Peta Utama
Peta SD Negeri
Peta SMP Negeri
Peta SMA Negeri
Your result will display here
 
 BERANDA |  ARTIKEL/ PUBLIKASI |  GALLERY |  BUKU TAMU |  HUBUNGI KAMI     

Beranda

Profil

Jadwal Kegiatan

Tautan Website

Sistem Informasi SDM

Sistem Informasi Diklat

Sistem Informasi Kelembagaan

Informasi Publik BPP Jambi

Denah Balai Pelatihan Pertanian Jambi

RTL Pelatihan

  PENCARIAN DATA :

MUTIARA HIKMAH :

"Dari Pada Mengutuki Kegelapan, Lebih Baik Ambil Sebatang Lilin dan Nyalakan”
(Pepatah Tiongkok)

Bagaimanakah Pendapat Anda Tentang Website ini?

 Baik Sekali
             59%
 Baik
             18%
 Cukup
             22%

Bagaimana pelayanan BPP Jambi

 Sangat Baik
             70%
 Baik
             26%
 Cukup
             4%

 
User ID :
Password :
 

LIVE CHAT

Pengelola Web Yahoo Messenger

ARTIKEL/ PUBLIKASI

Layanan ini disediakan dalam rangka penyebarluasan informasi kepada masyarakat umum. Data yang tersimpan dalam modul ini adalah data-data yang bersifat umum (bukan rahasia). Kami sangat menghargai jika kutipan yang Anda ambi dari artikel yang kami publikasikan ini Anda tidak lupa mencantumkan sumbernya www.bppjambi.info, dan Kami tidak bertanggungjawab atas segala bentuk penyalah gunaan yang timbul dikemudian hari.


PENYADAPAN TANAMAN KARET

Oleh: SYUKUR, SP, MP
WIDYAISWARA MUDA

Penyadapan tanaman karet. Penyadapan adalah pelukaan buatan yang diberikan pada kulit batang dengan tujuan mengeluarkan lateks. Tanaman karet mulai dapat disadap pada umur 5-6 tahun, lilit batang 45 cm dengan ketinggian 100 cm diatas permukaan tanah dengan arah dari kiri atas kekanan bawah dengan sudut kemiringan 450 . Kedalaman irisan sadap 1-1,5 mm dari cambium dengan ketebalan 1,5-2 mm dengan frekuensi peyadapan satu kali dalam dua hari, waktu penyadapan yang dianjurkan mulai jam 06.00 WIB dan selesai tidak lebih dari jam 10.00 WIB. Kemampuan tanaman dalam menghasilkan lateks berubah dari waktu kewaktu, diperlukan system panen. Sistem panen yang dianjurkan untuk karet rakyat adalah system panen konvensional

Tanggal Upload : 31-08-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 5321 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


GAHARU DAN CARA PENYUNTIKAN GUBAL GAHARU PADA POHON GAHARU

Oleh: SYUKUR, SP, MP
WIDYAISWARA MUDA

Gaharu merupakan substansi aromatic berupa gumpalan yang terdapat diantara sel-sel kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas serta memiliki kandungan kadar damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi baik secara alami maupun buatan. Pada umunya terjadi pada pohon gaharu jenis Aquilaria spp. Gaharu juga biasa disebut dengan Karas/Alim/Garu dll.

Gaharu mengandung essens yang disebuat sebagai minyak essens (essential oil) yang dapat dibuat dengan ekstraksi atau penyulingan dari gubal gaharu. Essens gaharu ini digunakan sebagai bahan pengikat (fixative) dari berbagai jenis parfum, kosmetika, dan obat-obatan herbal. Selain itu, serbuk tatu abu dari gaharu digunakan sebagai bahan pembuat dupa/hio dan bubuk aroma therapy.

Tanggal Upload : 31-08-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 2613 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


MENGENAL BUAH NAGA

Oleh: SYUKUR, SP, MP
WIDYAISWARA MUDA

Indonesia merupakan Negara agraris yang beriklim tropis sehingga berbagai macam tanaman dapat tumbuh dan berkembang di Negara Indonesia. Banyak tanaman buah, sayur, dan tanaman konsumsi lain yang tumbuh di Indonesia. Selain itu Indonesia juga sebagai Negara dimana penghasil hasil bumi yang besar, namun dengan kurangnya teknologi yang memadai hasil bumi tersebut banyak yang tidak bias di ekspor keluar negeri. Salah satu tanaman yang sekarang sudah bias diespor yaitu buah.

Di Indonesia banyak sekali tanaman buah yang tumbuh. Di daerah dataran tinggi maupun daerah dataran rendah. Tanaman semusim atau pun tanaman tahunan banyak sekali yang tumbuh di Negara kita ini. Salah satu buah tahunan yaitu buah naga atau yang disebut sebagai “Dragon Fruit” yang mana buah ini mempunyai nilai jual yang sangat tinggi karena banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang buah naga dan bagai mana cara budidaya buah naga itu sendiri. Buah naga tergolong dalam tanaman kaktus yang hidup di daerah kering dan agak berpasir. Tanaman ini mempunyai tulang daun yang banyak terkandung air sehingga tahan terhadap panas. Selain itu tanaman buah naga ini perlu sinar matahari penuh atau tidak ada naungan karena jika ada naungan akan mempengaruhi produksi buah dan pertumbuhan tanaman buah naga itu sendiri.

Tanggal Upload : 31-08-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 1890 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


PENGOLAHAN KEDELAI MENJADI TEMPE KEJO SECARA SEDERHANA DI UNIT PENGOLAHAN HASIL BALAI PELATIHAN PERTANIAN JAMBI

Oleh : Kemas Muhammad Erwansyah, S.TP
(Pengelola UPH BPP Jambi)

Kedelai mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi karena kedelai merupakan sumber protein, lemak, vitamin, mineral, dan serat yang paling baik. Dalam lemak kedelai terkandung beberapa fosfolipida penting, yaitu lesitin, sepalin, dan lipositol. Kedelai sudah diyakini banyak orang untuk penyembuhan penyakit, seperti diabetes, ginjal, anemia, rematik, diare, hepatitis, dan hipertensi. Kandungan zat dalam kedelai diyakini cukup berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit tersebut. Dengan berbagai manfaat dan khasiatnya itu, sangat disayangkan sampai saat ini Negara kita masih belum dapat memenuhi sendiri kebutuhan akan kedelai.

Kedelai dapat diolah menjadi salah satu produk makanan, yaitu Tempe. Tempe adalah makanan tradisional yang berasal dari Negara kita sendiri, yaitu Indonesia. Tempe merupakan makanan yang berguna untuk mencegah dan mengendalikan diare, meningkatkan vitalitas dan menghambat penyakit jantung koroner. Untuk membuat Tempe, selain bahan dasar kedelai maka juga diperlukan ragi, dan empat jenis kapang dari genus rhyzopus, yaitu rhyzopus oligosporus, rhyzopus stolonifer, rhyzopus arrhizus, dan rhyzopus oryzae.

Tanggal Upload : 04-08-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 508 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


MEMBUAT PESTISIDA NABATI

Oleh :Lisa Marianah,SP (Widyaiswara Pertama)


Menurut WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), setiap tahun di seluruh dunia terjadi keracunan pestisida antara 44.000 - 2.000.000 orang. Angka keracunan tertinggi terjadi di negara-negara yang sedang berkembang. Kesadaran akan pentingnya mengkonsumsi makanan yang sehat, bebas dari bahan-bahan kimia serta semakin resistannya hama akibat aplikasi pestisida secara terus menerus, mendorong kesadaran pentingnya memiliki pengetahuan mengenai pestisida nabati dalam mengendalikan hama dan penyakit dalam kegiatan budidaya.

Tanggal Upload : 31-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 2344 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


TEKNIK SAMBUNG SAMPING TANAMAN KAKAO

I. PENDAHULUAN

Beberapa program terkait pengembangan perkebunan kakao yang dicanangkan pemerintah adalah peremajaan perkebunan kakao yaitu dengan merehabilitasi tanaman kakao yang sudah tua, karena tanaman kakao yang sudah cukup tua produksinya menurun. Menurut hasil penelitian tanaman kakao yang berusia diatas 25 tahun produksinya menurun menjadi 50% dari potensi produksi yang dimilikinya.
Keadaan pertanaman yang kurang produktif tersebut mendorong petani untuk melakukan peremajaan, dan penanaman ulang. Namun, petani lebih tertarik melakukan sambung samping untuk peremajaan tanaman yang kurang produktif atau sudah tua dibandingkan dengan cara membongkar dan tanam ulang, karena dengan sambung samping petani masih dapat memungut hasil buah kakao dan dapat menikmati pembuahan kakao yang lebih cepat dari keberhasilan teknik sambung samping.


II. TUJUAN

1. Memberikan gambaran tentang perbaikan tanaman kakao yang sudah tua tanpa harus membongkar tanaman tersebut.
2. Memberikan informasi tentang cara peremajaan tanaman kakao dengan Teknik Sambung Samping dengan menggunakan klon unggul.


TEKNIK SAMBUNG SAMPING KAKAO

A. Mengenal Teknik Sambung Samping
Teknik sambung samping adalah teknik perbaikan tanaman tua tanpa harus membongkar tanaman. Pada prinsipnya teknik sambung samping menggabungkan atau menyambung batang bawah dengan klon yang dikehendaki.
Teknologi ini semula dikembangkan di Malaysia dan setelah banyak penyempurnaan kini sudah luas diterapkan para petani di Indonesia. Dengan teknologi ini petani tidak mengalami kehilangan hasil dari batang bawahnya. Tanaman hasil sambung samping mulai dapat dipetik buahnya pada umur 18 bulan setelah disambung, dan setelah berumur 3 tahun hasil buah sebanyak 15-22 buah per pohon.
Teknik ini menggunakan batang atas (entres) dari kakao klon unggul yang dikehendaki kemudian disambungkan pada batang bawah tanaman kakao dengan tujuan untuk menghasilkan tanaman baru yang lebih produktif. Secara ekonomis teknik sambung samping cukup menguntungkan, adapun keuntungan yang lain adalah sebagai berikut :
a) Areal pertanaman kakao dapat direhabilitasi dalam waktu singkat.
b) Diperoleh tanaman yang kuat terhadap berbagai gangguan iklim.
c) Menekan biaya pembongkaran tanaman di lahan
d) Bibit murah, lebih cepat berproduksi dibandingkan dengan okulasi.
e) Sementara batang atas hasil sambung samping belum berproduksi, hasil buah dari batang bawah dapat dipertahankan.
f) Batang bawah berfungsi sebagai penaung sementara bagi batang atas yang sedang tumbuh.
g) Memperbaiki klon - klon tanaman yang telah ditanam apabila klon tanaman tersebut sudah tidak dikehendaki.

B. Persyaratan Penting dalam Sambung Samping
Sebelum melaksanakan teknik sambung samping, maka persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi untuk dapat dilakukan rehabilitasi dengan menggunakan teknik sambung samping meliputi persyaratan kebun, batang atas atau entres, dan batang bawah atau roodstock.

1. Persyaratan Kebun
Kebun kakao yang akan direhabilitasi adalah kebun hamparan dengan kondisi sebagai berikut :
- Jumlah tegakan/populasi tanaman antara 70%- 90% dari jumlah standar (1000 phn/Ha).
- Jumlah pohon pelindung > 70% dari standar.
- Lahan memenuhi persyaratan kesesuaian, meliputi : curah hujan 1500-2500 mm (sangat-sesuai) dan 1250- 1500 mm atau 2500- 3000 mm (sesuai); lereng 0-8% (sangat sesuai) dan 8- 15% (sesuai).

2. Persyaratan Batang Atas
Batang yang akan dijadikan batang atas mempunyai persyaratan sebagai berikut :
- Cabang berasal dari pohon yang kuat
- Perkembangannya normal
- Bebas dari hama dan penyakit
- Bentuk cabang lurus dan diameternya disesuaikan dengan batang bawah ± 1 cm.
Persiapan dalam pengambilan batang atas yaitu sebagai berikut :
- Entres diambil dari pohon entres kebun produksi
- Mempunyai produksi stabil
- Tahan hama dan penyakit utama kakao
- Klon anjuran untuk batang atas yaitu ICS60, ICS 13, TSH 858, UIT 1, GC 7, RCC 70, RCC 71, RCC 72, DAN RCC 73.
- Entres berupa cabang plagiotrop berwarna hijau atau hijau kecoklatan dan sudah mengayu, dengan ukuran diameter 0.75-1.50 cm.
- Panjang cabang ± 40 cm
- Entres yang telah diambil langsung disambung pada hari itu juga

Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam perbanyakan vegetatif tanaman kakao khususnya sambung samping adalah kesegaran entres. Berdasarkan kenyataan dilapangan kesegaran bahan entres kakao perlu dijaga untuk menjamin tingkat keberhasilan dalam penyetekan kakao. Hal ini ditunjukkan dengan semakin lama entres kakao disimpan maka semakin banyak energi yang digunakan, sehingga pada saat disambungkan terjadi penurunan persentase sambungan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan lainnya adalah kebersihan bahan dan alat, ketajaman pisau okulasi, serta keadaan cuaca selama okulasi.

3. Persyaratan Batang Bawah
Tanaman kakao yang akan di sambung samping adalah tanaman yang tidak produktif lagi atau sudah tua tanaman tersebut lebih dari 25 tahun. Kondisi tanaman kakao yang akan di sambung samping memiliki harus memiliki syarat batang bawah sebagai berikut :
a) Batang bawah harus sehat, kulit batang mudah dibuka atau warna kambiumnya putih bersih.
b) Apabila batang bawah kurang sehat, sebelum penyambungan lakukan pemupukan, pemangkasan, penyiangan gulma serta pengendalian hama dan penyakit.

C. Teknik Sambung Samping

Siapkan alat dan bahan
Dalam pelaksanaan penyambungan samping pada kakao, maka bahan-bahan dan alat-alat harus dipersiapkan terlebih dahulu, supaya dalam pelaksanaan bisa berjalan dengan lancar.
Bahan dan alat yang perlu disiapkan antara lain batang bawah, entres klon unggul, gunting pangkas, pisau okulasi, kantong plastik ukuran 18 x 8,5 cm dengan tebal 0,01 mm (kantong gula pasir 0,25 kg), dan tali rafia yang telah dipotong - potong ± 1,25-1,50 m.

Teknik menyambung :
1) Penyambungan sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan.
2) Batang bawah dikerat pada ketinggian ± 50 cm dari permukaan tanah.
3) Entres yang digunakan untuk sambung samping di potong miring atau potongan disesuaikan penempatan pada batang bawah tanaman kakao.
4) Kulit batang diiris pada dua sisi secara vertikal dengan pisau okulasi, lebar 1-2 cm dan panjang ± 2-4 cm (sama dengan ukuran entres yang akan disambung sambung samping).
5) Kulit sayatan dibuka dengan hati-hati, entres dimasukkan ke dalam lubang sayatan sampai ke dasar sayatan.
6) Sisi entres yang telah disayat miring diletakkan menghadap batang bawah.
7) Tutup kulit sayatan tekan dengan ibu jari tutup dengan plastik kemudian diikat kuat dengan tali rafia.
8) Biarkan selama 2 atau 3 minggu.

Setelah dua sampai tiga minggu maka sambung samping sudah dapat dilihat, apakah berhasil atau tidak, ditandai entres masih segar sedangkan yang tidak berhasil kulit mengering atau busuk. Kemudian sambung samping yang jadi plastik penutup dapat dibuka setelah tunas tumbuh sepanjang ± 2 cm dengan cara bagian atas kantong plastik disobek. Lakukan pemeliharaan pada batang yang disambung samping meliputi segala aspek yaitu :
1. Penyiraman
Lakukan penyiraman secukupnya secara rutin, buang tunas air yang tumbuh disekitar batang atas terutama dekat tempat penyambungan.
2. Pemangkasan
Kegiatan pemangkasan meliputi : 1) pemangkasan pemeliharaan dilakukan pada umur 7-10 hari setelah penyambungan dengan mengurangi ranting yang terlalu rimbun, 2) tunas batang atas diikatkan kebatang bawah agar pertumbuhan mengarah keatas, 3) Setelah 3 bulan pelaksanaan sambung samping sebaiknya tajuk batang bawah dipangkas. Batang bawah dapat dipotong total bila batang atas telah tumbuh kuat dan berbuah, caranya potong miring pada ketinggian ± 60cm diatas pertautan, luka bekas potongan dioles dengan TB 192, serta 4) tajuk batang bawah yang menaungi tunas hasil sambungan dipangkas seperdua bagian diatas sambungan.
3. Penyiangan dan Pemupukan
Penyiangan dilakukan dengan cara membuang gulma disekitar tanaman pokok, biasanya kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan pendangiran dan pemupukan. Pemupukan dilakukan 2 kali, yaitu sebulan sebelum penyambungan dan sebulan setelah penyambungan.
4. Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan bila terjadi serangan, namun sebaiknya dilakukan pencegahan seperti sanitasi lingkungan disekitar tanaman kakao, mengubur buah atau ranting / batang tanaman yang terserang hama penyakit.


IV. KESIMPULAN

Teknik sambung samping kakao adalah teknik perbaikan tanaman tua tanpa harus membongkar tanaman. Tujuan untuk menghasilkan tanaman baru yang lebih produktif dan secara ekonomis dapat menekan biaya pengeluaran serta cukup menguntungkan. Sambung Samping Kakao dapat dilakukan apabila tanaman kakao sudah berusia diatas 25 tahun dan produksinya menurun menjadi 50% dari potensi produksi yang dimilikinya. Gunakan entres klon unggul yang disesuaikan dengan adaptasi tumbuhnya, untuk menghasilkan sambung samping yang baik.
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam perbanyakan vegetatif tanaman kakao khususnya sambung samping adalah kesegaran entres. Berdasarkan kenyataan dilapangan kesegaran bahan entres kakao perlu dijaga untuk menjamin tingkat keberhasilan dalam penyetekan kakao. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan lainnya adalah kebersihan bahan dan alat, ketajaman pisau okulasi, serta keadaan cuaca selama okulasi.


DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim. 2008. http://agroinovasinusantara.wordpress.com /tag/sistem-sambung-samping/, posted 24 Oktober 2008
2. Anonim. 2010. http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/2073810-morfologi-tanaman-kakao/, posted 13 Nopember 2010
3. Anonim. 2012. http://bengkeldesaintanamancacao.blogspot.com/, posted 11 April 2011
4. Anonim. 2012. http://fajarcelebes.blogspot.com/2012/07/langkah-langkah-sambung-samping-tanaman_28.html, posted 28 Juli 2012
5. Muhammad Kadir, 2011. Pertumbuhan Hasil Sambung Samping Tanaman Kakao dengan Ketinggian Pemotongan Batang Utama Yang Berbeda. Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan.
6. Septyan Adi Pramana. 2012. Teknik Sambung Samping Pada Kakao (Theobroma cacao L.). BBP2TP, Surabaya.


Penulis : Puguh Nugroho, SST ( Widyaiswara Pertama )
Publish : 30 Maret 2015

(Download versi PDF)

Tanggal Upload : 30-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 565 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


TEKNIK PERBANYAKAN BIBIT KARET POLA KAKI TIGA

I. PENDAHULUAN

Peningkatan produksi karet yang optimal harus dimulai dengan pemilihan klon yang unggul, penggunaan bibit yang berkualitas sebagai batang bawah dan batang atas serta pemeliharaan yang baik. Pemilihan klon karet yang unggul tidak pernah terlepas dari penggunaan batang bawah yang berguna untuk memperbaiki sifat bahan tanaman karet agar dapat berproduksi secara optimal dan tahan terhadap jamur akar putih yang disebabkan oleh Rigidoporus lignosus. Batang bawah yang digunakan untuk perbanyakan tanaman karet dengan cara Perbanyak Bibit Karet Pola Kaki Tiga (3 in 1) dengan menggunakan klon unggul diharapkan menghasilkan pertumbuhan tanaman dan hasil getah karet optimal.
Bibit karet 3 in 1 merupakan salah satu perbanyakan tanaman karet secara vegetatif, karena inovasi bibit karet 3 in 1 ini dianggap baru bagi pelaku penangkar bibit atau pembudidaya maka diperlukan bimbingan atau pembinaan secara berkesinambungan dari peneliti, penyuluh dan widyaiswara tentang bibit karet ini agar menghasilkan bibit unggul yang diinginkan. Sehingga keberadaan bibit karet 3 in 1 ini dapat membantu peningkatan hasil produksi lateks yang lebih baik bagi pembudidaya karet di seluruh Indonesia.


II. TUJUAN

1. Memberikan gambaran tentang pentingnya penggunaan klon unggul dalam perbanyakan bibit, khususnya Bibit Karet Pola Kaki Tiga (3 in 1).
2. Memberikan informasi tentang cara perbanyak tanaman Bibit Karet Pola Kaki Tiga (3 in 1).


III. TEKNIK PEMBIBITAN KARET POLA KAKI TIGA

A. Klon Unggul
Klon Unggul Karet adalah suatu kelompok tanaman dalam suatu jenis spesies tertentu yang diperbanyak secara vegetatif dengan menggunakan organ tanaman tertentu dan kelompok tersebut memiliki sifat tahan terhadap serangan hama penyakit, cepat menghasilkan lateks, banyak menghasilkan lateks dan dapat digunakan secara luas dengan penciri tertentu yang berbeda sesuai sifat yang dimiliki oleh kelompok tanaman lain yang juga diperbanyak secara vegetatif pada jenis yang sama. Karena diperbanyak secara vegetatif maka tingkat keseragaman genetik suatu klon tinggi dan sama dengan induknya. Kalau terjadi ketidak stabilan sifat suatu klon bukan karena faktor genetik, akan tetapi karena adanya perbedaan antar lokasi penanaman.
Klon unggul baru merupakan syarat utama agar komoditas karet dapat menghasilkan produksi  dengan tingkat produktivitas yang tinggi sehingga dapat mendukung Indonesia menuju produsen karet terbesar dunia. Dalam upaya memperoleh klon-klon unggul, para peneliti dan pemulia tanaman terus menerus melakukan penelitian untuk menghasilkan klon karet unggul baik penghasil lateks, maupun lateks-kayu. 
Balai Penelitian Karet Sembawa telah menghasilkan klon-klon karet unggul yang direkomendasikan untuk periode tahun 2010-2014. Sistem rekomendasi disesuaikan dengan Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman  yang menyebutkan bahwa klon/varietas yang dapat disebarluaskan kepada pengguna harus berupa benih bina. Klon anjuran komersial dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok klon penghasil lateks dan penghasil lateks-kayu, yaitu :
1. Klon penghasil Lateks, klon unggul anjuran yaitu IRR 104, IRR 112, IRR 118, IRR 220, BPM 24, PB 260, PB 330 dan PB 340.
2. Klon penghasil Lateks-Kayu, klon unggul anjuran yaitu RRIC 100, IRR 5, IRR 39, IRR 42, IRR 107 dan IRR 119.
3. Benih anjuran untuk Batang Bawah, klon unggul anjuran yaitu AVROS 2037, GT 1, BPM 24, PB 260, RRIC 100 dan PB 330.
(Sumber : Rekomendasi Klon Karet Unggul Periode 2010-2014 (Balai Penelitian Sembawa – Pusat Penelitian Karet Deptan))

B. Keuntungan Bibit Karet Pola Kaki Tiga (3 in 1)
Bibit Karet dengan akar tunggang tiga atau 3 in 1 ini mempunyai beberapa ke unggulan atau kelebihan :
1) Akar tunggang tidak putus seperti bibit yang di okulasi karena penanaman bibit batang bawah langsung dilakukan di Polybag
2) Bisa meminimalisir terjangkitnya jamur akar karena akar tungang tidak putus
3) Tidak mudah tumbang atau roboh dari pangkal ketika ada angin kuat, karena memiliki batang dan perakaran yang kuat ( 3 akar tunggang )
4) Pertumbuhan sangat kokoh karena di tunjang dengan akar tunggang tiga
5) Serapan unsur hara menjadi lebih banyak dari akar ke batang
6) Pemeliharaan yang rutin akan lebih cepat besar dan lebih cepat produksi getah karet atau lateks.
.
C. Teknik Pembibitan Karet Pola Kaki Tiga (3 in 1)
Bibit karet 3 in 1 merupakan salah satu perbanyakan tanaman karet secara vegetatif, karena inovasi bibit karet 3 in 1 ini dianggap baru bagi pelaku penangkar bibit atau pembudidaya maka diperlukan bimbingan atau pembinaan secara berkesinambungan dari peneliti, penyuluh dan widyaiswara tentang bibit karet ini agar menghasilkan bibit unggul yang berkualitas. Sehingga keberadaan bibit karet 3 in 1 ini dapat membantu peningkatan hasil produksi lateks yang lebih baik bagi pembudidaya karet di seluruh Indonesia.
Hal yang paling penting dalam penanaman karet adalah penggunaan bibit/bahan tanam unggul, dalam hal ini penulis mencoba membahas bahan tanam yang berasal dari Bibit Karet 3 in 1. Persiapan bahan tanam yang dilakukan dibagi menjadi tiga komponen yang perlu disiapkan, yaitu: batang bawah (root stoct), entres/batang atas (budwood), dan okulasi (grafting) Bibit karet 3 in 1.
Catatan Penting : Permasalahan yang terjadi dilapangan pembibitan karet 3 in 1 hanya sebatas menggabungkan 3 (tiga) tanaman batang bawah saja tanpa mengokulasi lagi batang bawah dengan mata entres unggul (di Okulasi kembali), hal ini yang menyebabkan dilapangan bibit karet 3 in 1 hasil lateksnya sama dengan bibit karet yang berasal dari biji murni.
Kualitas dan standar mutu pembibitan karet 3 in 1 harus memperhatikan mulai dari biji untuk batang bawah sampai bibit karet yang siap ditanam dilapang (klon).

1) Persiapan batang bawah (root stoct)
a. Syarat kebun sumber biji untuk batang bawah yaitu :
* Terdiri dari klon monoklonal anjuran untuk sumber benih.
* Kemurnian klon minimal 95%.
* Umur tanaman 10 - 25 tahun.
* Pertumbuhan normal dan sehat
* Penyadapan sesuai normal.
* Luas blok minimal 15 ha.
* Topografi relatif datar.
Benih tanaman yang digunakan untuk batang bawah adalah GT 1, PR 300, PR 228, AVROS 2037, LCB 1320, PB 260, RRIC 100, dan BPM 24.
Sumber benih yang terjamin kualitasnya bisa diperoleh dari :
* PT London Sumatera Plantation.
* Balai Penelitian Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia.
* Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia.
* Balai Penelitian Getas, Pusat Penelitian Karet, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia.
Dalam memperoleh batang bawah juga dapat di ambil dari kebun sendiri, yaitu mengambil biji-biji dari kebun yang memiliki persyaratan kebun sumber biji untuk dijadikan bibit berdasarkan klon anjuran sebagai batang bawah yang baik seperti GT 1, PR 300, PR 228, AVROS 2037, LCB 1320, PB 260, RRIC 100, dan BPM 24. Biji yang digunakan harus Biji masih segar, bernas, mengkilat, tidak berlobang dan tidak cacat.

2) Persiapan batang atas (budwood)
Penyediaan lahan untuk batang atas (budwood) atau mata entres harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
* Lahan harus bersih dari sisa-sisa tunggul agar mencegah bibit tanaman terserang penyakit jamur busuk akar.
* Menggunakan klon anjuran seperti BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217 dan PB 260. Namun pada umumnya yang cocok dan sesuai kebutuhan dilapangan adalah Generasi ke 4  PB260.
* Lubang tanam 60 x 60 x 60 dengan jarak tanam 1 x 1 meter.
* Batas blok per klon 2 meter.
* Perawatan secara intensif seperti melakukan wiwilan, pemupukan sesuai anjuran dan penyiangan.
* Pemanenan entres dilakukan setelah 4 payung.

3) Teknik pembuatan bibit akar 3 in 1
Cara pembuatan bibit akar tunggang tiga atau 3 in 1 merupakan penambahan dari sistem perbanyakan okulasi, yaitu batang bawah yang digunakan 3 tanaman otomatis memiliki tiga akar tunggang. Adapun langkah-langkah kegiatannya sebagai berikut ini :
* Siapkan media tanam tanah + pupuk kandang ( 3 : 1 ), aduk rata.
* Persiapkan polibag ukuran 15 x 30 cm kemudian di isi media sampai penuh dan padatkan
* Susun rapi polybag di lokasi pembibitan.
* Setelah itu siram setiap hari polibag dan tunggu sampai maksimal 30 hari agar pupuk kandang tadi mengurai dengan tanah yang ada dalam polybag.
* Persiapkan biji karet klon unggul untuk dijadikan batang bawah.
* Kemudian tanam langsung 3 biji di polybag, tetapi ini mempunyai kelemahan karena belum tentu tumbuh semua. Namun bisa menggunakan metode lain dengan membuat semaian biji karet di buat kecambah dulu baru ditanamkan dalam polibag karena sistem ini kita sudah tahu bahwa biji karet itu telah tumbuh menjadi kecambah.
* Lakukan penanaman dalam polibag tiga kecambah atau biji.
* Lakukan pemeliharaan seperti penyiraman setiap hari secara intensif sampai 2 atau 3 bulan batang karet tadi mencapai diameter 3 mm setiap batang. Dalam pembibitan 3 in 1 ini ada 2 perlakuan yang harus dilakukan yaitu :

a. Penggabungan 3 batang tanaman
- Setelah mencapai mencapai diameter 3 mm setiap batang lakukan penggabungan 3 batang karet dalam satu polibag dengan cara kupas sebagian batang karet.
- Kemudian pada bagian yang dikupas digabungkan atau ditempelkan ketiga batang tersebut dan lakukan pengikatan batang karet menjadi satu. Untuk pengikatan batang karet menggunakan plastik khusus (plastik es), sering di gunakan untuk okulasi dan banyak tersedia di pasaran.
- Setelah itu tunggu sekitar 21 hari yang tentunya masih rutin penyiraman secukupnya setiap hari.
Perlu diingat sewaktu penyiraman pada fase ini jangan sampai air kena plastik pengikat di batang karet tersebut bias mengakibatkan pembusukan pada batang karet.
- Melewati sekitar 21 hari buka pengikat pada batang karet dalam polibag karena sudah menggabung, hal ini di tandai :
* Batang karet sudah menyatu / menempel.
* Batang karet yang menempel sudah berwarna kehijau-hijauan.
- Kemudian diamkan selama 7 hari setelah itu baru pangkal batang atas tinggalkan 1 batang yang ingin dijadikan sebagai batang atas.
- Dalam pemilihan batang atas perlu di perhatikan :
* Pilih pertumbuhan yang subur
* Pilih klon yang ingin tinggalkan sebagai batang atas
- Pemeliharaan bibit selama 2 – 3 bulan agar siap di okulasi atau diameter sudah lebih dari 12 mm, kegiatan meliputi penyiraman, penyiangan, pemupukan NPK 10 – 15 gram/polybag perbulan dan pengendalian hama dan penyakit.

b. Okulasi batang bawah
- Batang yang di okulasi hendaknya dibersihkan dari kotoran / tanah (di lap menggunakan tangan atau sarung tangan). Tujuannya agar kotoran tanah tidak menempel pada batang Kambium yang di sayat kulit karetnya.
- Pembuatan jendela okulasi (tempat menempelnya entres), di iris vertikal pada bagian kulit hingga menyentuh batas kambium.
- Selanjutnya persiapan mata okulasi (mata okulasi yang baik diambil dari mata yang berada di bekas ketiak daun), mata okulasi di iris dengan ukuran lebar yang sudah disesuaikan dengan pembuatan jendela okulasi.
- Penyayatan mata okulasi dilakukan dengan mengikut sertakan sedikit bagian kayu, lepaskan kulit dari kayu dengan hati-hati dengan cara menarik bagian kayu yang ikut tersayat
- Mata okulasi diusahakan tidak tergores dan kotor, mata okulasi yang baik pada bagian dalam ada titik putih yang menonjol, (apabila kulit bagian dalam berlubang berarti matanya tertinggal  pada bagian kayu, mata okulasi seperti ini tidak boleh)
- Penempelan mata okulasi segera dilakukan pada saat jendela okulasi dibuka, kemudian batang bawah dibalut menggunakan plastik Okulasi.
- Langkah terakhir setelah berumur 21 hari keatas bukalah plastik pembungkusnya. Untuk bibit karet akar tunggang atau 3 in 1 yang siap tanam perhatikan pada gambar ilutrasi.

4) Pemeliharaan pembibitan
Kegiatan pemeliharaan dilakukan selama 2 - 3 bulan atau bibit karet 3 in 1 sudah memiliki 1 payung atau 2 payung, maka bibit tersebut siap untuk ditanam di lapangan.
* Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari, jika kondisi kemarau maka dilakukan 2 kali penyiraman pagi dan sore.
* Penyiangan dan pemupukan
Penyiangan yaitu kegiatan membuang rumput / gulma disekitar pembibitan, tujuannya untuk mengurangi persaingan dengan tanaman pokok. Biasanya penyiangan dilakukan bersamaan pemupukan, kegiatan pemupukan dilakukan dengan pemberian 10 – 15 gram/polybag perbulan atau bisa menambahkan pupuk daun dengan cara penyemprotan seperti Gandasil dan Growmore
* Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan apabila tingkat serangan sudah melebihi dari 10 % pembibitan terserang. Salah satu pencegahan dalam pengendalian hama dan penyakit yaitu dengan cara penggunaan bibit unggul yang sehat dan bebas dari hama penyakit dan sanitasi di lingkungan pembibitan.


IV. KESIMPULAN

Klon unggul baru merupakan syarat utama agar komoditas karet dapat menghasilkan produksi  dengan tingkat produktivitas yang tinggi sehingga dapat mendukung Indonesia menuju produsen karet terbesar dunia.
Rekomendasi Klon Karet Unggul Periode 2010-2014 berdasarkan Balai Penelitian Sembawa – Pusat Penelitian Karet Kementan yaitu ;
* Klon anjuran batang bawah adalah GT 1, PR 300, PR 228, AVROS 2037, LCB 1320, PB 260, RRIC 100, dan BPM 24
* Klon anjuran seperti BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217 dan PB 260. Namun pada umumnya yang cocok dan sesuai kebutuhan dilapangan adalah Generasi ke 4  PB260.
Kualitas dan Standar Mutu Pembibitan Karet Pola Kaki Tiga (3 in 1) meliputi kegiatan yaitu Persiapan batang bawah (root stoct), Persiapan batang atas (budwood), Teknik Pembuatan bibit akar 3 in 1 (Penggabungan 3 batang tanaman dan Okulasi batang bawah) serta Pemeliharaan pembibitan


DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim. 2011. http://kabarsukses.com/bibit-karet-dengan-akar-tunggang-tiga.html, posted 3 Nopember 2011
2. Anonim. 2012. http://pembibitankaret.info/, posted 13 Maret 2012
3. Anonim. 2012. http://dhedie100.blogspot.com/2012/05/bibit-karet-3-in-1-plus.html, posted 2 Mei 2012
4. Anonim. 2012. http://betaraubd.blogspot.com/2012/09/perawatan-bibit-karet-dengan-akar.html, posted 10 September 2012
5. Asosiasi Perkebunan Karet. 2012. http://bibitkaretunggulan.blogspot.com/ 2012/10/rekomendasi-klon-bibit-karet-unggul.html, posted 26 Oktober 2012
6. Balai Penelitian Sembawa, 2005. Pengelolaan Bahan Tanam Karet. Pusat Penelitian Karet, Balai Penelitian Sembawa, Palembang.
7. Ditjen. BP Perkebunan. 2004. Statistik Perkebunan Indonesia 2002-2003:Karet. Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Jakarta.


Penulis : Puguh Nugroho, SST ( Widyaiswara Pertama )
Publish : 30 Maret 2015

(Download versi PDF)

Tanggal Upload : 30-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 1699 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


PENANGANAN PASCA PANEN KAYU MANIS

Oleh : Abdul Roni Angkat, S.TP. M.Si (Widyaiswara Muda)


Indonesia merupakan negara penghasil kayu manis terbesar di dunia dengan pangsa pasar mencapai 31.06% terhadap nilai total ekspor dunia pada tahun 2002 - 2007 (Jaya, 2010). Berdasarkan data tersebut di atas sudah selayaknya mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki dengan intensifikasi budidaya serta penerapan mekanisasi dalam proses pengolahan hasil perkebunan kayu manis. Oleh karena itu, sangat penting sekali mengetahui proses penanganan pasca panen kayu manis dan mesin-mesin yang digunakan untuk menjadkan kayu manis menjadii komoditas unggulan yang bernilai ekspor tinggi.

Tanggal Upload : 29-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 687 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


PENGAWETAN PANGAN

Oleh : Puji Lestari, S.TP (Widyaiswara Pertama)

I.PENDAHULUAN

Makanan merupakan kebutuhan pokok bagi setiap manusia, karena didalamnya terkandung senyawa-senyawa yang sangat diperlukan untuk memulihkan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak, mengatur proses di dalam tubuh, perkembangbiakan dan menghasilkan energi untuk kepentingan berbagai kegiatan dalam kehidupannya. Kebutuhan manusia akan makanan diperoleh dari berbagai sumber nabati maupun hewani .
Pada dasarnya makanan merupakan campuran berbagai macam senyawa makanan, yang dapat dikelompokkan ke dalam karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. Bahan makanan terdiri 99,9% dari bahan-bahan lain sepperti pigmen, zat cita rasa dan zat-zat aditif.
Pengolahan (pengawetan) dilakukan untuk memperpanjang umur simpan produk pangan. Proses pengolahan apa yang akan dilakukan,tergantung pada berapa lama umur simpan produk yang diinginkan, dan berapa banyak perubahan mutu produk yang dapat diterima.Berdasarkan target waktu pengawetan, maka pengawetan dapat bersifat jangka.Pendek atau bersifat jangka panjang. Pengawetan jangka pendek dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya penanganan aseptis, penggunaan suhu rendah (<200C), pengeluaran sebagaian air bahan, perlakuan panas, mengurangi keberadaan udara, penggunaan pengawet dalam konsentrasi rendah, fermentasi, radiasi dan kombinasinya. Pada prinsipnya pengawetan pangan ditujukan untuk terjadinya perubahan-perubahan yang tidak diinginkan pada produk pangan, yaitu menurunnya nilai gizi dan mutu sensori pangan, dengan cara mengontrol pertumbuhan mikroorganisme, mengurangi terjadinya perubahan-perubahan kimia, fisik dan fisiologis alami yang tidak diinginkan, serta mencegah terjadinya kontaminasi.

II. TUJUAN
Memberikan informasi tentang macam-macam pengawetan pangan

III. MACAM-MACAM PENGAWETAN PANGAN
Secara garis besar pengolahan dan pengawetan makanan dibagi mejadi 3, yaitu:
a. Pengawetan secara fisika
b. Pengawetan secara kimia
c. Pengawetan secara mikrobiologi
Pengwetan secara fisik antara lain termasuk cara pengeringan, suhu rendah, suhu tinggi, dan cara modern yaitu iridiasi. Pengawetan secara kimia dengan menggunakan bahan tambahan makanan yang dikenal dsengan food additive, dan pengawetan secara mikrobiologi yaitu menggunakan mikroorganisme untuk menguraikan medium menjadi suatu produk yang diinginkan, yang dikenal dengan cara fermentasi.
1.Pengawetan Secara Fisika
Pengeringan
adalah salah satu cara pengawetan yang paling tua, yang bertujuan untuk mengeluarkan untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air dari bahan pangan dengan menggunakan energi panas. Pengeringan dapat mencegah pembusukan pangan karena untuk dapat tumbuh dan berkembangbiak mikrorganisme membutuhkan air dalam jumlah yang cukup. Penurunan kadar air harus dilakukan sehingga mencapai aktivitas air tertentu, karena pertumbuhan mikroorganisme ditentukan terutama oleh aktivitas air dan bukan oleh kadar air bahan. Hal ini banyak dapat tercapai dengan pengeringan, pengasapan, penambahan garam dan gula atau pengentalan.
Suhu Rendah
Penyimpanan pada umumnya di bawah 1oC, tetapi dengan suhu rendah bukan bersifat mengawetkan karena mikroba hanya dihambat pertumbuhan atau perkembangbiakannya dengan kata lain menghambat mikroorganisme tapi tidak membunuhnya. Selain itu suhu rendaj juga memperlambat laju reaksi enzimatis dan reaksi-reaksi kimia yang menimbulkan kerusakan pangan. Penyimpanan suhu rendah dibedakan atas:
• Refrigerasi dan modifikasi-modifikasi refrigerasi seperti penyimpanan “Controlled Atmosphere” (CA) dan penyimpanan berkisar -2oC dan 16 oC, tergantung dari kepekaan komoditas suhu rendah.
• Pembekuan makanan umumnya dilakukan pada minus (-) 18 oC dengan cara ini makanan dapat tahan beberapa bulan hingga setahun. Karena pada pembekuan sebagian air dalam bahan pangan menjadi es, maka penghambatan pertumbuhan mikroorganisme juga timbul akibat penurunan aktivitas air.
Suhu Tinggi
Proses thermal atau dengan suhu tinggi, umumnya di atas 65 oC cara ini banyak dilakukan untuk pengawetan bahan-bahan berbentuk tepung atau sejenisnya.tujuan dari proses ini adalah mengurangi populasi mikroorganisme atau membunuh mikrorganisme yang ada dalam bahan pangan.Proses thermal dibedakan atas:
• Pasteurisasi, yaitu perlakuan pemanasan yang ringan yaitu 630C selama 30 menit atau 72oC selama 15 menit. Tujuannya adalah mematikan organism pathogen dan mengurangi populasi mikroorganisme hingga batas-batas yang memungkinkan sedikit memperpanjang umur simpan pangan tersebut.Pasteurisasi adalah membunuh mikroorganisme yang merugikan seperti virus, kapang dan khamir. Produk yang bisa dilakukan pasteurisasi antara lain susu, anggur, bir, jus buah, cider dan lain-lain. Pasteurisasi akan menginaktifkan enzim, membunuh mikroorganisme pathogen dan sebagian mikroorganisme pembusuk.
• Sterilisasi didalam pengawetan produk pangan adalah perlakuan panas yang menyebabkan mikroorganisme dan sporanya tidak mampu tumbuh pada kondisi penyimpanan normal. Artinya, hanya menghasilkan produk yang steril komersil, tidak seratus persen steril, kemungkinan masih ada spora mikroba dorman berada didalam produk, dan akan segera tumbuh bila berada pada lingkungan yang cocok untuk pertumbuhannya.
• Blansing yaitu perlakuan panas ringan, sebagai salah satu tahap dalam pengolahan dengan cara penggalengan, pembekuan, pengeringan atau fermentasi. Tujuan utama adalah menonaktifkan enzim disamping mengurangi populasi mikroorganisme pada bahan pangan tersebut.

2. Pengawetan Secara Kimia
Penggunaan Bahan Tambahan Makanan
Adalah menggunakan bahan kimia untuk mengawetkan pangan harus dipilih yang tidak berbahaya bagi tumbuh manusia serta mampu mencegah berbagai tipe pembusukan pada umumnya. Sistem pengawetan yang paling banyak dilakukan, karena dianggap yang paling murah dan mudah, yaitu:
1. Dengan nilai pH rendah yaitu di bawah 55 dengan penamahan asam organik, ataupun asam-asam lainnya misalnya terhadap serealia (jagung, beras, dan sebagainya)
2. Dengan larutan garam, misalnya pembuatan ikan asin
3. Dengan larutan gula, misalnya dengan pembuatan kue-kue, dodol, manisan dan lainnya.
4. Dengan fungsi fumigasi, misalnya gas etilen oksida, propilin oksida dan sebagainya.
Aktivitas bahan pengawet ternyata berbeda-beda, misalnya asam cuka, asam sitrat, asam fosfat dapat menurunkan PH dari bahan makanan dan akibatnya pertumbuhan mikroorganisme pembusuk akan terhambat. Bahan-bahan pengawet seperti garam-garam benzoate, sorbet, sulfit dan propionate menghambat metabolisme mikroorganisme atau bersifat racun untukknya.
Bahan pengawet terdiri dari senyawa-senyawa kimia baik organic maupun anorganik dapat berbentuk asam atau garamnya. Aktivitas pengawet tidak sama, ada yang efektif untuk jamur, bakteri, khamir, kapang, atau bekerja secara kimia sebagai anti oksidan.
3. Pengawetan Secara Mikobiologi
Fermentasi digunakan untuk dua tujuan yaitu mengawetkan bahan pangan dengan cara menekan pertumbuhan mikroorganisme pembusuk dengan senyawa-senyawa seperti alcohol, asam cuka, asam laktat, dan lainnya. Zat-zat kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang dibiakkan dalam proses fermentasi.Jadi pengawetan kita menumbuhkan mikroorganisme yang berguna secara selektif. Hal ini dapat tercapai dengan menambahkan garam, gula, starter, mengatur, kondisi lingkungan seperti suhu, oksigen dan lain-lain.
Pengawetan dengan fermentasi pada dasarnya hanya memupuk kegiatan mikroba yang berperan dan diharapkan adanya fermentasi, sedangkan mikroba lain yang dianggap menghambat atau merusak produk dan proses fermentasi akan dihambat.

IV. KESIMPULAN
Pengawetan dilakukan untuk memperpanjang umur simpan (lamanya suatu produk dapat disimpan tanpa mengalami kerusakan) sehingga menghambat laju dekomposisi bahan pangan, dan mencegah kerusakan dalam bahan pangan. Pengawetan pangan dapat dilakukan secara fisika, kimia, mikrobiologi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.https://buyungchem.wordpress.com/teknik-pengolahan-dan-pengawetan-makanan/

Anonim.https://suvihsuchan.wordpress.com/2012/11/11/pengolahan-dan-pengawetan-bahan-makanan/

Supli Effendi M. (2002) Teknologi Pengawetan Pangan. Penerbit Lemlit Unpas Bandung

Winarno, F. G, (1997). Pangan Gizi Teknologi dan Konsumen, Kimia Pangan dan Gizi, P.T Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.


(Dawload Versi PDF)


Tanggal Upload : 29-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 620 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


OLAHAN PANGAN BERBASIS GANYONG

Oleh : Puji Lestari, S.TP (Widyaiswara Pertama)

I.PENDAHULUAN
Kebutuhan dunia akan pangan terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan ini selain disebabkan meningkatnya jumlah penduduk. Pada saat ini diversifikasi pangan didorong oleh pemerintah untuk berkembang dimasyarakat. Bahan lokal yang merupakan pangan lokal sejak dulu seperti sagu di Maluku, Jagung di Madura, Ubi di Papua.
Program penganekaragaman konsumsi pangan yang telah diprogramkan oleh pemerintah tentang ketahanan pangan, peraturan Presiden No. 22 Tahun 2009 Tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis sumberdaya lokal. Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan pangan sumber-sumber pangan alternatif terus ditingkatkan, salah satunya bahan pangan yang cukup penting adalah karbohidrat. Banyak karbohidrat yang telah dimanfaatkan antaranya adalah beras, gandum, jagung, singkong, ubi jalar, sagu, sorgum dan sebagainya. Beberapa tanaman sumber karbohidrat sebenarnya juga banyak terdapat di masyarakat namun belum banyak diperhatikan, salah satu diantaranya adalah ganyong.
Ganyong (C.edulis) merupakan tanaman yang efisien, kelebihan ganyong dengan umbi-umbian yang lain yaitu umbi yang dapat dimakan mencapai 68 % dari berat rimpang segar, mengandung banyak serat dan zat besi lebih tinggi dibandingkan kentang serta menghasilkan tepung amilum 4-10 ton per hektar. Amilum ganyong mudah dicerna dan sebagian besar berbentuk butiran. Butiran ganyong 100 kali lebih besar dibandingkan butiran amilum pada tumbuhan golongan talas-talasan (Araceae). Umbi ganyong selain digemari masyarakat sebagai kudapan, juga sangat potensial untuk dijadikan sebagai bahan baku industri.
Ganyong merupakan bahan makanan sehat dan dapat diolah beraneka jenis bahan makanan kecil/snack dan pati, tepung dan lain-lain. Pati dan tepung ganyong dapat digunakan sebagai penganti tepung terigu dan mengandung karbohidrat tinggi. Kandungan gizi ganyong mempunyai kelebihan dibandingan dengan ubi kayu dan ubi jalar. Kadar amilosa ganyong hampir sama dengan ubi kayu dan ubi jalar tetapi tidak mengandung mengandung senyawa anti nutrisi seperti HCN dalam ubi kayu fenol dan oligosakarida dalam ubi jalar. Tanaman ganyong ini mempunyai kandungan kimia yang terletak di dalam rimpangnya, yaitu zat pati yang berguna sebagai sumber karbohidrat. Guna meningkatkan pemanfaatan ganyong sebagai sumber pangan maka perlu dilakukan pengolahan agar masyarakat lebih mudah mengkonsumsi sehingga memacu petani untuk memanfaatkan lahan untuk menanam ganyong tentu saja akan menambah penghasilan. Ganyong dapat diolah menjadi tepung, sohun, kue, ganyong dan sebagainya.
Permasalahan yang mendasar dalam pengolahan umbi ganyong menjadi tepung ganyong adalah ketersediaan bahan baku yang masih kurang. Pada saat ini jumlah produksi ganyong pun belum diketahui secara pasti karena penanamanya belum dibudidayakan dengan baik. Padahal bila diperhatikan umbi ganyong termasuk bahan pangan non beras yang cukup tinggi, khususnya kandungan fasfor, kalsium, dan karbohidrat. Ganyong memiliki komponen kimia berupa serat pangan dengan kadar yang cukup tinggi sehingga sangat baik dicerna oleh usus bayi atau orang sakit. Dengan mengolahanya menjadi tepung, maka dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk berbagai produk olahan pangan.

II.MENGENAL GANYONG
Ganyong berasal dari Amerika Selatan Masyarakat daerah ini telah mengenal tanaman ganyong sejak 2500 tahun sebelum Masehi dan telah memanfaatkan sebagai makanan sebelum mengenal padi dan singkong.
Tanaman ini dapat tumbuh di segala jenis tanah dan suhu udara serta tahan terhadap naungan. Namun demikian ganyong tidak tahan tumbuh di tempat yang terbuka dengan angin yang kuat karena tidak termasuk tanaman herba atau terna hingga mempunyai batang yang rapuh dan tidak tahan terhadap hembusan angin. Pada daerah yang mempunyai angin kencang, tanaman ini memerlukan lajur-lajur pelindung.
Ganyong dapat dimanfaatkan sebagai sayur atau digunakan untuk diambil patinya yang merupakan pati berkualitas tinggi. Pucuk daun dan tangkai daunnya dapat pula digunakan sebagai pakan ternak. Tepungnya yang baik dan mudah dicerna sangat dianjurkan untuk konsumsi bayi atau orang sakit.
Ganyong juga dikenal di banyak daerah salah satunya “buah tasbih”, “ubi pikul”. Ganyol atau “sinetra”. Selain itu dikenal juga nama quessland arrowroot atau edible canna. Di Indonesia pusat produksi ganyong terdapat di Jawa Tengah (Klaten, Wonosobo dan Purworejo) dan Jawa Barat (Majalengka, Sumedang, Ciamis, Cianjur, Garut, Subang dan Karawang).
Daerah yang telah membudidayakan ganyong secara intensif adalah daerah pengunungan Andes (Amerika Selatan). Didaerah ini dikenal dua varietas ganyong yaitu verdes dan morados. Verdes mempunyai umbi berwarna putih dengan daun hijau terang, sedangkan umbi morados tertutup sisik yang berwarna ungu.
Tanaman ini dibudidayakan secara teratur di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur Pembudidayaaan tidak teratur meliputi daerah D.I. Yogyakarta, Jambi dan Jawa Barat. Pada umumnya para petani yang telah membudidayakan tanaman ganyong tersebut melakukan penyiangan, pembumbunan tetapi memang belum dilaksanakan pemberantasan hama/penyakit.
Di Indonesia di kenal dua kultivar dan varietas ganyong, yaitu ganyong merah dan ganyong putih. Ganyong merah ditandai dengan warna batang, daun dan pelepahnya yang berwarna merah dan ungu, sedangkan yang warna batang,daun dan pelepahnya hijau dan sisik umbinya kecokletan disebut ganyong putih. Dari kedua tersebut mempunyai beberapa sifat sebagai berikut:
a.Ganyong merah
Memiliki batang lebih besar, agak tahan kena sinar dan tahan kekeringan, sulit menghasilkan biji, hasil umbi basah lebih besar tapi kadar patinya rendah dan umbi lazim dimakan segar (direbus)
b.Ganyong Putih
Memiliki batang lebih kecil dan pendek, kurang tahan kena sinar tetapi tahan kekeringan, selalu menghasilkan biji dan bisa diperbanyak menjadi anakan tanaman, hasil umbi basah lebih kecil, tapi kadar patinya tinggi dan hanya lazim diambil patinya.
Umbi ganyong memiliki kandungan yang relatif tinggi (23%) bila dibandingkan dengan umbi-umbian yang lain. Sehingga umbi ganyong dan produk olahannya sangat tepat dikonsumsi bagi balita, anak-anak, usia lanjut, dan penderita kekurangan zat besi. Kandungan karbohidrat umbi ganyong cukup tinggi, setara dengan umbi-umbian yang lain sehingga cocok dijadikan sumber energi
Serat kasar bagian dari pangan yang tidak dapat dihidrolisis oleh bahan-bahan kimia yang digunakan untuk menentukan kadar serat kasar, yaitu asam sulfat (H2S04 1,25%) dan natrium hidroksida (NaOH 1,25%), sedangkan serat pangan adalah bagian dari bahan pangan yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzim-enzim pencernaan. Oleh karena itu, kadar serat kasar nilainya lebih rendah dibandingkan dengan kadar serat pangan, karena asam sulfat dan natrium hidroksida mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk menghidrolisis komponen-komponen pangan dibandingkan dengan enzim-enzim pencernaan. Serat makanan dapat mengurangi resiko kanker yang disebabkan saluran pencernaan tidak sempurna, dan menurunkan kadar kolesterol. Serat makanan juga dapat membantu mengikat zat-zat karsinogenik. Umbi ganyong yang digunakan memiliki serat yang cukup tinggi, dan produk yang akan diolah ini adalah kulit dari umbi ganyong tersebut. Bagian dari umbi tersebut juga akan ikut sedikit terpotong sehingga menghasilkan serat kasar yang tinggi dan bahan yang digunakan adalah kulit ganyong yang akan menghasilkan serat lebih tinggi.

Komposisi Kimia Umbi Ganyong (tiap 100 g bahan)
Air : 75
Kalori(kal) : 95
Protein (g) : 1
Lemak (g) :0,1
Karbohidrat (g): 22,6
Kalsium (mg) : 21
Fasfor (mg) : 70
Besi (mg) : 20
Vitamin B1 (mg): 0,1
Vitamin C (mg) : 10
Rendemen (%):65

(Susanto dan Saneto, 1994)

Umbi ganyong kita konsumsi untuk memenuhi kebutuhan energi. Kandungan karbohidrat ganyong memang tinggi, setara dengan umbi-umbi yang lain, namun lebih rendah daripada singkong, tetapi karbohidrat umbi dan tepung ganyong lebih tinggi bila dibandingkan dengan kentang, begitu juga dengan kandungan mineral kalsium, fasfor dan besi. Dengan demikian ganyong sangat tepat bila digunakan untuk keragaman makanan sebagai pengganti beras. Kegunaan tanaman ganyong bagi kehidupan memang banyak sekali, tidak hanya untuk melengkapi pangan manusia tapi juga untuk pakan hewan. Bahkan hasil sisa atau bunganya dapat dimanfaatkan manusia untuk bahan bakar atau kompos, kegunaan ganyong ada dua yaitu kegunaan utamanya untuk diambil umbinya. Umbi yang masih muda bisa dimakan dengan cara membakar atau merebusnya lebih dulu bahkan kadang-kadang disayur, sedangkan yang tua untuk diambil tepungnya. Kegunaan yang lain merupakan kegunaan sampingan, misalnya daun dan batang untuk makanan ternak.

III.TEPUNG GANYONG
Berbeda dengan tepung-tepung lainnya, tepung ganyong berwarna kekuningan. Pembuatan tepung di Indonesia umumnya masih dikerjakan secara tradisional. Sedang di Negara yang telah maju telah diusahakan secara besar-besaran. Tepung ganyong sering digunakan untuk makanan bayi. Keistimewaan lainnya granul dari tepung ganyong sangat besar dengan bentuk oval dan panjangnya bisa mencapai 145 mikron lain lagi halnya dengan di Afrika, maka tepung ini umumnya digunakan untuk makanan ternak. Pemanfaatan ganyong dapat dibuat gaplek seperti halnya singkong, dan bahan makanan sejenisnya. Dari gaplek ganyong tersebut dapat pula dibuat tepung.
Permasalahan yang mendasar dalam pengolahan umbi ganyong menjadi tepung ganyong adalah ketersediaan bahan baku yang masih kurang. Pada saat ini jumlah produksi ganyong pun belum dibudidayakan dengan baik. Padahal bila diperhatikan umbi ganyong termasuk bahan pangan non beras yang cukup tinggi. Manfaat lain dari tepung ganyong adalah campuran untuk nasi jagung dan bahan campuran pembuatan bihun yang bahan utamanya biasanya dari tepung beras. Tepung ganyong memiliki komponen kimia berupa serat pangan dengan kadar yang cukup tinggi sehingga sangat baik dicerna oleh usus bayi atau orang sakit. Berikut cara pembuatan tepung ganyong:
1. Kupas kulit ganyong, dibersihkan dan dicuci
2. Diiris tipis seperti keripik. Irisan dilakukan menurut arah serat umbi
3 .Dijemur di bawah sinar matahari sampai irisan ganyong mudah dipatahkan
4. Ditumbuk, lalu tampi tepung yang dihasilkan
5. Ditumbuk lagi sampai halus sisa yang masih ada
6. Dilakukan pengayakan
7. Jadilah tepung ganyong yang diinginkan
8. Dikemas

Komposisi KimiaTepung Ganyong (tiap 100 g bahan)
Air : 14
Protein (g) : 0,7
Lemak (g) : 0,2
Karbohidrat (g) : 85,2
Kalsium (mg) : 8
Fasfor (mg) : 22
Besi (mg) : 1,5
Vitamin A (UI) : 0
Vitamin B (mg) : 0,4
Vitamin C (mg) : 0
(Susanto dan Saneto, 1994)

IV.Aneka Olahan Tepung Ganyong
Sesudah menjadi tepung ganyong, pengolahan menjadi lebih mudah dan beragam. Mau dibuat kue kering, brownies dan beragam pangan lainnya.
a.Kue Kering Ganyong
Bahan:
• 200 gram tepung ganyong
• 125 gram mentega
• 100 gram gula halus
• 1 butir kuning telur
• 15 gram susu bubuk
• 1 butir kuning telur olesan
• Selai nanas secukupnya sebagai hiasan
• Keju parut secukupnya untuk taburan cake case
Cara Membuat:
• Terlebih dahulu mentega, telur, gula halus dicampurkan, kemudian diaduk hingga rata
• Masukkan Tepung Ganyong hingga adonan kalis
• Cetak adonan sebesar kelereng, isi dengan selai nenas
• Olesi dengan kuning telur permukaannya kemudian taburi dengan keju parut
• Di oven hingga matang
b.Kue Kacang ganyong
Bahan:
• 200 gram margarin
• 200 gram gula halus
• 400 gram pati ganyong
• 50 g kacang sangrai
• 1 butir telur
Cara Membuat:
• Kocok gula dan margarine sampai halus
• Masukkan telur kocok sampai putih
• Tuang pati ganyong sedikit demi sedikit, aduk rata
• Cetak sesuai keinginan
• Masukkan ke Loyang yang telah diolesi margarin
• Oven sampai matang
c.Brownies kukus ganyong
Bahan:
• 100 gram tepung ganyong
• 125 ml minyak goreng
• 4 butir telur
• 50 gram cokelat bubuk
• 50 ml susu kental manis
• 100 ml air
Cara Membuat:
• Terlebih dahulu telur dan gula pasir dikocok selama 6 menit
• Tepung ganyong dan cokelat bubuk dimasukkkan dan dikocok selama 3 Menit, sisihkan
• Diwadah lain campurkan minyak goreng dengan air, dan susu
• Adonan tepung ganyong dan telur dimasukkan kemudian aduk rata dengan sendok
• Masukkan adonan ke dalam cetakan, kemudian kukus selama 20 menit Sampai matang
d.Ongol-ongol ganyong
Bahan:
• 250 gram tepung ganyong
• 750 cc air (kurang lebih 3 gelas)
• 250 gram gula jawa, disisir halus
• 1 lembar daun pandan
• ½ butir kelapa parut
• Garam halus
Cara Membuat:
• Campurkan tepung ganyong bersama 250 cc air. Aduk-aduk sampai tepung larut, sisihkan
• Masak sisa air bersama gula jawa, gula pasir dan pandan. Sesudah gula larut angkat dan saring. Taruh kembali di atas api dan didihkan
• Tuang adonan ke dalamnya sambil diaduk-aduk sampai kental Dan matang, angkat, kemudian tuang ke dalam Loyang
• Sisihkan sampai dingin, setelah itu dipotong-potong sesuai selera.
Gulingkan ke dalam kelapa parut yang sudah dengan garam.

V.PENUTUP
Ganyong merupakan bahan makanan sehat dan dapat diolah beraneka jenis bahan makanan kecil/snack dan pati, tepung dan lain-lain. Tepung ganyong dapat digunakan sebagai penganti tepung terigu dan mengandung karbohidrat tinggi dan sudah mulai dikembangkan sekarang ini dan tentu saja mempunyai potensi sebagai bahan pangan alternatif penganti beras.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. http: //kamiitp08.blogspot.com/2010/10/tepung-ganyong.html

Anonim.http://bkpd.jabarprov.go.id/kue-kering-ganyong/

Anonim.http://bkpd.jabarprov.go.id/membuat-brownies-ganyong-kukus/

Anonim.http://biogen.litbang.pertanian.go.id/index.php/2014/07/diversifikasi-olahan-bahan-pangan-lokal-berbasis-ubi-kelapa-ganyong-dan-sukun/

Anonim. 2009. Pengolahan Umbi Non Konvensial (Ganyong,Garut,Gadung, Gembili Dan Uwi).eBookPangan.com

Slamet, D. S. Dan I Tarwotjo.1980.Komposisi Zat Gizi Makanan Indonesia. Balitan Bogor.

Susanto dan Saneto, 1994. Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian. Bina Ilmu, Surabaya.

Syarief, R. dan A. Irawati, 1998. Pengetahuan Bahan Pangan Untuk Industri Pertanian Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta.


(Download versi PDF)

Tanggal Upload : 27-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 919 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]

Hal : 1  2  3  4  [ 5 ]  6  7  8  9  10  11  12  13 

INFORMASI PENGUNJUNG :


Browser : CCBot/2.0 (http://commoncrawl.org/faq/)

Anda adalah pengunjung kami yang ke : 491161

Statistik Pengunjung Web 6 Bulan Terakhir

8653
10953
9417
8610
8094
3431

01-2018

02-2018

03-2018

04-2018

05-2018

06-2018