Peta Utama
Peta SD Negeri
Peta SMP Negeri
Peta SMA Negeri
Your result will display here
 
 BERANDA |  ARTIKEL/ PUBLIKASI |  GALLERY |  BUKU TAMU |  HUBUNGI KAMI     

Beranda

Profil

Jadwal Kegiatan

Tautan Website

Sistem Informasi SDM

Sistem Informasi Diklat

Sistem Informasi Kelembagaan

Informasi Publik BPP Jambi

Denah Balai Pelatihan Pertanian Jambi

RTL Pelatihan

  PENCARIAN DATA :

MUTIARA HIKMAH :

"Dari Pada Mengutuki Kegelapan, Lebih Baik Ambil Sebatang Lilin dan Nyalakan”
(Pepatah Tiongkok)

Bagaimanakah Pendapat Anda Tentang Website ini?

 Baik Sekali
             59%
 Baik
             18%
 Cukup
             22%

Bagaimana pelayanan BPP Jambi

 Sangat Baik
             70%
 Baik
             26%
 Cukup
             4%

 
User ID :
Password :
 

LIVE CHAT

Pengelola Web Yahoo Messenger

ARTIKEL/ PUBLIKASI

Layanan ini disediakan dalam rangka penyebarluasan informasi kepada masyarakat umum. Data yang tersimpan dalam modul ini adalah data-data yang bersifat umum (bukan rahasia). Kami sangat menghargai jika kutipan yang Anda ambi dari artikel yang kami publikasikan ini Anda tidak lupa mencantumkan sumbernya www.bppjambi.info, dan Kami tidak bertanggungjawab atas segala bentuk penyalah gunaan yang timbul dikemudian hari.


TEKNIK SELEKSI BIJI PEPAYA

Oleh :
Elly Sarnis Pukesmawati, SP., MP

Untuk mendapatkan benih (biji) pepaya yang baik, yaitu yang memiliki kadar kemurnian benih cukup tinggi, harus dilakukan pemilihan atau seleksi . Buah pepaya yang akan diambil bijinya untuk bakal benih harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
A. Pemilihan Buah
Buah pepaya yang akan digunakan untuk keperluan perbanyakan (diambil bijinya sebagai benih) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1) Berasal dari pohon induk yang jelas(pohon sempurna)
2) Berasal dari varietas unggul.
3) Buah masak di pohon. Buah yang masak karena dikarbit tidak baik untuk digunakan sebagai benih.
4) Berasal dari tanaman yang bebas dari serangan hama dan penyakit.
Buah pepaya yang berasal dari tanaman sakit atau matangnya akibat pemeraman, tidak dianjurkan untuk diambil bijinya sebagai benih, karena akan menghasilkan turunan yang kurang baik.
5) Bentuk buah normal, tidak cacat ataupun rusak
6) Sebaiknya dipilih buah pepaya yang berbentuk bulat, panjang, dan besar atau yang berbentuk lonjong karena memiliki daging buah yang tebal dan termasuk paling digemari konsumen.
Menurut hasil penelitian, buah pepaya yang berbentuk lonjong ± 1/3 bagian dari pangkal buah harus dibuang, karena memiliki kemungkinan akan menghasilkan pohon betina (1/2) dan pohon sempurna (1/2). Bagian yang tersisa (2/3 bagian) akan menghasilkan pohon betina (1/3) dan pohon sempurna (2/3). Buah pepaya yang berbentuk bulat kemungkinan besar akan menghasilkan pohon jantan dengan persentase yang tinggi.
Download Selengkapnya

Tanggal Upload : 28-09-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 261 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


Pengolahan Lada

Oleh : Puji Lestari, S.TP (Widyaiswara Pertama)

I. PENDAHULUAN
Lada memiliki nama latin Piper nigrum dan merupakan family Piperaceae. Lada disebut juga sebagai raja dalam kelompok rempah (King of Spices), karena merupakan komoditas yang paling banyak diperdagangkan. Daerah yang merupakan sentra produksi lada di Indonesia adalah Bangka dan Lampung dan pada beberapa tahun terakhir ini telah dikembangkan secara intensif di Kalimantan Timur dan Sulawesi Tenggara.
Kondisi perkebunan lada Indonesia saat ini sekitar 11,50% dari seluruh luas komoditi perkebunan dengan kemampuan modal yang lemah. Dampak dari kondisi tersebut mengakibatkan perkembangan teknologi ditingkat petani untuk perbaikan mutu, budidaya/pengembangan tanaman sangat lambat dan tidak mengalami perubahan.
Nilai ekonomis dari tanaman lada atau merica sebenarnnya cukup tinggi. Karena lada atau merica akan selalu dibutuhkan oleh semua orang sampai kapanpun. Maka budidaya merica akan punya banyak manfaat baik untuk pribadi maupun pasaran. Tanaman lada mulai berproduksi pada umur 3-4 tahun dan dapat diproduksi sampai berumur 15 tahun atau lebih. Buah lada pada mulanya berwarna hijau muda, kemudian berubah menjadi hijau tua, dan bila sudah tua berwarna kuning atau kemerah merahan.
Potensi lada sangat besar di kalangan masyarakat namun sayangnya industri hilirnya terbatas sehingga pengolahannya perlu lebih dikembangkan lagi di masa mendatang agar dapat meningkatkan perekonomian daerah dan memberikan efek pemberdayaan ekonomi bagi petani lada. Pengolahan buah lada sangat penting untuk memenuhi standar mutu yang berlaku sehingga menjadi sumber daya lokal dan alternatif dalam peningkatan ekonomi berbasis kerakyatan.

Tanggal Upload : 28-09-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 314 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


Bahan Tambahan Makanan

Oleh : Puji Lestari, S.TP (Widyaiswara Pertama)

I. PENDAHULUAN
Bahan tambahan makanan (BTM) menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No 722/Menkes/Per/IX/88 adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan bukan merupakan ingredient khas makanan, dan tidak mempunyai nilai gizi, yang sengeja ditambahkan dan dicampurkan sewaktu pengolahan pangan untuk menghasilkan komponen atau mempengaruhi sifat khas dan meningkatkan mutu makanan tersebut. Termasuk didalamnya antioksidan, pengawet, pengelmusi, anti kempal, Pematang, pemucat dan pengental. Bahan tambahan makanan adalah bahan yang secara alamiah bukan merupakan bagian dari bahan makanan, tetapi terdapat dalam makanan tersebut karena perlakukan saat pengolahan, penyimpanan atau pengemasan. Dengan kata lain bahwa tujuan adalah memperbaiki penampakan, warna, bentuk, cita rasa, tekstur, flovour dan memperpanjang masa simpan.
Penggunaan bahan tambahan makanan diperbolehkan untuk tujuan mempertahankan nilai gizi makanan dan mempertahankan mutu kestabilan makanan serta memperbaiki sifat-sifat organoleptik sehingga tidak menyimpang dari sifat alaminya. Bahan tambahan yang tidak boleh dipergunakan untuk tujuan menyembunyikan cara pembuatan atau pengolahan yang kurang baik pada suatu makanan yang dibuat dari bahan yang kurang baik mutunya

Tanggal Upload : 28-09-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 301 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


TEKNOLOGI PEMBUATAN PUREE MANGGA

Oleh: Masnun, S.Pt., M.Si., BPP Jambi
Mangga merupakan komoditas buah yang mudah rusak dan tidak tahan lama, untuk itu buah .... (baca selanjutnya)

Tanggal Upload : 25-09-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 676 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


TEKNOLOGI PEMBUATAN DODOL DARI BUAH NAGA

Oleh: Masnun
BPP Jambi

Buah naga merupakan tanaman kaktus dari famili Cactaceae dengan subfamily Cactoidea, yang terdiri dari buah naga daging putih (Hylocereus undatus), buah naga daging merah (Hylocereus polyrhizus), buah naga daging super merah (Hylocereus costaricensis) dan buah naga kulit kuning daging putih (Selenicerius megalanthus). Buah naga memiliki rasa ...... (baca selengkapnya di download)

Tanggal Upload : 22-09-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 641 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


TEKNOLOGI PEMBUATAN BIOBRIKET DARI LIMBAH BAGLOG

Oleh: Masnun, S.Pt., M.Si.
Widyaiswara Madya


I. PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Energi mempunyai peranan yan sangat penting dalam kehidupan manusia, karena setiap aktivitas manusia didukung oleh energi. (baca selengkapnya......)

Tanggal Upload : 09-09-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 381 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


KONSERVASI TANAH DAN AIR DI LAHAN KERING

Oleh: Binsar Simatupang, SP, MP/Widyaiswara Muda BPP Jambi

Konservasi tanah dan air dilahan kering merupakan upaya meningkatkan fungsi lahan untuk berproduksi secara lestari, sehingga potensinya dapat dioptimalkan sebagai sumber pendapatan keluarga tani di pedesaan. Lahan kering marginal yang berstatus kritis dicirikan oleh solum tanah yang dangkal, kemiringan lereng curam, tingkat erosi telah lanjut, kandungan bahan organik sangat rendah, serta banyak singkapan batuan di permukaan.
Kerusakan tanah atau menurunnya kualitas tanah dan air disebabkan dua faktor utama yakni faktor alamiah yang terdiri dari iklim, bentuk permukaan tanah atau topografi, arah lereng, keseragaman lereng, konfigurasi lereng, vegetasi dan tanah. Faktor ke dua adalah ulah manusia seperti penggundulan hutan, bercocok tanam dengan melakukan pengolahan lahan tidak sesuai teknik-teknik konservasi, pencemaran lingkungan akibat sampah yang mengandung racun atau bahan kimia yang mencemarkan tanah dan air, penggunan pupuk yang tidak seimbang dan pembakaran hutan.
Dalam upaya mengatasi degradasi tanah dan air untuk memperoleh lahan yang ideal dalam usaha pertanian, maka tindakan yang harus ditempuh dengan cara vegetatip dan cara mekanis. Cara vegetatif adalah dengan tanaman konservasi, penggunaan sisa-sisa tanaman (seresah/mulsa), penanaman menurut kontur seperti budidaya lorong. Sedangkan cara mekanis dapat dilakukan dengan pengolahan tanah minimum, pengolahan tanah menurut kontur (memotong lereng), pembuatan guludan, teras dan saluran (pembuangan) air dengan memanfaatkan alat sederhana bingkai A yang digunakan untuk membuat garis kontur.

Tanggal Upload : 31-08-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 3324 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


PEMANFAATAN SERANGGA PENYERBUK KELAPA SAWIT (Elaeidobius kamerunicus) DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KELAPA SAWIT

Oleh: Binsar Simatupang, SP, MP/Widyaiswara Muda BPP Jambi

Pemanfaatan serangga penyerbuk kelapa sawit Elaeidobius kamerunicus pada akhir-akhir ini semakin berkembang sejalan dengan timbulnya kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan biodiversity.
Elaeidobius kamerunicus adalah kumbang moncong yang termasuk ordo coleoptera, family curculionidae, dan sub family delominae. Siklus hidup hanya 21 hari yang betina dan 24 hari yang jantan. Dengan metamorfosis yang sempurna yaitu dari telur 3 hari menetas menjadi larva dengan 3 instar. Instar I berumur 2 hari, instar II berumur 2 hari dan menjadi instar III sampai umur 9 hari. Setelah Instar ke III kemudian menjadi kepompong dengan masa 6 hari lalu manjadi kumbang.
Manfaat serangga Elaeidobius kamerunicus adalah membantu penyerbukan kelapa sawit sehingga meningkatkan produksi tandan buah dimana kelapa sawit merupakan tanaman yang buah jantan dan betinanya terpisah, waktu anthesis kedua jenis bunga tersebut jarang bersamaan dalam satu pohon, maka dalam penyerbukan memerlukan perantara yang mampu memindahkan serbuk sari dari bunga jantan ke bunga betina yang sedang anthesis.
Berkaitan dengan pentingnya peranan serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus sebagai polinator alami diperlukan dalam meningkatkan produktivitas sawit, sehingga populasi dan efektivitasnya perlu dijaga, dipertahankan serta ditingkatkan optimalisasi pemanfaatannya untuk menunjang produktivitas kelapa sawit.

Tanggal Upload : 31-08-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 5372 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


PEMANFAATAN BURUNG HANTU (Tyto alba) SEBAGAI PREDATOR TIKUS

Oleh: Binsar Simatupang, SP, MP/Widyaiswara Muda BPP Jambi


Pemanfaatan Burung hantu (Tyto alba) sebagai predator tikus merupakan salah satu model pengendalian hama secara hayati yang mengikuti prinsip pengendalian hama terpadu. Tikus sawah (Rattus rattus argentiventer) merupakan hama yang dapat menimbulkan kerugian bagi tanaman pertanian, yang dapat menyerang tanaman padi, jagung, kedelai, kacang tanah dan ubi-ubian. Perkembangbiakan tikus sangat cepat, sehingga perlu dikendalikan dengan mengikuti konsep PHT.

Burung hantu (Tyto alba) merupakan salah satu predator yang potensial karena spesies ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan spesies lain yaitu ukuran tubuh yang relatif lebih besar, memiliki kemampuan membunuh dan memangsa tikus cukup baik, mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan cepat berkembang biak.

Untuk memaksimalkan pemanfaatan Burung hantu (Tyto alba) sebagai predator tikus perlu memahami peranan burung hantu dalam ekosistem pertanian, biologi dan ekologi dimana burung hantu berkembang dan bermukim, ciri-ciri fisiknya di alam, pola perkembangannya serta tingkah laku dalam hubungannya dengan mangsa utama (tikus) atau mangsa non utama yakni semua jenis serangga dari vertebrata tinggi lainnya dan menciptakan ruang dan tempat yang sesuai dengan habitat alaminya.

Tanggal Upload : 31-08-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 4903 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


TANAMAN DUKU SEBAGAI PENYANGGA AIR

Oleh: SYUKUR, SP, MP
WIDYAISWARA MUDA

Hidrology meliputi kejadian, distribusi, gerakan, dan sifat air bumi. Ini melibatkan interaksi air dengan lingkungan fisik dan biologis. Sistem hidrologi adalah suatu sistem komponen yang saling terkait, termasuk proses presipitasi, evaporasi, transpirasi, infiltrasi, aliran air tanah, aliran sungai, dll, di samping struktur-struktur dan perangkat yang digunakan untuk mengelola sistem. Sistem hidrologi tunduk pada berbagai jenis pola cuaca dan kompleksitas spasial, dan dinamis dan acak di alam.
Siklus air, juga dikenal sebagai siklus hidrologi atau siklus H2O, menggambarkan pergerakan air yang kontinu pada, di atas dan di bawah permukaan bumi. Air dapat mengubah neraca antara cair, uap, dan es di berbagai tempat dalam siklus air. Meskipun neraca air di bumi tetap cukup konstan dari waktu ke waktu, molekul air individu dapat datang dan pergi, masuk dan keluar dari atmosfer. Bergerak air dari satu tempat penampungan ke yang lain, seperti dari sungai ke laut, atau dari laut ke atmosfer, oleh proses-proses fisik evaporasi, kondensasi, presipitasi, infiltrasi, limpasan, dan aliran bawah permukaan. Dengan demikian, air melewati fase yang berbeda: cair, padat, dan gas.

Tanggal Upload : 31-08-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 653 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]

Hal : 1  2  3  [ 4 ]  5  6  7  8  9  10  11  12  13 

INFORMASI PENGUNJUNG :


Browser : CCBot/2.0 (http://commoncrawl.org/faq/)

Anda adalah pengunjung kami yang ke : 491164

Statistik Pengunjung Web 6 Bulan Terakhir

8653
10953
9417
8610
8094
3434

01-2018

02-2018

03-2018

04-2018

05-2018

06-2018