Peta Utama
Peta SD Negeri
Peta SMP Negeri
Peta SMA Negeri
Your result will display here
 
 BERANDA |  ARTIKEL/ PUBLIKASI |  GALLERY |  BUKU TAMU |  HUBUNGI KAMI     

Beranda

Profil

Jadwal Kegiatan

Tautan Website

Sistem Informasi SDM

Sistem Informasi Diklat

Sistem Informasi Kelembagaan

Informasi Publik BPP Jambi

Denah Balai Pelatihan Pertanian Jambi

RTL Pelatihan

  PENCARIAN DATA :

MUTIARA HIKMAH :

"Dari Pada Mengutuki Kegelapan, Lebih Baik Ambil Sebatang Lilin dan Nyalakan”
(Pepatah Tiongkok)

Bagaimanakah Pendapat Anda Tentang Website ini?

 Baik Sekali
             1%
 Baik
             98%
 Cukup
             0%

Bagaimana pelayanan BPP Jambi

 Sangat Baik
             71%
 Baik
             22%
 Cukup
             7%

 
User ID :
Password :
 

APLIKASI INSTRUMEN IDENTIFIKASI FAKTOR PENENTU (IMPACT POINT) ASPEK TEKNIS UNTUK PENYUSUNAN PROGRAMA PENYULUHAN PERTANIAN

Oleh Ir. Lindung, MP. Widyaiswara BPP Jambi


I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Programa penyuluhan pertanian adalah pernyataan tertulis tentang unsur-unsur keadaan, masalah, tujuan, dan rencana kegiatan untuk mencapai tujuan penyuluhan. penetapan unsur-unsur harus sekuen, oleh karena itu penetapan unsur keadaan haruslah benar, akurat, dan faktual, karena kesalahan penetapan keadaan akan memberi konsekuensi kesalahan penyusunan rumusan unsur-unsur lainnya. Penetapan unsur keadaan yang valid dapat dilakukan dengan aplikasi faktor penentu (impact point).
Instrumen faktor penentu adalah suatu instrumen yang hasil akhirnya berupa rumusan kesimpulan, yang diawali proses penetapan unsur teknologi, alternatif penerapan unsur tersebut, skoring, sampling, dan analisis. pada dasarnya instrumen faktor penentu adalah untuk menjaring keadaan penerapan teknologi yang dilakukan petani, dimana unsur penerapan teknologi yang paling kecil, yang merupakan faktor penentu keberhasilan.

1.2. Tujuan
Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi sekaligus cara kerja penggunaan atau apliksi instrumen identifikasi faktor penentu teknis sebagai bahan informasi dan data untuk menyusun unsur keadaan dalam programa penyuluhan pertanian.

II. APLIKASI INSTRUMEN FAKTOR PENENTU TEKNIS

Tahapan identifikasi impact point teknis adalah sebagai berikut:
1. Penyusunan instrumen untuk menilai tingkat penerapan teknologi (TPT)
2. Penetapan sampel petani responden
3. Pengumpulan data
4. Pengolahan data
5. Penarikan kesimpulan

TAHAPAN 1: PENYUSUNAN INSTRUMEN UNTUK MENILAI TINGKAT PENERAPAN TEKNOLOGI (TPT)
Oleh Ir. Lindung, MP. Widyaiswara BPP Jambi

1. Instrumen untuk menilai TPT berisi seluruh anjuran dalam rangka penerapan inovasi, misalnya Inovasi Sapta Usaha Semangka.

2. Langkah pertama adalah membuat semua hal yang akan dievaluasi

3. Maka hal-hal yang dievaluasi yang harus ada dalam instrumen tersebut, yaitu semua anjuran dalam rangka penerapan inovasi sapta usaha semangka, yaitu yang menyangkut:

I. Usaha I: Benih Unggul, adalah:
1. Varietas yang ditanam
2. Asal benih yang ditanam
3. Jumlah benih yang ditanam

II. Usaha II: Bercocok tanam, adalah:
1. Pembuatan pesemaian
2. Pengolahan tanah
3. Pengapuran
4. Ukuran bedengan untuk jantan dan betina
5. Pembuatan parit penampung air
6. Pemagaran keliling
7. Pengaturan letak bedengan untuk jantan dan betina
8. Ukuran jarak tanam
9. Jumlah benih per lobang
10. Penyulaman
11. Pemberian jerami
12. Umur bibit saat tanam
13. Saat tanam
14. Penyiangan
15. Saat mengawinkan
16. Cara mengawinkan
17. Pemangkasan
18. Pergiliran tanaman

III. Usaha III: Pemupukan
1. Dosis pemupukan
2. Waktu pemupukan
3. Cara pemupukan
4. Pemberian pupuk organik

IV. Usaha IV: Pengairan
1. Penyiraman setelah ujan gerimis
2. Pemberian air saat musim kemarau
3. Waktu penyiraman
4. Waktu pengeringan


V. Usaha V: Pengendalian hama dan penyakit
1. Frekuensi pengendalian
2. Dosis yang digunakan
3. Konsentrasi larutan
4. Penggunaan alat
5. Penggunaan larutan sistemik
6. Cara menyemprot
7. Saat menyemprot
8. Jenis pestisida yang digunakan
9. Pengamatan mingguan

VI. Usaha VI: Panen
1. Saat memanen
2. Cara memanen
3. Pemberian alas setelah memetik

VII. Usaha VII: Pemasaran
1. Sistem penjualan
2. Cara mengangkut hasil
3. penjualan hasil

4. Karena jumlah impact pont yang dihasilkan minimal 4 (empat), maka jumlah anjuran yang akan dievaluasi minmal 32 (tiga puluh dua) untuk tiap inovasi.



5. Setelah menjabarkan semua hal yang akan dievaluasi, maka langkah kedua adalah menyusun alternatif-alternatif dari setiap hal yang dievaluasi yang mungkin terjadi di lapangan.

6. Alternatif-alternatif yang mungkin terjadi di lapangan dari hal yang dievaluasi adalah:

1. Varietas yang ditanam

a. Varietas unggul non biji dengan varietas unggul lokal
b. Varietas unggul non biji dengan varietas lokal
c. Varietas unggul non biji dengan varietas unggul non biji

2. Asal benih yang ditanam

a. Keduanya dari pedagang benih
b. Dari pedagang benih dan benih sendiri

3. Jumlah benih yang ditanam

a. Sesuai dengan rekomendasi
b. Lebih dari rekomendasi
c. Kurang dari rekomendasi

7. Demikian seterusnya. Untuk setiap hal yang akan dievaluasi dicari alternatif-alternatif yang mungkin terjadi di lapangan

8. Ingat: alternatif a adalah rekomendasi, dan alternatif lainnya adalah alternatif yang di luar rekomendasi



9. Setelah semua alternatif ditemukan, kemudian dibuat skoringnya. Langkah ketiga adalah membuat skoring.

10. Syarat skor:
1. Bilangan Bulat (tidak bilangan pecahan)
2. Sekecil mungkin

11. Dalam membuat skor, pertama kali ditetapkan BOBOT KONTRIBUSI dari setiap “unsur teknologi yang akan diterapkan”, kemudian menetapkan Bobot Kontribusi dari setiap “anjuran dalam unsur teknologi tertentu”.

12. Contoh 1: Menetapkan bobot kontribusi unsur teknologi yang akan diterapkan.

INOVASI SAPTA USAHA SEMANGKA

I. Benih unggul = 10%
II. Bercocok tanam = 30%
III. Pemupukan = 12%
IV. Pengairan = 10%
V. Pengendalian hama dan penyakit = 24%
VI. Panen = 10%
VII. Pemasaran = 4%

Jumlah = 100%

13. Contoh 2: Menetapkan bobot kontribusi anjuran dalam setiap unsur teknologi yang akan diterapkan.

I. Benih Unggul

1. Varietas yang ditanam = 50%
2. Asal benih yang ditanam = 30%
3. Jumlah benih yang ditanam = 20%

Jumlah = 100%

14. Setelah bobot kontribusi semua unsur teknologi yang akan diterapkan dan semua anjuran dalam setiap unsur teknologi yang akan diterapkan dapat ditemukan, langkah berikutnya adalah Pemberian skor.

15. Pertama kali ditetapkan “skor coba-coba”. Kemudian dari skor coba-coba tersebut dicari skor” unsur teknologi yang akan diterapkan” dan skor “anjuran dalam setiap unsur teknologi yang akan diterapkan”, dan akhirnya skor “alternatif jawaban.

16. Jika nanti mendapatkan skor pecahan, maka skor coba-coba tersebut perlu dilipatkan agar agar semua skor menjadi skor yang bulat.

17. Sebaliknya, bila dari skor coba-coba tersebut terdapat skor yang masih bisa diperkecil dengan membagi bilangan tertentu, maka semua skor dibagi dengan bilangan yang sama agar menjadi skor yang tekecil.

18. Contoh 1: Skor coba-coba = 500

19. Contoh 2: Penentuan skor “unsur teknologi yang akan diterapkan” dari skor coba-coba = 500
I. Benih unggul = 50
II. Bercocok tanam = 150
III. Pemupukan = 60
IV. Pengairan = 50
V. Pengendalian hama dan penyakit = 120
VI. Panen = 50
VII. Pemasaran = 20
Jumlah = 500

20. Contoh 3: Penentuan skor “anjuran dalam setiap unsur teknologi yang akan diterapkan”
I. Benih Unggul
1. Varietas yang ditanam = 25
2. Asal benih yang ditanam = 15
3. Jumlah benih yang ditanam = 10
Jumlah = 50

21. Contoh 4: Penentuan skor “alternatif jawaban”

I. Benih Unggul (50)
1. Varietas yang ditanam
a. Varietas unggul non biji dengan varietas unggul lokal = 25
b. Varietas unggul non biji dengan varietas lokal = 20
c. Varietas unggul non biji dengan varietas unggul non biji = 10


22. Dari contoh 2, skor unsur teknologi yang akan diterapkan dicari dari % bobot kontribusi dikalikan skor coba-coba. Misalnya Benih unggul = 10% x 500 = 50

23. Dari contoh 3, skor anjuran dalam setiap unsur teknologi yang akan diterapkan dicari dari % bobot kontribusi dikalikan skor unsur teknologi. Misalnya Varietas yang ditanam = 50% x 50 = 25

24. Dari contoh 4, skor alternatif jawaban dicari dari skor anjuran. Alternatif jawaban a yaitu rekomendasi diberikan skor yang sama dengan skor anjuran.

Misalnya
Varietas yang ditanam
a. Varietas unggul non biji dengan varietas unggul lokal = 25
Biasanya skor alternatif a (skor 25) ini diberikan garis bawah

25. Alternatif jawaban lainnya, yaitu b atau c atau d diberikan skor di bawah skor alternatif a yang besarnya menurut hasil pertimbangan penyusun instrumen.

26. Kalau alternatif tersebut sama sekali tidak boleh dilakukan maka diberi skor = 0 (nol), tetapi kalau masih bisa ditolerir 50% maka skornya diberi 0,5. Ini adalah JUDGING, oleh karena itu penyusun instrumen dianjurkan menguasai teknologi yang dievaluasi.

27. Setelah skoring selesai maka unsur teknologi yang akan diterapkan, anjuran setiap unsur, alternatif jawaban, dan skor disusun dalam bentuk instrumen untuk menilai TPT seperti contoh yang ditampilkan di bawah.


TINGKAT PENERAPAN TEKNOLOGI BUDIDAYA DAN PEMASARAN SEMANGKA









PENILAIAN TINGKAT PENERAPAN PANCAUSAHATANI KEDELE









TAHAPAN 2 : PENETAPAN SAMPEL PETANI RESPONDEN

o. Pengumpulan data untuk identifikasi impact point teknis tidak dapat dilakukan secara sensus, artinya tidak dapat dilakukan terhadap seluruh petani di wilayah kerja penyuluhan tersebut. Hal ini mengingat tidak cukup tersedianya biaya, waktu, maupun tenaga. Untuk itu perlu dilakukan penarikan sampel.

o. Penetapan sampel petani responden tersebut dilakukan dengan cara sebagai berikut:

- Mengundi 3 kelompoktani dari seluruh kelompoktani yang ada dalam wilayah kerja penyuluhan pertanian

- Dari setiap kelompoktani terpilih diambil sampel petani sebagai responden yang terdiri dari 1 orang kontak tani, 2 orang petani maju, dan 5 orang petani pengikut.

o. Jadi setiap kelompoktani yang terpilih, ketua kelompoknya akan menjadi petani responden. Maka jumlah seluruh petani responden adalah sebanyak 24 orang (ada 3 kelompoktani, setiap kelompok 8 petani responden).





o. Setelah penetapan sampel petani responden selesai dilakukan, maka tahapan berikut adalah pengumpulan data.


TAHAPAN 3: PENGUMPULAN DATA

o. Pengumpulan dilakukan terhadap 24 petani responden.

o. Metode pengumpulan data adalah

- Metode wawancara
- Metode observasi

o. Pertama dilakukan adalah wawancara satu per satu. Setelah selesai satu orang wawancara, maka diikuti dengan observasi ke lahan usahatani responden tersebut.

o. Data yang dikumpulkan selain instrumen penilaian TPT, juga dikumpulkan data tentang

- Luas garapan

- Luas garapan potensial untuk pengembangan teknologi yang akan diterapkan di wilayah kerja penyuluhan pertanian tersebut

- Tambahan biaya (input) yang harus dikeluarkan petani apabila diadakan perubahan alternatif yang dilakukan petani ke rekomendasi yang dianjurkan.



o. Setelah pengumpulan data selesai kemudian disusul dengan pengolahan data.


TAHAPAN 4: PENGOLAHAN DATA

Data yang terkumpul diolah dalam bentuk tabulasi

Contoh :

Tabulasi Data Impact Point Teknis




o. Setelah tabulasi selesai, maka untuk setiap anjuran yang ada dalam setiap unsur teknologi yang diterapkan dihitung:

a. Luas cakupan

b. % TPT

c. Tambahan biaya (rata-rata)


ad a. Menghitung luas cakupan


Luas cakupan dicari dengan rumus:



Contoh:

Anjuran I.1: varietas unggul

Σ Luas garapan responden yang memiliki skor di bawah maksimum = 5,00 hektar

Σ Luas garapan responden = 15,00 hektar

Luas areal potensial = 300,00 hektar




ad b.Menghitung % TPT

% TPT dihitung dengan rumus:



Contoh:

Anjuran I.1 : varietas unggul

Responden yang memiliki skor maksimum (25) = 8 orang

Responden yang memiliki skor (20) = 10 orang

Responden yang memiliki skor (10) = 6 orang




ad c. Menghitung tambahan biaya

Biaya yang dihitung adalah tambahan biaya rata-rata yang harus dikeluarkan oleh petani yang akan melaksanakan anjuran tersebut, apabila mereka akan merubah kebiasaan yang mereka lakukan menjadi kegiatan yang dianjurkan. Dengan kata lain, merubah dari kegiatan alternatif ke kegiatan anjuran.

Contoh 1: Varietas unggul kedelai

Anjuran : varietas unggul galunggung, Wilis, dll

Alternatif: unggul lokal

Ketentuan benih per hektar

Varietas unggul = 10 kg x Rp 2.000 = Rp 20.000

Unggul lokal = 15 kg x Rp 1.000 = Rp 15.000

Tambhan biaya = Rp 20.000 – Rp Rp 15.000 = Rp 5.000


Contoh 2: Asal benih

Anjuran : dari dinas

Alternatif: dari pedagang atau dari petani

Merubah asal benih tidak membutuhkan tambahan biaya, maka tambahan biyanya adalah Rp 0

o. Setelah menghitung luas cakupan, % TPT, dan tambahan biaya maka hasil perhitungan tersebut lalu dimasukkan dalam Daftar Rekapitulasi Perhitungan Identifikasi Impact Point Teknis. Tentunya yang masuk daftar adalah % TPT yang di bawah 100%, atau anjuran yang perlu dipilih menjadi impact point.


Daftar Rekapitulasi Perhitungan Identifikasi Impact Point Teknis .......



Daftar Rekapitulasi Perhitungan Identifikasi Impact Point Teknis Semangka



o. Setelah daftar rekapitulai dibuat, maka tahapan terakhir identifikasi impact point teknis adalah penarikan kesimpulan atau pemetaan impact point.



TAHAPAN 5: PENARIKAN KESIMPULAN

o. Impact point adalah anjuran yang belum diterapkapkan, tetapi tidak semua anjuran yang belum diterapkan menjadi impact point.

o. Impact point adalah anjuran yang belum diterapkan atau skornya di bawah maksimal atau % TPTnya di bawah 100% yang disaring dengan cara:

a. Saringan I adalah besarnya luas cakupan

b. Saringan II adalah besarnya % TPT

c. Saringan IIII adalah tambahan biaya

ad a. Saringan I

Dari semua anjuran yang akan diterapkan dipilih 50% berdasarkan urutan luas cakupan yang terbesar. Apabila hasilnya pecahan maka dibulatkan ke atas

Contoh :

Ada 16 anjuran yang akan diterapkan yang berada dalam contoh daftar rekapitulasi perhitungan identifikasi impact point penerapan sapta usaha semangka

Dari 16 anjuran akan dipilih 50%, berari 50% x 16 = 8, yang terpilih adalah:

1. Pengolahan tanah (luas cakupan 200 ha)

2. Pembuatan parit penampung air (180 ha)

3. Ukuran bedengan untuk jantan dan betina (175 ha)

4. Pembuatan pesemaian (160 ha)

5. Waktu penyiraman (150 ha)

6. Jumlah benih yang ditanam (150 ha)

7. Waktu pemupukan (140 ha)

8. Pengamatan mingguan (135 ha)


Apabila 17 anjuran yang belum diterapkan, maka yang dipilih adalah 50% x 17 = 8,5.
Angka 8,5 tersebut dibulatkan menjadi 9.


ad b. Saringan II

Dari hasil saringan I lalu dipilih 50% berdasarkan % TPT yang terkecil, jika terjadi angka pecahan maka dibulatkan ke atas.

Contoh :

Delapan (8) anjuran yang belum diterapkan hasil pilihan saringan I, akan dipilih 50% yaitu 50% x 8 = 4, dan yang terpilih adalah:

1. Jumlah benih yang ditanam (TPT 20%)


2. Ukuran bedengan untuk jantan dan betina ( TPT 20%

3. Pembuatan pesemaian (TPT 30%)

4. Pengolahan tanah (TPT 45%)


ad c. Saringan III

Dari hasil saringan II lalu dipilih 50% berdasarkan urutan tambahan biaya terkecil. Hasilnya adalah impact point, jika terjadi angka pecahan maka dibulatkan ke atas.

Contoh :

Empat (4) anjuran yang belum diterapkan hasil pilihan saringan II, akan dipilih 50% yaitu 50% x 4 = 2, dan yang terpilih adalah:

1. Jumlah benih yang ditanam

2. Ukuran bedengan untuk jantan dan betina

o. Kedua anjuran tersebut merupakan prioritas anjuran yang akan dijadikan rumusan masalah dan dimasukkan dalam programa penyuluhan pertanian.

o. Untuk 1 programa diharapkan minimal ada 4 impact point teknis, oleh karna itu anjuran yang akan diterapkan diharapkan minimal 32 buah, dimana

o. Dari saringan I akan dihasilkan 16 buah

o. Dari saringan II akan dihasilkan 8 buah

o. Dari saringan III akan dihasilkan 4 buah




Sumber utama: Padmowihardjo, Soedijanto. Program Penyuluhan Pertanian. Universitas Terbuka, 1996.



Jambi, 24 Februari 2014

Halaman Sebelumnya

INFORMASI PENGUNJUNG :


Browser : CCBot/2.0 (https://commoncrawl.org/faq/)

Anda adalah pengunjung kami yang ke : 548174

Statistik Pengunjung Web 6 Bulan Terakhir

12134
7152
11613
8736
9763
3952

07-2018

08-2018

09-2018

10-2018

11-2018

12-2018