahagiaan. Pertama, kebahagiaan lebih sering dilihat sebagai urusan pribadi, bukan urusan organisasi. Kedua, kebahagiaan dilihat sebagai sebuah konsekuensi dari kesuksesan dan bukan sebagai faktor terpenting untuk mencapai kesuksesan. Ketiga, masih banyak orang yang beranggapan bahwa kebahagiaan hanyalah sesuatu yang akan terjadi dengan sendirinya, dan bukan merupakan sebuah ilmu (science).



Apapun yang dikerjakan dengan sepenuh hati, keseriusan, fokus dan totalitas akan menghasilkan kualitas prima. Kesuksesan selalu diraih oleh mereka yang bekerja dengan segenap hatinya.

Terminologi ketiga pengelola diklat adalah bekerja itu melayani.

REFERENSI
- Anonim, 1998. Manajemen Pelayanan Prima untuk Diklat Adum dan Spama oleh Tim LAN
- Arvan Pradianysah, 2011. Melayani sebagai kebutuhan tersembunyi. Artikel Bisnis Indonesia (www.bisnis.com). http://swa.co.id/column/kebahagiaan-tren-terkini-dalam-hr
- Flippo B. Edwin, (1995), Manajemen Personalia Edisi ke enam jilid I, Penerbit Erlangga Jakarta
- http://zoeldhan-informatika.blogspot.com/2011/11/pengertian-kepuasan-kerja-faktor-faktor.html
- http://thesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2011-2-00009-PL%202.pdf
- Hasibuan, Melayu SP, 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Revisi : Bumi Aksara
- Keith, Davis, Jhon W. Newstrom, 1995. Perilaku Dalam Organisasi, Edisi Ketujuh, Erlangga, Jakarta.
- Robbins, Stephans. 1994. Organization Theory, Structure, Design and Application, Alih Bahasa Yusuf Udara, Arean, Jakarta.
- Robbins, Stephans. 1996, Organization Bahaviour, Seventh Edition, A Simon & Schuster Company, Englewood Cliffs, New Jersey 07632.

Jambi, 27 Agustus 2013--Lindung

Publisher: Khasril

Halaman Sebelumnya

INFORMASI PENGUNJUNG :


Browser : CCBot/2.0 (https://commoncrawl.org/faq/)

Anda adalah pengunjung kami yang ke : 531291

Statistik Pengunjung Web 6 Bulan Terakhir

8094
6841
12134
7152
11613
5587

05-2018

06-2018

07-2018

08-2018

09-2018

10-2018