Peta Utama
Peta SD Negeri
Peta SMP Negeri
Peta SMA Negeri
Your result will display here
 
 BERANDA |  ARTIKEL/ PUBLIKASI |  GALLERY |  BUKU TAMU |  HUBUNGI KAMI     

Beranda

Profil

Jadwal Kegiatan

Tautan Website

Sistem Informasi SDM

Sistem Informasi Diklat

Sistem Informasi Kelembagaan

Sistem Informasi Pengadaan Barang dan Jasa

Informasi Publik BPP Jambi

Denah Balai Pelatihan Pertanian Jambi

  PENCARIAN DATA :

MUTIARA HIKMAH :

"Dari Pada Mengutuki Kegelapan, Lebih Baik Ambil Sebatang Lilin dan Nyalakan”
(Pepatah Tiongkok)

Bagaimanakah Pendapat Anda Tentang Website ini?

 Baik Sekali
             59%
 Baik
             19%
 Cukup
             22%

Bagaimana pelayanan BPP Jambi

 Sangat Baik
             68%
 Baik
             28%
 Cukup
             4%

 
User ID :
Password :
 

LIVE CHAT

Pengelola Web Yahoo Messenger

ARTIKEL/ PUBLIKASI

Layanan ini disediakan dalam rangka penyebarluasan informasi kepada masyarakat umum. Data yang tersimpan dalam modul ini adalah data-data yang bersifat umum (bukan rahasia). Kami sangat menghargai jika kutipan yang Anda ambi dari artikel yang kami publikasikan ini Anda tidak lupa mencantumkan sumbernya www.bppjambi.info, dan Kami tidak bertanggungjawab atas segala bentuk penyalah gunaan yang timbul dikemudian hari.


TEKNIK SAMBUNG SAMPING TANAMAN KAKAO

I. PENDAHULUAN

Beberapa program terkait pengembangan perkebunan kakao yang dicanangkan pemerintah adalah peremajaan perkebunan kakao yaitu dengan merehabilitasi tanaman kakao yang sudah tua, karena tanaman kakao yang sudah cukup tua produksinya menurun. Menurut hasil penelitian tanaman kakao yang berusia diatas 25 tahun produksinya menurun menjadi 50% dari potensi produksi yang dimilikinya.
Keadaan pertanaman yang kurang produktif tersebut mendorong petani untuk melakukan peremajaan, dan penanaman ulang. Namun, petani lebih tertarik melakukan sambung samping untuk peremajaan tanaman yang kurang produktif atau sudah tua dibandingkan dengan cara membongkar dan tanam ulang, karena dengan sambung samping petani masih dapat memungut hasil buah kakao dan dapat menikmati pembuahan kakao yang lebih cepat dari keberhasilan teknik sambung samping.


II. TUJUAN

1. Memberikan gambaran tentang perbaikan tanaman kakao yang sudah tua tanpa harus membongkar tanaman tersebut.
2. Memberikan informasi tentang cara peremajaan tanaman kakao dengan Teknik Sambung Samping dengan menggunakan klon unggul.


TEKNIK SAMBUNG SAMPING KAKAO

A. Mengenal Teknik Sambung Samping
Teknik sambung samping adalah teknik perbaikan tanaman tua tanpa harus membongkar tanaman. Pada prinsipnya teknik sambung samping menggabungkan atau menyambung batang bawah dengan klon yang dikehendaki.
Teknologi ini semula dikembangkan di Malaysia dan setelah banyak penyempurnaan kini sudah luas diterapkan para petani di Indonesia. Dengan teknologi ini petani tidak mengalami kehilangan hasil dari batang bawahnya. Tanaman hasil sambung samping mulai dapat dipetik buahnya pada umur 18 bulan setelah disambung, dan setelah berumur 3 tahun hasil buah sebanyak 15-22 buah per pohon.
Teknik ini menggunakan batang atas (entres) dari kakao klon unggul yang dikehendaki kemudian disambungkan pada batang bawah tanaman kakao dengan tujuan untuk menghasilkan tanaman baru yang lebih produktif. Secara ekonomis teknik sambung samping cukup menguntungkan, adapun keuntungan yang lain adalah sebagai berikut :
a) Areal pertanaman kakao dapat direhabilitasi dalam waktu singkat.
b) Diperoleh tanaman yang kuat terhadap berbagai gangguan iklim.
c) Menekan biaya pembongkaran tanaman di lahan
d) Bibit murah, lebih cepat berproduksi dibandingkan dengan okulasi.
e) Sementara batang atas hasil sambung samping belum berproduksi, hasil buah dari batang bawah dapat dipertahankan.
f) Batang bawah berfungsi sebagai penaung sementara bagi batang atas yang sedang tumbuh.
g) Memperbaiki klon - klon tanaman yang telah ditanam apabila klon tanaman tersebut sudah tidak dikehendaki.

B. Persyaratan Penting dalam Sambung Samping
Sebelum melaksanakan teknik sambung samping, maka persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi untuk dapat dilakukan rehabilitasi dengan menggunakan teknik sambung samping meliputi persyaratan kebun, batang atas atau entres, dan batang bawah atau roodstock.

1. Persyaratan Kebun
Kebun kakao yang akan direhabilitasi adalah kebun hamparan dengan kondisi sebagai berikut :
- Jumlah tegakan/populasi tanaman antara 70%- 90% dari jumlah standar (1000 phn/Ha).
- Jumlah pohon pelindung > 70% dari standar.
- Lahan memenuhi persyaratan kesesuaian, meliputi : curah hujan 1500-2500 mm (sangat-sesuai) dan 1250- 1500 mm atau 2500- 3000 mm (sesuai); lereng 0-8% (sangat sesuai) dan 8- 15% (sesuai).

2. Persyaratan Batang Atas
Batang yang akan dijadikan batang atas mempunyai persyaratan sebagai berikut :
- Cabang berasal dari pohon yang kuat
- Perkembangannya normal
- Bebas dari hama dan penyakit
- Bentuk cabang lurus dan diameternya disesuaikan dengan batang bawah ± 1 cm.
Persiapan dalam pengambilan batang atas yaitu sebagai berikut :
- Entres diambil dari pohon entres kebun produksi
- Mempunyai produksi stabil
- Tahan hama dan penyakit utama kakao
- Klon anjuran untuk batang atas yaitu ICS60, ICS 13, TSH 858, UIT 1, GC 7, RCC 70, RCC 71, RCC 72, DAN RCC 73.
- Entres berupa cabang plagiotrop berwarna hijau atau hijau kecoklatan dan sudah mengayu, dengan ukuran diameter 0.75-1.50 cm.
- Panjang cabang ± 40 cm
- Entres yang telah diambil langsung disambung pada hari itu juga

Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam perbanyakan vegetatif tanaman kakao khususnya sambung samping adalah kesegaran entres. Berdasarkan kenyataan dilapangan kesegaran bahan entres kakao perlu dijaga untuk menjamin tingkat keberhasilan dalam penyetekan kakao. Hal ini ditunjukkan dengan semakin lama entres kakao disimpan maka semakin banyak energi yang digunakan, sehingga pada saat disambungkan terjadi penurunan persentase sambungan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan lainnya adalah kebersihan bahan dan alat, ketajaman pisau okulasi, serta keadaan cuaca selama okulasi.

3. Persyaratan Batang Bawah
Tanaman kakao yang akan di sambung samping adalah tanaman yang tidak produktif lagi atau sudah tua tanaman tersebut lebih dari 25 tahun. Kondisi tanaman kakao yang akan di sambung samping memiliki harus memiliki syarat batang bawah sebagai berikut :
a) Batang bawah harus sehat, kulit batang mudah dibuka atau warna kambiumnya putih bersih.
b) Apabila batang bawah kurang sehat, sebelum penyambungan lakukan pemupukan, pemangkasan, penyiangan gulma serta pengendalian hama dan penyakit.

C. Teknik Sambung Samping

Siapkan alat dan bahan
Dalam pelaksanaan penyambungan samping pada kakao, maka bahan-bahan dan alat-alat harus dipersiapkan terlebih dahulu, supaya dalam pelaksanaan bisa berjalan dengan lancar.
Bahan dan alat yang perlu disiapkan antara lain batang bawah, entres klon unggul, gunting pangkas, pisau okulasi, kantong plastik ukuran 18 x 8,5 cm dengan tebal 0,01 mm (kantong gula pasir 0,25 kg), dan tali rafia yang telah dipotong - potong ± 1,25-1,50 m.

Teknik menyambung :
1) Penyambungan sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan.
2) Batang bawah dikerat pada ketinggian ± 50 cm dari permukaan tanah.
3) Entres yang digunakan untuk sambung samping di potong miring atau potongan disesuaikan penempatan pada batang bawah tanaman kakao.
4) Kulit batang diiris pada dua sisi secara vertikal dengan pisau okulasi, lebar 1-2 cm dan panjang ± 2-4 cm (sama dengan ukuran entres yang akan disambung sambung samping).
5) Kulit sayatan dibuka dengan hati-hati, entres dimasukkan ke dalam lubang sayatan sampai ke dasar sayatan.
6) Sisi entres yang telah disayat miring diletakkan menghadap batang bawah.
7) Tutup kulit sayatan tekan dengan ibu jari tutup dengan plastik kemudian diikat kuat dengan tali rafia.
8) Biarkan selama 2 atau 3 minggu.

Setelah dua sampai tiga minggu maka sambung samping sudah dapat dilihat, apakah berhasil atau tidak, ditandai entres masih segar sedangkan yang tidak berhasil kulit mengering atau busuk. Kemudian sambung samping yang jadi plastik penutup dapat dibuka setelah tunas tumbuh sepanjang ± 2 cm dengan cara bagian atas kantong plastik disobek. Lakukan pemeliharaan pada batang yang disambung samping meliputi segala aspek yaitu :
1. Penyiraman
Lakukan penyiraman secukupnya secara rutin, buang tunas air yang tumbuh disekitar batang atas terutama dekat tempat penyambungan.
2. Pemangkasan
Kegiatan pemangkasan meliputi : 1) pemangkasan pemeliharaan dilakukan pada umur 7-10 hari setelah penyambungan dengan mengurangi ranting yang terlalu rimbun, 2) tunas batang atas diikatkan kebatang bawah agar pertumbuhan mengarah keatas, 3) Setelah 3 bulan pelaksanaan sambung samping sebaiknya tajuk batang bawah dipangkas. Batang bawah dapat dipotong total bila batang atas telah tumbuh kuat dan berbuah, caranya potong miring pada ketinggian ± 60cm diatas pertautan, luka bekas potongan dioles dengan TB 192, serta 4) tajuk batang bawah yang menaungi tunas hasil sambungan dipangkas seperdua bagian diatas sambungan.
3. Penyiangan dan Pemupukan
Penyiangan dilakukan dengan cara membuang gulma disekitar tanaman pokok, biasanya kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan pendangiran dan pemupukan. Pemupukan dilakukan 2 kali, yaitu sebulan sebelum penyambungan dan sebulan setelah penyambungan.
4. Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan bila terjadi serangan, namun sebaiknya dilakukan pencegahan seperti sanitasi lingkungan disekitar tanaman kakao, mengubur buah atau ranting / batang tanaman yang terserang hama penyakit.


IV. KESIMPULAN

Teknik sambung samping kakao adalah teknik perbaikan tanaman tua tanpa harus membongkar tanaman. Tujuan untuk menghasilkan tanaman baru yang lebih produktif dan secara ekonomis dapat menekan biaya pengeluaran serta cukup menguntungkan. Sambung Samping Kakao dapat dilakukan apabila tanaman kakao sudah berusia diatas 25 tahun dan produksinya menurun menjadi 50% dari potensi produksi yang dimilikinya. Gunakan entres klon unggul yang disesuaikan dengan adaptasi tumbuhnya, untuk menghasilkan sambung samping yang baik.
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam perbanyakan vegetatif tanaman kakao khususnya sambung samping adalah kesegaran entres. Berdasarkan kenyataan dilapangan kesegaran bahan entres kakao perlu dijaga untuk menjamin tingkat keberhasilan dalam penyetekan kakao. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan lainnya adalah kebersihan bahan dan alat, ketajaman pisau okulasi, serta keadaan cuaca selama okulasi.


DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim. 2008. http://agroinovasinusantara.wordpress.com /tag/sistem-sambung-samping/, posted 24 Oktober 2008
2. Anonim. 2010. http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/2073810-morfologi-tanaman-kakao/, posted 13 Nopember 2010
3. Anonim. 2012. http://bengkeldesaintanamancacao.blogspot.com/, posted 11 April 2011
4. Anonim. 2012. http://fajarcelebes.blogspot.com/2012/07/langkah-langkah-sambung-samping-tanaman_28.html, posted 28 Juli 2012
5. Muhammad Kadir, 2011. Pertumbuhan Hasil Sambung Samping Tanaman Kakao dengan Ketinggian Pemotongan Batang Utama Yang Berbeda. Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan.
6. Septyan Adi Pramana. 2012. Teknik Sambung Samping Pada Kakao (Theobroma cacao L.). BBP2TP, Surabaya.


Penulis : Puguh Nugroho, SST ( Widyaiswara Pertama )
Publish : 30 Maret 2015

(Download versi PDF)

Tanggal Upload : 30-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 491 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


TEKNIK PERBANYAKAN BIBIT KARET POLA KAKI TIGA

I. PENDAHULUAN

Peningkatan produksi karet yang optimal harus dimulai dengan pemilihan klon yang unggul, penggunaan bibit yang berkualitas sebagai batang bawah dan batang atas serta pemeliharaan yang baik. Pemilihan klon karet yang unggul tidak pernah terlepas dari penggunaan batang bawah yang berguna untuk memperbaiki sifat bahan tanaman karet agar dapat berproduksi secara optimal dan tahan terhadap jamur akar putih yang disebabkan oleh Rigidoporus lignosus. Batang bawah yang digunakan untuk perbanyakan tanaman karet dengan cara Perbanyak Bibit Karet Pola Kaki Tiga (3 in 1) dengan menggunakan klon unggul diharapkan menghasilkan pertumbuhan tanaman dan hasil getah karet optimal.
Bibit karet 3 in 1 merupakan salah satu perbanyakan tanaman karet secara vegetatif, karena inovasi bibit karet 3 in 1 ini dianggap baru bagi pelaku penangkar bibit atau pembudidaya maka diperlukan bimbingan atau pembinaan secara berkesinambungan dari peneliti, penyuluh dan widyaiswara tentang bibit karet ini agar menghasilkan bibit unggul yang diinginkan. Sehingga keberadaan bibit karet 3 in 1 ini dapat membantu peningkatan hasil produksi lateks yang lebih baik bagi pembudidaya karet di seluruh Indonesia.


II. TUJUAN

1. Memberikan gambaran tentang pentingnya penggunaan klon unggul dalam perbanyakan bibit, khususnya Bibit Karet Pola Kaki Tiga (3 in 1).
2. Memberikan informasi tentang cara perbanyak tanaman Bibit Karet Pola Kaki Tiga (3 in 1).


III. TEKNIK PEMBIBITAN KARET POLA KAKI TIGA

A. Klon Unggul
Klon Unggul Karet adalah suatu kelompok tanaman dalam suatu jenis spesies tertentu yang diperbanyak secara vegetatif dengan menggunakan organ tanaman tertentu dan kelompok tersebut memiliki sifat tahan terhadap serangan hama penyakit, cepat menghasilkan lateks, banyak menghasilkan lateks dan dapat digunakan secara luas dengan penciri tertentu yang berbeda sesuai sifat yang dimiliki oleh kelompok tanaman lain yang juga diperbanyak secara vegetatif pada jenis yang sama. Karena diperbanyak secara vegetatif maka tingkat keseragaman genetik suatu klon tinggi dan sama dengan induknya. Kalau terjadi ketidak stabilan sifat suatu klon bukan karena faktor genetik, akan tetapi karena adanya perbedaan antar lokasi penanaman.
Klon unggul baru merupakan syarat utama agar komoditas karet dapat menghasilkan produksi  dengan tingkat produktivitas yang tinggi sehingga dapat mendukung Indonesia menuju produsen karet terbesar dunia. Dalam upaya memperoleh klon-klon unggul, para peneliti dan pemulia tanaman terus menerus melakukan penelitian untuk menghasilkan klon karet unggul baik penghasil lateks, maupun lateks-kayu. 
Balai Penelitian Karet Sembawa telah menghasilkan klon-klon karet unggul yang direkomendasikan untuk periode tahun 2010-2014. Sistem rekomendasi disesuaikan dengan Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman  yang menyebutkan bahwa klon/varietas yang dapat disebarluaskan kepada pengguna harus berupa benih bina. Klon anjuran komersial dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok klon penghasil lateks dan penghasil lateks-kayu, yaitu :
1. Klon penghasil Lateks, klon unggul anjuran yaitu IRR 104, IRR 112, IRR 118, IRR 220, BPM 24, PB 260, PB 330 dan PB 340.
2. Klon penghasil Lateks-Kayu, klon unggul anjuran yaitu RRIC 100, IRR 5, IRR 39, IRR 42, IRR 107 dan IRR 119.
3. Benih anjuran untuk Batang Bawah, klon unggul anjuran yaitu AVROS 2037, GT 1, BPM 24, PB 260, RRIC 100 dan PB 330.
(Sumber : Rekomendasi Klon Karet Unggul Periode 2010-2014 (Balai Penelitian Sembawa – Pusat Penelitian Karet Deptan))

B. Keuntungan Bibit Karet Pola Kaki Tiga (3 in 1)
Bibit Karet dengan akar tunggang tiga atau 3 in 1 ini mempunyai beberapa ke unggulan atau kelebihan :
1) Akar tunggang tidak putus seperti bibit yang di okulasi karena penanaman bibit batang bawah langsung dilakukan di Polybag
2) Bisa meminimalisir terjangkitnya jamur akar karena akar tungang tidak putus
3) Tidak mudah tumbang atau roboh dari pangkal ketika ada angin kuat, karena memiliki batang dan perakaran yang kuat ( 3 akar tunggang )
4) Pertumbuhan sangat kokoh karena di tunjang dengan akar tunggang tiga
5) Serapan unsur hara menjadi lebih banyak dari akar ke batang
6) Pemeliharaan yang rutin akan lebih cepat besar dan lebih cepat produksi getah karet atau lateks.
.
C. Teknik Pembibitan Karet Pola Kaki Tiga (3 in 1)
Bibit karet 3 in 1 merupakan salah satu perbanyakan tanaman karet secara vegetatif, karena inovasi bibit karet 3 in 1 ini dianggap baru bagi pelaku penangkar bibit atau pembudidaya maka diperlukan bimbingan atau pembinaan secara berkesinambungan dari peneliti, penyuluh dan widyaiswara tentang bibit karet ini agar menghasilkan bibit unggul yang berkualitas. Sehingga keberadaan bibit karet 3 in 1 ini dapat membantu peningkatan hasil produksi lateks yang lebih baik bagi pembudidaya karet di seluruh Indonesia.
Hal yang paling penting dalam penanaman karet adalah penggunaan bibit/bahan tanam unggul, dalam hal ini penulis mencoba membahas bahan tanam yang berasal dari Bibit Karet 3 in 1. Persiapan bahan tanam yang dilakukan dibagi menjadi tiga komponen yang perlu disiapkan, yaitu: batang bawah (root stoct), entres/batang atas (budwood), dan okulasi (grafting) Bibit karet 3 in 1.
Catatan Penting : Permasalahan yang terjadi dilapangan pembibitan karet 3 in 1 hanya sebatas menggabungkan 3 (tiga) tanaman batang bawah saja tanpa mengokulasi lagi batang bawah dengan mata entres unggul (di Okulasi kembali), hal ini yang menyebabkan dilapangan bibit karet 3 in 1 hasil lateksnya sama dengan bibit karet yang berasal dari biji murni.
Kualitas dan standar mutu pembibitan karet 3 in 1 harus memperhatikan mulai dari biji untuk batang bawah sampai bibit karet yang siap ditanam dilapang (klon).

1) Persiapan batang bawah (root stoct)
a. Syarat kebun sumber biji untuk batang bawah yaitu :
* Terdiri dari klon monoklonal anjuran untuk sumber benih.
* Kemurnian klon minimal 95%.
* Umur tanaman 10 - 25 tahun.
* Pertumbuhan normal dan sehat
* Penyadapan sesuai normal.
* Luas blok minimal 15 ha.
* Topografi relatif datar.
Benih tanaman yang digunakan untuk batang bawah adalah GT 1, PR 300, PR 228, AVROS 2037, LCB 1320, PB 260, RRIC 100, dan BPM 24.
Sumber benih yang terjamin kualitasnya bisa diperoleh dari :
* PT London Sumatera Plantation.
* Balai Penelitian Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia.
* Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia.
* Balai Penelitian Getas, Pusat Penelitian Karet, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia.
Dalam memperoleh batang bawah juga dapat di ambil dari kebun sendiri, yaitu mengambil biji-biji dari kebun yang memiliki persyaratan kebun sumber biji untuk dijadikan bibit berdasarkan klon anjuran sebagai batang bawah yang baik seperti GT 1, PR 300, PR 228, AVROS 2037, LCB 1320, PB 260, RRIC 100, dan BPM 24. Biji yang digunakan harus Biji masih segar, bernas, mengkilat, tidak berlobang dan tidak cacat.

2) Persiapan batang atas (budwood)
Penyediaan lahan untuk batang atas (budwood) atau mata entres harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
* Lahan harus bersih dari sisa-sisa tunggul agar mencegah bibit tanaman terserang penyakit jamur busuk akar.
* Menggunakan klon anjuran seperti BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217 dan PB 260. Namun pada umumnya yang cocok dan sesuai kebutuhan dilapangan adalah Generasi ke 4  PB260.
* Lubang tanam 60 x 60 x 60 dengan jarak tanam 1 x 1 meter.
* Batas blok per klon 2 meter.
* Perawatan secara intensif seperti melakukan wiwilan, pemupukan sesuai anjuran dan penyiangan.
* Pemanenan entres dilakukan setelah 4 payung.

3) Teknik pembuatan bibit akar 3 in 1
Cara pembuatan bibit akar tunggang tiga atau 3 in 1 merupakan penambahan dari sistem perbanyakan okulasi, yaitu batang bawah yang digunakan 3 tanaman otomatis memiliki tiga akar tunggang. Adapun langkah-langkah kegiatannya sebagai berikut ini :
* Siapkan media tanam tanah + pupuk kandang ( 3 : 1 ), aduk rata.
* Persiapkan polibag ukuran 15 x 30 cm kemudian di isi media sampai penuh dan padatkan
* Susun rapi polybag di lokasi pembibitan.
* Setelah itu siram setiap hari polibag dan tunggu sampai maksimal 30 hari agar pupuk kandang tadi mengurai dengan tanah yang ada dalam polybag.
* Persiapkan biji karet klon unggul untuk dijadikan batang bawah.
* Kemudian tanam langsung 3 biji di polybag, tetapi ini mempunyai kelemahan karena belum tentu tumbuh semua. Namun bisa menggunakan metode lain dengan membuat semaian biji karet di buat kecambah dulu baru ditanamkan dalam polibag karena sistem ini kita sudah tahu bahwa biji karet itu telah tumbuh menjadi kecambah.
* Lakukan penanaman dalam polibag tiga kecambah atau biji.
* Lakukan pemeliharaan seperti penyiraman setiap hari secara intensif sampai 2 atau 3 bulan batang karet tadi mencapai diameter 3 mm setiap batang. Dalam pembibitan 3 in 1 ini ada 2 perlakuan yang harus dilakukan yaitu :

a. Penggabungan 3 batang tanaman
- Setelah mencapai mencapai diameter 3 mm setiap batang lakukan penggabungan 3 batang karet dalam satu polibag dengan cara kupas sebagian batang karet.
- Kemudian pada bagian yang dikupas digabungkan atau ditempelkan ketiga batang tersebut dan lakukan pengikatan batang karet menjadi satu. Untuk pengikatan batang karet menggunakan plastik khusus (plastik es), sering di gunakan untuk okulasi dan banyak tersedia di pasaran.
- Setelah itu tunggu sekitar 21 hari yang tentunya masih rutin penyiraman secukupnya setiap hari.
Perlu diingat sewaktu penyiraman pada fase ini jangan sampai air kena plastik pengikat di batang karet tersebut bias mengakibatkan pembusukan pada batang karet.
- Melewati sekitar 21 hari buka pengikat pada batang karet dalam polibag karena sudah menggabung, hal ini di tandai :
* Batang karet sudah menyatu / menempel.
* Batang karet yang menempel sudah berwarna kehijau-hijauan.
- Kemudian diamkan selama 7 hari setelah itu baru pangkal batang atas tinggalkan 1 batang yang ingin dijadikan sebagai batang atas.
- Dalam pemilihan batang atas perlu di perhatikan :
* Pilih pertumbuhan yang subur
* Pilih klon yang ingin tinggalkan sebagai batang atas
- Pemeliharaan bibit selama 2 – 3 bulan agar siap di okulasi atau diameter sudah lebih dari 12 mm, kegiatan meliputi penyiraman, penyiangan, pemupukan NPK 10 – 15 gram/polybag perbulan dan pengendalian hama dan penyakit.

b. Okulasi batang bawah
- Batang yang di okulasi hendaknya dibersihkan dari kotoran / tanah (di lap menggunakan tangan atau sarung tangan). Tujuannya agar kotoran tanah tidak menempel pada batang Kambium yang di sayat kulit karetnya.
- Pembuatan jendela okulasi (tempat menempelnya entres), di iris vertikal pada bagian kulit hingga menyentuh batas kambium.
- Selanjutnya persiapan mata okulasi (mata okulasi yang baik diambil dari mata yang berada di bekas ketiak daun), mata okulasi di iris dengan ukuran lebar yang sudah disesuaikan dengan pembuatan jendela okulasi.
- Penyayatan mata okulasi dilakukan dengan mengikut sertakan sedikit bagian kayu, lepaskan kulit dari kayu dengan hati-hati dengan cara menarik bagian kayu yang ikut tersayat
- Mata okulasi diusahakan tidak tergores dan kotor, mata okulasi yang baik pada bagian dalam ada titik putih yang menonjol, (apabila kulit bagian dalam berlubang berarti matanya tertinggal  pada bagian kayu, mata okulasi seperti ini tidak boleh)
- Penempelan mata okulasi segera dilakukan pada saat jendela okulasi dibuka, kemudian batang bawah dibalut menggunakan plastik Okulasi.
- Langkah terakhir setelah berumur 21 hari keatas bukalah plastik pembungkusnya. Untuk bibit karet akar tunggang atau 3 in 1 yang siap tanam perhatikan pada gambar ilutrasi.

4) Pemeliharaan pembibitan
Kegiatan pemeliharaan dilakukan selama 2 - 3 bulan atau bibit karet 3 in 1 sudah memiliki 1 payung atau 2 payung, maka bibit tersebut siap untuk ditanam di lapangan.
* Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari, jika kondisi kemarau maka dilakukan 2 kali penyiraman pagi dan sore.
* Penyiangan dan pemupukan
Penyiangan yaitu kegiatan membuang rumput / gulma disekitar pembibitan, tujuannya untuk mengurangi persaingan dengan tanaman pokok. Biasanya penyiangan dilakukan bersamaan pemupukan, kegiatan pemupukan dilakukan dengan pemberian 10 – 15 gram/polybag perbulan atau bisa menambahkan pupuk daun dengan cara penyemprotan seperti Gandasil dan Growmore
* Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan apabila tingkat serangan sudah melebihi dari 10 % pembibitan terserang. Salah satu pencegahan dalam pengendalian hama dan penyakit yaitu dengan cara penggunaan bibit unggul yang sehat dan bebas dari hama penyakit dan sanitasi di lingkungan pembibitan.


IV. KESIMPULAN

Klon unggul baru merupakan syarat utama agar komoditas karet dapat menghasilkan produksi  dengan tingkat produktivitas yang tinggi sehingga dapat mendukung Indonesia menuju produsen karet terbesar dunia.
Rekomendasi Klon Karet Unggul Periode 2010-2014 berdasarkan Balai Penelitian Sembawa – Pusat Penelitian Karet Kementan yaitu ;
* Klon anjuran batang bawah adalah GT 1, PR 300, PR 228, AVROS 2037, LCB 1320, PB 260, RRIC 100, dan BPM 24
* Klon anjuran seperti BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217 dan PB 260. Namun pada umumnya yang cocok dan sesuai kebutuhan dilapangan adalah Generasi ke 4  PB260.
Kualitas dan Standar Mutu Pembibitan Karet Pola Kaki Tiga (3 in 1) meliputi kegiatan yaitu Persiapan batang bawah (root stoct), Persiapan batang atas (budwood), Teknik Pembuatan bibit akar 3 in 1 (Penggabungan 3 batang tanaman dan Okulasi batang bawah) serta Pemeliharaan pembibitan


DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim. 2011. http://kabarsukses.com/bibit-karet-dengan-akar-tunggang-tiga.html, posted 3 Nopember 2011
2. Anonim. 2012. http://pembibitankaret.info/, posted 13 Maret 2012
3. Anonim. 2012. http://dhedie100.blogspot.com/2012/05/bibit-karet-3-in-1-plus.html, posted 2 Mei 2012
4. Anonim. 2012. http://betaraubd.blogspot.com/2012/09/perawatan-bibit-karet-dengan-akar.html, posted 10 September 2012
5. Asosiasi Perkebunan Karet. 2012. http://bibitkaretunggulan.blogspot.com/ 2012/10/rekomendasi-klon-bibit-karet-unggul.html, posted 26 Oktober 2012
6. Balai Penelitian Sembawa, 2005. Pengelolaan Bahan Tanam Karet. Pusat Penelitian Karet, Balai Penelitian Sembawa, Palembang.
7. Ditjen. BP Perkebunan. 2004. Statistik Perkebunan Indonesia 2002-2003:Karet. Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Jakarta.


Penulis : Puguh Nugroho, SST ( Widyaiswara Pertama )
Publish : 30 Maret 2015

(Download versi PDF)

Tanggal Upload : 30-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 1624 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


PENANGANAN PASCA PANEN KAYU MANIS

Oleh : Abdul Roni Angkat, S.TP. M.Si (Widyaiswara Muda)


Indonesia merupakan negara penghasil kayu manis terbesar di dunia dengan pangsa pasar mencapai 31.06% terhadap nilai total ekspor dunia pada tahun 2002 - 2007 (Jaya, 2010). Berdasarkan data tersebut di atas sudah selayaknya mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki dengan intensifikasi budidaya serta penerapan mekanisasi dalam proses pengolahan hasil perkebunan kayu manis. Oleh karena itu, sangat penting sekali mengetahui proses penanganan pasca panen kayu manis dan mesin-mesin yang digunakan untuk menjadkan kayu manis menjadii komoditas unggulan yang bernilai ekspor tinggi.

Tanggal Upload : 29-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 490 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


PENGAWETAN PANGAN

Oleh : Puji Lestari, S.TP (Widyaiswara Pertama)

I.PENDAHULUAN

Makanan merupakan kebutuhan pokok bagi setiap manusia, karena didalamnya terkandung senyawa-senyawa yang sangat diperlukan untuk memulihkan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak, mengatur proses di dalam tubuh, perkembangbiakan dan menghasilkan energi untuk kepentingan berbagai kegiatan dalam kehidupannya. Kebutuhan manusia akan makanan diperoleh dari berbagai sumber nabati maupun hewani .
Pada dasarnya makanan merupakan campuran berbagai macam senyawa makanan, yang dapat dikelompokkan ke dalam karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. Bahan makanan terdiri 99,9% dari bahan-bahan lain sepperti pigmen, zat cita rasa dan zat-zat aditif.
Pengolahan (pengawetan) dilakukan untuk memperpanjang umur simpan produk pangan. Proses pengolahan apa yang akan dilakukan,tergantung pada berapa lama umur simpan produk yang diinginkan, dan berapa banyak perubahan mutu produk yang dapat diterima.Berdasarkan target waktu pengawetan, maka pengawetan dapat bersifat jangka.Pendek atau bersifat jangka panjang. Pengawetan jangka pendek dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya penanganan aseptis, penggunaan suhu rendah (<200C), pengeluaran sebagaian air bahan, perlakuan panas, mengurangi keberadaan udara, penggunaan pengawet dalam konsentrasi rendah, fermentasi, radiasi dan kombinasinya. Pada prinsipnya pengawetan pangan ditujukan untuk terjadinya perubahan-perubahan yang tidak diinginkan pada produk pangan, yaitu menurunnya nilai gizi dan mutu sensori pangan, dengan cara mengontrol pertumbuhan mikroorganisme, mengurangi terjadinya perubahan-perubahan kimia, fisik dan fisiologis alami yang tidak diinginkan, serta mencegah terjadinya kontaminasi.

II. TUJUAN
Memberikan informasi tentang macam-macam pengawetan pangan

III. MACAM-MACAM PENGAWETAN PANGAN
Secara garis besar pengolahan dan pengawetan makanan dibagi mejadi 3, yaitu:
a. Pengawetan secara fisika
b. Pengawetan secara kimia
c. Pengawetan secara mikrobiologi
Pengwetan secara fisik antara lain termasuk cara pengeringan, suhu rendah, suhu tinggi, dan cara modern yaitu iridiasi. Pengawetan secara kimia dengan menggunakan bahan tambahan makanan yang dikenal dsengan food additive, dan pengawetan secara mikrobiologi yaitu menggunakan mikroorganisme untuk menguraikan medium menjadi suatu produk yang diinginkan, yang dikenal dengan cara fermentasi.
1.Pengawetan Secara Fisika
Pengeringan
adalah salah satu cara pengawetan yang paling tua, yang bertujuan untuk mengeluarkan untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air dari bahan pangan dengan menggunakan energi panas. Pengeringan dapat mencegah pembusukan pangan karena untuk dapat tumbuh dan berkembangbiak mikrorganisme membutuhkan air dalam jumlah yang cukup. Penurunan kadar air harus dilakukan sehingga mencapai aktivitas air tertentu, karena pertumbuhan mikroorganisme ditentukan terutama oleh aktivitas air dan bukan oleh kadar air bahan. Hal ini banyak dapat tercapai dengan pengeringan, pengasapan, penambahan garam dan gula atau pengentalan.
Suhu Rendah
Penyimpanan pada umumnya di bawah 1oC, tetapi dengan suhu rendah bukan bersifat mengawetkan karena mikroba hanya dihambat pertumbuhan atau perkembangbiakannya dengan kata lain menghambat mikroorganisme tapi tidak membunuhnya. Selain itu suhu rendaj juga memperlambat laju reaksi enzimatis dan reaksi-reaksi kimia yang menimbulkan kerusakan pangan. Penyimpanan suhu rendah dibedakan atas:
• Refrigerasi dan modifikasi-modifikasi refrigerasi seperti penyimpanan “Controlled Atmosphere” (CA) dan penyimpanan berkisar -2oC dan 16 oC, tergantung dari kepekaan komoditas suhu rendah.
• Pembekuan makanan umumnya dilakukan pada minus (-) 18 oC dengan cara ini makanan dapat tahan beberapa bulan hingga setahun. Karena pada pembekuan sebagian air dalam bahan pangan menjadi es, maka penghambatan pertumbuhan mikroorganisme juga timbul akibat penurunan aktivitas air.
Suhu Tinggi
Proses thermal atau dengan suhu tinggi, umumnya di atas 65 oC cara ini banyak dilakukan untuk pengawetan bahan-bahan berbentuk tepung atau sejenisnya.tujuan dari proses ini adalah mengurangi populasi mikroorganisme atau membunuh mikrorganisme yang ada dalam bahan pangan.Proses thermal dibedakan atas:
• Pasteurisasi, yaitu perlakuan pemanasan yang ringan yaitu 630C selama 30 menit atau 72oC selama 15 menit. Tujuannya adalah mematikan organism pathogen dan mengurangi populasi mikroorganisme hingga batas-batas yang memungkinkan sedikit memperpanjang umur simpan pangan tersebut.Pasteurisasi adalah membunuh mikroorganisme yang merugikan seperti virus, kapang dan khamir. Produk yang bisa dilakukan pasteurisasi antara lain susu, anggur, bir, jus buah, cider dan lain-lain. Pasteurisasi akan menginaktifkan enzim, membunuh mikroorganisme pathogen dan sebagian mikroorganisme pembusuk.
• Sterilisasi didalam pengawetan produk pangan adalah perlakuan panas yang menyebabkan mikroorganisme dan sporanya tidak mampu tumbuh pada kondisi penyimpanan normal. Artinya, hanya menghasilkan produk yang steril komersil, tidak seratus persen steril, kemungkinan masih ada spora mikroba dorman berada didalam produk, dan akan segera tumbuh bila berada pada lingkungan yang cocok untuk pertumbuhannya.
• Blansing yaitu perlakuan panas ringan, sebagai salah satu tahap dalam pengolahan dengan cara penggalengan, pembekuan, pengeringan atau fermentasi. Tujuan utama adalah menonaktifkan enzim disamping mengurangi populasi mikroorganisme pada bahan pangan tersebut.

2. Pengawetan Secara Kimia
Penggunaan Bahan Tambahan Makanan
Adalah menggunakan bahan kimia untuk mengawetkan pangan harus dipilih yang tidak berbahaya bagi tumbuh manusia serta mampu mencegah berbagai tipe pembusukan pada umumnya. Sistem pengawetan yang paling banyak dilakukan, karena dianggap yang paling murah dan mudah, yaitu:
1. Dengan nilai pH rendah yaitu di bawah 55 dengan penamahan asam organik, ataupun asam-asam lainnya misalnya terhadap serealia (jagung, beras, dan sebagainya)
2. Dengan larutan garam, misalnya pembuatan ikan asin
3. Dengan larutan gula, misalnya dengan pembuatan kue-kue, dodol, manisan dan lainnya.
4. Dengan fungsi fumigasi, misalnya gas etilen oksida, propilin oksida dan sebagainya.
Aktivitas bahan pengawet ternyata berbeda-beda, misalnya asam cuka, asam sitrat, asam fosfat dapat menurunkan PH dari bahan makanan dan akibatnya pertumbuhan mikroorganisme pembusuk akan terhambat. Bahan-bahan pengawet seperti garam-garam benzoate, sorbet, sulfit dan propionate menghambat metabolisme mikroorganisme atau bersifat racun untukknya.
Bahan pengawet terdiri dari senyawa-senyawa kimia baik organic maupun anorganik dapat berbentuk asam atau garamnya. Aktivitas pengawet tidak sama, ada yang efektif untuk jamur, bakteri, khamir, kapang, atau bekerja secara kimia sebagai anti oksidan.
3. Pengawetan Secara Mikobiologi
Fermentasi digunakan untuk dua tujuan yaitu mengawetkan bahan pangan dengan cara menekan pertumbuhan mikroorganisme pembusuk dengan senyawa-senyawa seperti alcohol, asam cuka, asam laktat, dan lainnya. Zat-zat kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang dibiakkan dalam proses fermentasi.Jadi pengawetan kita menumbuhkan mikroorganisme yang berguna secara selektif. Hal ini dapat tercapai dengan menambahkan garam, gula, starter, mengatur, kondisi lingkungan seperti suhu, oksigen dan lain-lain.
Pengawetan dengan fermentasi pada dasarnya hanya memupuk kegiatan mikroba yang berperan dan diharapkan adanya fermentasi, sedangkan mikroba lain yang dianggap menghambat atau merusak produk dan proses fermentasi akan dihambat.

IV. KESIMPULAN
Pengawetan dilakukan untuk memperpanjang umur simpan (lamanya suatu produk dapat disimpan tanpa mengalami kerusakan) sehingga menghambat laju dekomposisi bahan pangan, dan mencegah kerusakan dalam bahan pangan. Pengawetan pangan dapat dilakukan secara fisika, kimia, mikrobiologi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.https://buyungchem.wordpress.com/teknik-pengolahan-dan-pengawetan-makanan/

Anonim.https://suvihsuchan.wordpress.com/2012/11/11/pengolahan-dan-pengawetan-bahan-makanan/

Supli Effendi M. (2002) Teknologi Pengawetan Pangan. Penerbit Lemlit Unpas Bandung

Winarno, F. G, (1997). Pangan Gizi Teknologi dan Konsumen, Kimia Pangan dan Gizi, P.T Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.


(Dawload Versi PDF)


Tanggal Upload : 29-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 459 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


OLAHAN PANGAN BERBASIS GANYONG

Oleh : Puji Lestari, S.TP (Widyaiswara Pertama)

I.PENDAHULUAN
Kebutuhan dunia akan pangan terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan ini selain disebabkan meningkatnya jumlah penduduk. Pada saat ini diversifikasi pangan didorong oleh pemerintah untuk berkembang dimasyarakat. Bahan lokal yang merupakan pangan lokal sejak dulu seperti sagu di Maluku, Jagung di Madura, Ubi di Papua.
Program penganekaragaman konsumsi pangan yang telah diprogramkan oleh pemerintah tentang ketahanan pangan, peraturan Presiden No. 22 Tahun 2009 Tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis sumberdaya lokal. Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan pangan sumber-sumber pangan alternatif terus ditingkatkan, salah satunya bahan pangan yang cukup penting adalah karbohidrat. Banyak karbohidrat yang telah dimanfaatkan antaranya adalah beras, gandum, jagung, singkong, ubi jalar, sagu, sorgum dan sebagainya. Beberapa tanaman sumber karbohidrat sebenarnya juga banyak terdapat di masyarakat namun belum banyak diperhatikan, salah satu diantaranya adalah ganyong.
Ganyong (C.edulis) merupakan tanaman yang efisien, kelebihan ganyong dengan umbi-umbian yang lain yaitu umbi yang dapat dimakan mencapai 68 % dari berat rimpang segar, mengandung banyak serat dan zat besi lebih tinggi dibandingkan kentang serta menghasilkan tepung amilum 4-10 ton per hektar. Amilum ganyong mudah dicerna dan sebagian besar berbentuk butiran. Butiran ganyong 100 kali lebih besar dibandingkan butiran amilum pada tumbuhan golongan talas-talasan (Araceae). Umbi ganyong selain digemari masyarakat sebagai kudapan, juga sangat potensial untuk dijadikan sebagai bahan baku industri.
Ganyong merupakan bahan makanan sehat dan dapat diolah beraneka jenis bahan makanan kecil/snack dan pati, tepung dan lain-lain. Pati dan tepung ganyong dapat digunakan sebagai penganti tepung terigu dan mengandung karbohidrat tinggi. Kandungan gizi ganyong mempunyai kelebihan dibandingan dengan ubi kayu dan ubi jalar. Kadar amilosa ganyong hampir sama dengan ubi kayu dan ubi jalar tetapi tidak mengandung mengandung senyawa anti nutrisi seperti HCN dalam ubi kayu fenol dan oligosakarida dalam ubi jalar. Tanaman ganyong ini mempunyai kandungan kimia yang terletak di dalam rimpangnya, yaitu zat pati yang berguna sebagai sumber karbohidrat. Guna meningkatkan pemanfaatan ganyong sebagai sumber pangan maka perlu dilakukan pengolahan agar masyarakat lebih mudah mengkonsumsi sehingga memacu petani untuk memanfaatkan lahan untuk menanam ganyong tentu saja akan menambah penghasilan. Ganyong dapat diolah menjadi tepung, sohun, kue, ganyong dan sebagainya.
Permasalahan yang mendasar dalam pengolahan umbi ganyong menjadi tepung ganyong adalah ketersediaan bahan baku yang masih kurang. Pada saat ini jumlah produksi ganyong pun belum diketahui secara pasti karena penanamanya belum dibudidayakan dengan baik. Padahal bila diperhatikan umbi ganyong termasuk bahan pangan non beras yang cukup tinggi, khususnya kandungan fasfor, kalsium, dan karbohidrat. Ganyong memiliki komponen kimia berupa serat pangan dengan kadar yang cukup tinggi sehingga sangat baik dicerna oleh usus bayi atau orang sakit. Dengan mengolahanya menjadi tepung, maka dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk berbagai produk olahan pangan.

II.MENGENAL GANYONG
Ganyong berasal dari Amerika Selatan Masyarakat daerah ini telah mengenal tanaman ganyong sejak 2500 tahun sebelum Masehi dan telah memanfaatkan sebagai makanan sebelum mengenal padi dan singkong.
Tanaman ini dapat tumbuh di segala jenis tanah dan suhu udara serta tahan terhadap naungan. Namun demikian ganyong tidak tahan tumbuh di tempat yang terbuka dengan angin yang kuat karena tidak termasuk tanaman herba atau terna hingga mempunyai batang yang rapuh dan tidak tahan terhadap hembusan angin. Pada daerah yang mempunyai angin kencang, tanaman ini memerlukan lajur-lajur pelindung.
Ganyong dapat dimanfaatkan sebagai sayur atau digunakan untuk diambil patinya yang merupakan pati berkualitas tinggi. Pucuk daun dan tangkai daunnya dapat pula digunakan sebagai pakan ternak. Tepungnya yang baik dan mudah dicerna sangat dianjurkan untuk konsumsi bayi atau orang sakit.
Ganyong juga dikenal di banyak daerah salah satunya “buah tasbih”, “ubi pikul”. Ganyol atau “sinetra”. Selain itu dikenal juga nama quessland arrowroot atau edible canna. Di Indonesia pusat produksi ganyong terdapat di Jawa Tengah (Klaten, Wonosobo dan Purworejo) dan Jawa Barat (Majalengka, Sumedang, Ciamis, Cianjur, Garut, Subang dan Karawang).
Daerah yang telah membudidayakan ganyong secara intensif adalah daerah pengunungan Andes (Amerika Selatan). Didaerah ini dikenal dua varietas ganyong yaitu verdes dan morados. Verdes mempunyai umbi berwarna putih dengan daun hijau terang, sedangkan umbi morados tertutup sisik yang berwarna ungu.
Tanaman ini dibudidayakan secara teratur di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur Pembudidayaaan tidak teratur meliputi daerah D.I. Yogyakarta, Jambi dan Jawa Barat. Pada umumnya para petani yang telah membudidayakan tanaman ganyong tersebut melakukan penyiangan, pembumbunan tetapi memang belum dilaksanakan pemberantasan hama/penyakit.
Di Indonesia di kenal dua kultivar dan varietas ganyong, yaitu ganyong merah dan ganyong putih. Ganyong merah ditandai dengan warna batang, daun dan pelepahnya yang berwarna merah dan ungu, sedangkan yang warna batang,daun dan pelepahnya hijau dan sisik umbinya kecokletan disebut ganyong putih. Dari kedua tersebut mempunyai beberapa sifat sebagai berikut:
a.Ganyong merah
Memiliki batang lebih besar, agak tahan kena sinar dan tahan kekeringan, sulit menghasilkan biji, hasil umbi basah lebih besar tapi kadar patinya rendah dan umbi lazim dimakan segar (direbus)
b.Ganyong Putih
Memiliki batang lebih kecil dan pendek, kurang tahan kena sinar tetapi tahan kekeringan, selalu menghasilkan biji dan bisa diperbanyak menjadi anakan tanaman, hasil umbi basah lebih kecil, tapi kadar patinya tinggi dan hanya lazim diambil patinya.
Umbi ganyong memiliki kandungan yang relatif tinggi (23%) bila dibandingkan dengan umbi-umbian yang lain. Sehingga umbi ganyong dan produk olahannya sangat tepat dikonsumsi bagi balita, anak-anak, usia lanjut, dan penderita kekurangan zat besi. Kandungan karbohidrat umbi ganyong cukup tinggi, setara dengan umbi-umbian yang lain sehingga cocok dijadikan sumber energi
Serat kasar bagian dari pangan yang tidak dapat dihidrolisis oleh bahan-bahan kimia yang digunakan untuk menentukan kadar serat kasar, yaitu asam sulfat (H2S04 1,25%) dan natrium hidroksida (NaOH 1,25%), sedangkan serat pangan adalah bagian dari bahan pangan yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzim-enzim pencernaan. Oleh karena itu, kadar serat kasar nilainya lebih rendah dibandingkan dengan kadar serat pangan, karena asam sulfat dan natrium hidroksida mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk menghidrolisis komponen-komponen pangan dibandingkan dengan enzim-enzim pencernaan. Serat makanan dapat mengurangi resiko kanker yang disebabkan saluran pencernaan tidak sempurna, dan menurunkan kadar kolesterol. Serat makanan juga dapat membantu mengikat zat-zat karsinogenik. Umbi ganyong yang digunakan memiliki serat yang cukup tinggi, dan produk yang akan diolah ini adalah kulit dari umbi ganyong tersebut. Bagian dari umbi tersebut juga akan ikut sedikit terpotong sehingga menghasilkan serat kasar yang tinggi dan bahan yang digunakan adalah kulit ganyong yang akan menghasilkan serat lebih tinggi.

Komposisi Kimia Umbi Ganyong (tiap 100 g bahan)
Air : 75
Kalori(kal) : 95
Protein (g) : 1
Lemak (g) :0,1
Karbohidrat (g): 22,6
Kalsium (mg) : 21
Fasfor (mg) : 70
Besi (mg) : 20
Vitamin B1 (mg): 0,1
Vitamin C (mg) : 10
Rendemen (%):65

(Susanto dan Saneto, 1994)

Umbi ganyong kita konsumsi untuk memenuhi kebutuhan energi. Kandungan karbohidrat ganyong memang tinggi, setara dengan umbi-umbi yang lain, namun lebih rendah daripada singkong, tetapi karbohidrat umbi dan tepung ganyong lebih tinggi bila dibandingkan dengan kentang, begitu juga dengan kandungan mineral kalsium, fasfor dan besi. Dengan demikian ganyong sangat tepat bila digunakan untuk keragaman makanan sebagai pengganti beras. Kegunaan tanaman ganyong bagi kehidupan memang banyak sekali, tidak hanya untuk melengkapi pangan manusia tapi juga untuk pakan hewan. Bahkan hasil sisa atau bunganya dapat dimanfaatkan manusia untuk bahan bakar atau kompos, kegunaan ganyong ada dua yaitu kegunaan utamanya untuk diambil umbinya. Umbi yang masih muda bisa dimakan dengan cara membakar atau merebusnya lebih dulu bahkan kadang-kadang disayur, sedangkan yang tua untuk diambil tepungnya. Kegunaan yang lain merupakan kegunaan sampingan, misalnya daun dan batang untuk makanan ternak.

III.TEPUNG GANYONG
Berbeda dengan tepung-tepung lainnya, tepung ganyong berwarna kekuningan. Pembuatan tepung di Indonesia umumnya masih dikerjakan secara tradisional. Sedang di Negara yang telah maju telah diusahakan secara besar-besaran. Tepung ganyong sering digunakan untuk makanan bayi. Keistimewaan lainnya granul dari tepung ganyong sangat besar dengan bentuk oval dan panjangnya bisa mencapai 145 mikron lain lagi halnya dengan di Afrika, maka tepung ini umumnya digunakan untuk makanan ternak. Pemanfaatan ganyong dapat dibuat gaplek seperti halnya singkong, dan bahan makanan sejenisnya. Dari gaplek ganyong tersebut dapat pula dibuat tepung.
Permasalahan yang mendasar dalam pengolahan umbi ganyong menjadi tepung ganyong adalah ketersediaan bahan baku yang masih kurang. Pada saat ini jumlah produksi ganyong pun belum dibudidayakan dengan baik. Padahal bila diperhatikan umbi ganyong termasuk bahan pangan non beras yang cukup tinggi. Manfaat lain dari tepung ganyong adalah campuran untuk nasi jagung dan bahan campuran pembuatan bihun yang bahan utamanya biasanya dari tepung beras. Tepung ganyong memiliki komponen kimia berupa serat pangan dengan kadar yang cukup tinggi sehingga sangat baik dicerna oleh usus bayi atau orang sakit. Berikut cara pembuatan tepung ganyong:
1. Kupas kulit ganyong, dibersihkan dan dicuci
2. Diiris tipis seperti keripik. Irisan dilakukan menurut arah serat umbi
3 .Dijemur di bawah sinar matahari sampai irisan ganyong mudah dipatahkan
4. Ditumbuk, lalu tampi tepung yang dihasilkan
5. Ditumbuk lagi sampai halus sisa yang masih ada
6. Dilakukan pengayakan
7. Jadilah tepung ganyong yang diinginkan
8. Dikemas

Komposisi KimiaTepung Ganyong (tiap 100 g bahan)
Air : 14
Protein (g) : 0,7
Lemak (g) : 0,2
Karbohidrat (g) : 85,2
Kalsium (mg) : 8
Fasfor (mg) : 22
Besi (mg) : 1,5
Vitamin A (UI) : 0
Vitamin B (mg) : 0,4
Vitamin C (mg) : 0
(Susanto dan Saneto, 1994)

IV.Aneka Olahan Tepung Ganyong
Sesudah menjadi tepung ganyong, pengolahan menjadi lebih mudah dan beragam. Mau dibuat kue kering, brownies dan beragam pangan lainnya.
a.Kue Kering Ganyong
Bahan:
• 200 gram tepung ganyong
• 125 gram mentega
• 100 gram gula halus
• 1 butir kuning telur
• 15 gram susu bubuk
• 1 butir kuning telur olesan
• Selai nanas secukupnya sebagai hiasan
• Keju parut secukupnya untuk taburan cake case
Cara Membuat:
• Terlebih dahulu mentega, telur, gula halus dicampurkan, kemudian diaduk hingga rata
• Masukkan Tepung Ganyong hingga adonan kalis
• Cetak adonan sebesar kelereng, isi dengan selai nenas
• Olesi dengan kuning telur permukaannya kemudian taburi dengan keju parut
• Di oven hingga matang
b.Kue Kacang ganyong
Bahan:
• 200 gram margarin
• 200 gram gula halus
• 400 gram pati ganyong
• 50 g kacang sangrai
• 1 butir telur
Cara Membuat:
• Kocok gula dan margarine sampai halus
• Masukkan telur kocok sampai putih
• Tuang pati ganyong sedikit demi sedikit, aduk rata
• Cetak sesuai keinginan
• Masukkan ke Loyang yang telah diolesi margarin
• Oven sampai matang
c.Brownies kukus ganyong
Bahan:
• 100 gram tepung ganyong
• 125 ml minyak goreng
• 4 butir telur
• 50 gram cokelat bubuk
• 50 ml susu kental manis
• 100 ml air
Cara Membuat:
• Terlebih dahulu telur dan gula pasir dikocok selama 6 menit
• Tepung ganyong dan cokelat bubuk dimasukkkan dan dikocok selama 3 Menit, sisihkan
• Diwadah lain campurkan minyak goreng dengan air, dan susu
• Adonan tepung ganyong dan telur dimasukkan kemudian aduk rata dengan sendok
• Masukkan adonan ke dalam cetakan, kemudian kukus selama 20 menit Sampai matang
d.Ongol-ongol ganyong
Bahan:
• 250 gram tepung ganyong
• 750 cc air (kurang lebih 3 gelas)
• 250 gram gula jawa, disisir halus
• 1 lembar daun pandan
• ½ butir kelapa parut
• Garam halus
Cara Membuat:
• Campurkan tepung ganyong bersama 250 cc air. Aduk-aduk sampai tepung larut, sisihkan
• Masak sisa air bersama gula jawa, gula pasir dan pandan. Sesudah gula larut angkat dan saring. Taruh kembali di atas api dan didihkan
• Tuang adonan ke dalamnya sambil diaduk-aduk sampai kental Dan matang, angkat, kemudian tuang ke dalam Loyang
• Sisihkan sampai dingin, setelah itu dipotong-potong sesuai selera.
Gulingkan ke dalam kelapa parut yang sudah dengan garam.

V.PENUTUP
Ganyong merupakan bahan makanan sehat dan dapat diolah beraneka jenis bahan makanan kecil/snack dan pati, tepung dan lain-lain. Tepung ganyong dapat digunakan sebagai penganti tepung terigu dan mengandung karbohidrat tinggi dan sudah mulai dikembangkan sekarang ini dan tentu saja mempunyai potensi sebagai bahan pangan alternatif penganti beras.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. http: //kamiitp08.blogspot.com/2010/10/tepung-ganyong.html

Anonim.http://bkpd.jabarprov.go.id/kue-kering-ganyong/

Anonim.http://bkpd.jabarprov.go.id/membuat-brownies-ganyong-kukus/

Anonim.http://biogen.litbang.pertanian.go.id/index.php/2014/07/diversifikasi-olahan-bahan-pangan-lokal-berbasis-ubi-kelapa-ganyong-dan-sukun/

Anonim. 2009. Pengolahan Umbi Non Konvensial (Ganyong,Garut,Gadung, Gembili Dan Uwi).eBookPangan.com

Slamet, D. S. Dan I Tarwotjo.1980.Komposisi Zat Gizi Makanan Indonesia. Balitan Bogor.

Susanto dan Saneto, 1994. Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian. Bina Ilmu, Surabaya.

Syarief, R. dan A. Irawati, 1998. Pengetahuan Bahan Pangan Untuk Industri Pertanian Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta.


(Download versi PDF)

Tanggal Upload : 27-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 737 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


TEKNOLOGI PENGOLAHAN KOPI

Oleh : Puji Lestari, S.TP (Widyaiswara Pertama)

I. PENDAHULUAN

Kopi adalah salah satu komoditi andalan Indonesia. Hasil komoditi ini menempati urutan ketiga setelah karet dan lada. Pada tahun 2008 produksi kopi di Sumatera Selatan telah mencapai 155.372 ton terbagi dalam beberapa daerah penghasil kopi.
Perkembangan areal tanaman kopi rakyat yang cukup pesat di indonesia, perlu didukung dengan kesepian sarana dan metoda pengolahan yang cocok untuk kondisi petani sehingga mampu menghasilkan biji kopi dengan mutu seperti yang dipersyaratkan oleh Standar Nasional Indonesia. Adanya jaminan mutu yang pasti, diikuti dengan ketersediaannya dalam jumlah yang cukup dan pasokan yang tepat waktu serta berkelanjutan merupakan beberapa prasyarat yang dibutuhkan agar biji kopi dapat dipasarkan pada tingkat harga yang mengutungkan.
Seiring dengan meningkatnya produksi kopi Indonesia, banyak hal yang ditemukan menjadi hambatan dalam peningkatan produksi. Kopi Indonesia memiliki mutu yang rendah, karena kurang baiknya penanganan yang dilakukan oleh petani seperti yang kita ketahui bahwa lebih dari 90 % kopi di Indonesia diusahakan rakyat, disamping itu teknologi pengolahan yang masih sederhana.
Untuk memenuhi prasyarat di atas pengolahan kopi rakyat harus dilakukan dengan tepat waktu, tepat cara dan tepat jumlah. Buah kopi hasil panen, seperti halnya produk pertanian yang lain, perlu segera diolah menjadi bentuk akhir yang stabil agar aman untuk disimpan dalam jangka waktu tertentu. Kriteria mutu biji kopi yang meliputi aspek, citarasa dan kebersihan serta aspek keseragaman dan konsistensi sangat ditentukan oleh perlakukan pada setiap tahapan proses produksinya. Oleh karena itu tahapan proses dan spesifikasi pengolahan kopi yang menjamin kepastian mutu harus didefinisikan secara jelas. Demikian juga perubahan mutu yang terjadi pada setiap proses perlu dimonitor secara rutin supaya mendapat hasil yang diinginkan.
Biji kopi merupakan bahan baku minuman sehingga aspek mutu (fisik, kimiawi, kontaminasi dan kebersihan) harus diawasi sangat ketat karena menyangkut citarasa, kesehatan konsumen, daya hasil (rendemen) dan efesiensi produksi. Untuk mendapat hasil pengolahan yang optimal. Proses pengolahan produk sekunder (kopi bubuk) sebaiknya dilakukan secara kelompok. Unit produksinya diharapkan menjadi salah satu bagian integral dari kegiatan pengolahan produk primernya sehingga pasakon bahan baku terjamin.
Kunci dari proses produksi kopi bubuk adalah penyangraian. Penyangraian merupakan proses yang tergantung waktu dan temperatur, dimana senyawa-senyawa kimia di dalam kopi akan berubah dengan hilangnya massa kering kopi yang sebagian besar adalah karbondioksida dan gas-gas volatil lainnya sebagai produk dari pirolisis. Sekitar setengah dari karbondioksida yang dihasilkan akan tertahan dalam kopi yang telah disangrai bersama-sama dengan senyawa flavor penting yang bersifat volatil

II.PROSES PENGOLAHAN BIJI KOPI
Buah kopi biasanya dipasarkan dalam bentuk kopi beras, yaitu kopi kering yang sudah terlepas dari daging buah dan kulit arinya. Pengolahan buah kopi bertujuan memisahkan biji kopi dari kulitnya dan mengeringkan biji tersebut sehingga diperoleh kopi beras dengan kadar air tertentu dan siap dipasarkan.
Kadar kopi beras optimum adalah 10-13%. Bila kadar air kopi beras lebih dari 13 %,biasanya akan mudah terserang cendawan, sedangkan bila kurang dari 10 % akan mudah pecah. Pengolahan buah kopi hingga diperoleh kopi beras dengan kadar air 10-13% akan menurunkan bobot kopi hingga menjadi 22 %, kopi arabika menjadi 18%, dan kopi liberika sekitar 12 %.
Pengolahan buah kopi dilakukan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara basah dan cara kering. Pengolahan secara basah biasanya memerlukan modal besar, tetapi yang disajikan dalam penulisan ini adalah pengolahan kering dapat dilakukan sebagai berikut:
1)Sortasi gelondang
Sortasi gelondong sudah mulai dilakukan sejak pemetikan, tetapi harus diulangi lagi pada waktu pengolahan. Sortasi pada awal pengolahan dilakukan setelah kopi datang dari kebun. Kopi yang berwarna hijau, hampa, dan terserang bubuk disatukan. Sementara kopi berwarna merah dipisahkan karena akan menghasilkan kopi bermutu baik.
2)Pengeringan
Kopi yang sudah dipetik dan disortasi harus segera dikeringkan agar tidak mengalami proses kimia yang dapat menurunkan mutu. Pengeringan dapat dilakukan secara alami dan pengeringan secara buatan.
3)Hulling (Pengupasan kulit)
Hulling pada pengolahan kering agak berbeda dengan hulling pada pengolahan basah. Hulling pada pengolahan kering bertujuan untuk memisahkan biji kopi dari kulit buah, kulit tanduk, dan kulit ari. Hulling menggunakan mesin pengupas (huller). Bila kopi sudah benar-benar kering, kulit tanduk dan ari dikupas dengan huller setelah itu lakukan dengan sortasi biji
4)Sortasi Biji
Sortasi biji dimaksudkan untuk membersihkan kopi beras dari kotoran sehingga memenuhi syarat mutu dan mengklasifikasikan kopi tersebut menurut standar mutu yang ditetapkan. Secara garis bersar, sortasi kopi asalan (kopi dari petani yang belum disortasi) dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu sebagai berikut:
a) Sortasi penggolongan asal, jenis kopi, dan cara pengolahan
Kopi yang berasal dari pengolahan basah tidak boleh campur dengan kopi yang diolah secara kering karena kelas mutunya berbeda. Kopi yang berasal dari gelondong merah dan bernas tidak boleh dicampur dengan kopi yang berasal dari gelondong hijau, kopi rambang. Kopi yang berasal dari jenis robusta, arabika, dan liberika masing-masing tidak boleh dicampur kopi rabusta biasanya berwarna hijau muda kekuning-kuningan, kopi arabika berwarna kebiru-biruan, kopi liberika dan hibrida biasanya berwarna kuning kecokelatan.
b) Sortasi untuk membersihkan kotoran
Sortasi ini bertujuan untuk bertujuan untuk membersihkan kopi dari kopi gelondong; kopi berkulit tanduk; dan kotoran seperti pecahan ranting, kulit biji berjamur dan berbau busuk. Petani biasanya hanya melakukan sortasi sampai tahap ini.
c) Sortasi hingga diperoleh syarat mutu
Sortasi ini umumnya dilakukan oleh koperasi yang cukup besar, reprocessor, atau eksportir. Sortasi ini bertujuan untuk mendapatkan kopi yang sudah memenuhi syarat mutu.

5. Pengepakan dan penyimpanan biji kopi
Kemas biji kopi dengan karung yang bersih dan jauhkan dari bau-bauan.Untuk penyimpanan yang lama, tumpuk karung-karung tersebut diatas sebuah palet kayu setebal 10 cm. Berikan jarak antara tumpukan karung dengan dinding gudang.
Kelembaban gudang sebaikknya dikontrol pada kisaran kelembaban (RH) 70 %. Penggudangan bertujuan untuk menyimpan biji kopi sebelum didistribusikan kepada pembeli.
Biji kopi disimpan harus terhindar dari serangan hama dan penyakit. Jamur merupakan salah satu pemicu utama menurunnya kualitas kopi terlebih untuk daerah tropis.

III.PEMBUATAN KOPI BUBUK
1)Penyangraian
Penyangraian biji kopi merupakan suatu proses yang penting dalam industri perkopian yang amat menentukan mutu minuman kopi yang diperolehnya. Proses ini mengubah biji-biji kopi mentah yang tidak enak menjadi minuman dengan aroma dan citarasa lezat.
Penyangraian biasanya dilakukan pada tekanan atmosfer, sebagai media pemanas biasanya digunakan udara pemanas atau gas-gas hasil pembakaran. Panas juga diperoleh dengan mengadakan kontak antara kopi beras dengan permukaan metal yang panas. Setelah perlakuan pendahuluan untuk menghilangkan kandungan air.
Pengolahan biji kopi ini perlu disesuaikan dengan permintaan dan kegemaran konsumen. Tingkatan penyangraian terdiri dari: lightroast(sangrai cukupan), medium roast (sangrai sedang), dark roast (sangrai matang). Cara penyangraian yang berlainan ini selain berpengaruh terhadap citarasa, juga turut menentukan warna bubuk kopi yang dihasilkan.
Tujuan Penyangraian biji kopi kakao adalah mensintesakan senyawa-senyawa pembentuk citarasa dan aroma khas kopi yang ada di dalam biji kopi. Proses penyangraian diawali dengan penguapan air yang ada di dalam biji kopi dengan memanfaatkan panas yang tersedia dan kemudian diikuti dengan penguapan senyawa volatil serta proses pirolisis/pencoklatan biji.
Pada proses penyangraian kopi mengalami perubahan warna dari hijau atau cokelat muda menjadi cokelat kayu manis, kemudian menjadi hitam dengan permukaan berminyak. Bila kopi sudah berwarna hitam dan mudah pecah (retak) maka penyangraian segera dihentikan. Selanjutnya kopi segera diangkat dan didinginkan.
Kesempurnaan penyangraian kopi dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu panas dan waktu. Kisaran suhu sangrai yaitu untuk tingkat sangrai ringan/warna coklat muda suhu 190-195oC, tingkat sangrai medium/warna coklat agak gelap suhu 200-205oC. Waktu penyangraian bervariasi dari 7-30 menit tergantung jenis alat dan mutu kopi. Perendangan bisa dilakukan secara terbuka atau tertutup. Penyangraian secara tertutup banyak dilakukan oleh pabrik atau industri pembuatan kopi bubuk untuk mempercepat proses penyangraian. Penyangraian secara tertutup akan menyebabkan kopi bubuk yang dihasilkan terasa agak asam akibat tertahannya air dan beberapa jenis asam yang mudah menguap. Namun aromanya akan lebih tajam karena senyawa kimia yang beraroma khas kopi tidak banyak menguap. Selain itu, kopi akan terhindar dari pencemaran bau yang berasal dari luar seperti bahan bakar atau bau gas hasil pembakaran yang tidak sempurna
Suhu penyangraian mempengaruhi karakteristik flavor dari ekstrak kopi. Derajat penyangraian secara kualitatif dilihat dari warna kopi yang telah disangrai. Misalnya light roast, medium roast, dan dark roast. Warna kopi yang telah disangrai juga mempengaruhi persen loss dari bahan-bahan dalam kopi,light roast sekitar 3-5 % loss, medium roast sekitar 5-8 % loss, dan dark roast sekitar 8-14 % loss (termasuk kadar air dalam kopi beras). Hal ini jelas menunjukkan bahwa komposisi senyawa kimia dalam kopi baik volati maupun non volatil dipengaruhi oleh derajat penyangraian. Senyawa kimia kopi yang rusak selama penyangraian adalah asam klorogenat dan trigonelin. Tingkat kerusakan ini sebanding dengan derajat penyangraian. Suhu sangrai yang umum adalah sebagai berikut:
1. Light Roast (Sangrai cukupan, suhu 190oC.-195oC)
2. Medium Roast (Sangrai sedang, suhu 200oC.-205oC)
3. Dark Roast (Sangrai hitam, suhu diatas 200oC)
Waktu penyangraian bervariasi dari 7 sampai 30 menit tergantung pada jenis alat dan mutu kopi bubuk. Penyangraian diakhiri saat aroma dan citarasa kopi yang diiginkan telah tercapai yang diindikasikan dari perubahan warna biji yang semula berwarna kehijauan menjadi cokelat tua, cokelat-kehitaman dan hitam. Derajat sangrai dilihat dari perubahan warna biji kopi yang disangrai. Sampel diambil secara periodik dari dalam slinder sangrai lewat lubang sampling. Proses sangrai dihentikan pada saat derajat sangrai biji kopi sudah dipenuhi melalui perbandingan warna dengan warna sampel standar. Nilai kecerahan merupakan ukuran yang dipantulkan ulang suatu benda saat diberi penyinaran dengan panjang gelombang tertentu. Biji kopi beras, sebelum disangrai mempunyai warna permukaan yang hijau.
Derajat penyangraian biasanya dilakukan pada tekanan atmosfer, sebagai media pemanas biasanya digunakan udara panas atau gas-gas hasil pembakaran. Panas juga diperoleh dengan mengadakan kontak antara kopi beras dengan permukaan metal yang panas. Setelah perlakuan pendahuluan untuk menghilangkan kandungan air, roasting biasanya dimulai pada suhu 200oC.
Waktu penyangraian yang baik untuk pembuatan kopi sekitar 30 menit, diluar jangka waktu itu akan didapatkan flavor yang tidak diinginkan. Perubahan fisik biji kopi selama penyangraian juga penting secara teknis. Ekspansi biji kopi diakibatkan karena berkurangnya densitas sebagai fungsi dari derajat penyangraian dan kecepatan penyangraian.
Secara teknis mesin roasting haruslah dapat mengatur kontrol suhu yang diperlukan, perataan panas untuk semua bahan, serta dapat tahan panas. Pada industri kopi ini mesin juga biasanya berukuran besar untuk memenuhi kapasitas produksi. Kapasitas mesin roasting berkisar dari 1-100 kg dengan proses yang dilakukan.
Kopi merupakan sebagian besar minuman yang dikomsumsi secara luas di dunia. Daya terima terhadap kopi yang tinggi disebabkan banyak faktor, satu faktor diantaranya yang terpenting adalah aroma, flavornya. Di dalam flavor kopi terdapat banyak senyawa yang kadarnya kecil sampai yang dominan dan masing-masing menyumbangkan peran penting dalam memberikan sensasi flavor secara keseluruhan. Dari sejumlah senyawa penyusun flavor kopi telah dilakukan riset yang menunjukkan adanya beberapa senyawa yang berperan penting dan dominan terhadap flavor kopi, yaitu 3-Merkapto-3-Metilbutil.
Selanjutnya dijelaskan bahwa 3-Merkapto-3-Metilbutil Format berasal dari 3-Metil-3-Metilbutanol yang bereaksi dengan asam format menghasilkan 3-Merkapto-3-Metilbutil Format selama penyangraian biji kopi sedangkan 3-Merkapto-3-Metilbutil Asetatberasal dari 3-Merkapto-3-Metilbutanol yang bereaksi dengan asam asetat selama penyangraian biji kopi. Perlu juga ditekankan bahwa pembentukan kedua senyawa ester tersebut sangat dipengaruhi oleh ketersediaan jumlah asam format dan asam asetat serta kondisi yang menyebabkan reaktifitas yang optimal kedua asam dalam kaitannya dengan suhu penyangraian dan tekanan pada saat dilakukan penyangraian. Berikut perubahan warna Biji kopi sangrai selama penyangraian.
Selama penyangraian, biji kopi mengalami perubahan fisik dan kimiawi yang menyebabkan kehilangan berat yang cukup signifikan karena penguapan air dan beberapa senyawa volati serta pirolisis senyawa hidrokarbon. Pengaruh suhu dalam proses penyangraian kopi sangat berpengaruh nyata dari beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa penyangraian pada suhu diatas 200oC. selama 30 menit menghasilkan biji kopi yang tersangrai dengan baik.
Kalangan praktisi industri kopi mengenal 3 tingkatan penyangraian yaitu ringan (light), Menengah (medium) dan Gelap (dark). Proses sangrai diakhiri jika warna biji kopi sudah memenuhi standar warana yang ada. Derajat penyangraian kopi berbeda, yang dapat dilihat dari hasil secara visual dan organoleptik.
Bahwa dapat menyimpulkan bahwa hasil yang terbaik adalah pada derajat penyangraian hitam (dark roast), ini karena pada dark roast ini terjadi pirolisis, kopi mengalami perubahan mengalami perubahan kimia antara lain: Penggarangan serat kasar, terbentuknya senyawavolatil, penguapan zat-zat asam dan terbentuknya aroma kopi.
2)Penggilingan (Penumbukan)
Penggilingan adalah proses pemecahan butir-butir kopi yang telah direndang untuk mendapatkan kopi berukuran maksimum 75 mesh. Ukuran butir-butir (partikel-partikel) bubuk kopi berpengaruh terhadap aroma kopi. Secara umum semakin kecil ukurannya maka rasa dan aromanya semakin baik. Hal ini dikarenakan sebagian besar bahan yang terdapat di dalam bahan kopi dapat larut dalam air ketika diseduh.
Penggilingan oleh industri kecil atau pabrik menggunakan mesin giling. Mesin ini biasanya sudah dilengkapi alat pengatur ukuran partikel kopi sehingga otomatis bubuk kopi yang keluar berukuran seperti yang diinginkan dan tidak perlu di saring lagi
3)Penyimpanan
Kopi yang sudah direndang dan digiling mudah sekali mengalami perubahan, misalnya perubahan aroma, kadar air, dan ketengikan. Kopi bubuk yang disimpan di tempat terbuka akan kehilangan aroma dan berbau tengik setelah 2-3 minggu. Kehilangan aroma ini disebabkan oleh menguapnya zat caffeol yang beraroma khas kopi. Sementara ketenggikan disebabkan oleh reaksi antara lemak yang terdapat dalam kopi dengan oksigen di udara.
Untuk menghindari penurunan mutu kopi yang telah direndang selama penyimpanan, sebaikknya kopi di simpan sebelum digiling. Hal ini dikarenakan kopi yang direndang selama penyimpanan, sebaiknya kopi disimpan sebelum digiling. Hal ini dikarenakan kopi rendang yang belum digiling mempunyai daya simpan 2-3 kali kopi yang telah digiling. Kopi yang sudah digiling sebaikknya disimpan dan dipak dengan lapisan kedap udara. Biasanya kopi bubuk dipak dalam kemasan kaleng atau hampa udara sehingga kopi tahan disimpan.

IV. PENUTUP
Biji kopi merupakan bahan baku minuman sehingga aspek mutu (fisik, kimiawi, kontaminasi dan kebersihan) harus diawasi sangat ketat karena menyangkut citarasa, kesehatan konsumen, daya hasil (rendemen) dan efesiensi produksi. Untuk mendapat hasil pengolahan yang optimal. Proses pengolahan produk sekunder (kopi bubuk) sebaiknya dilakukan secara kelompok. Unit produksinya diharapkan menjadi salah satu bagian integral dari kegiatan pengolahan produk primernya sehingga pasakon bahan baku terjamin.

DAFTAR PUSTAKA

Aksi Agrarais Kanisius Kopi (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1984).

Anonim. http://www.kadin-indonesia.or.id/enm/images/dokumen/KADIN-104-1605-13032007.pdf

Anonim.http://sulsel.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=137:pasca-panen-kakao&catid=48:panduanpetunjuk-teknis-leaflet&Itemid=53

Anonim.http://agribisnis.net/index.php?files=Berita_Detail&id=159

Anonim,Masalah Mutu Kopi Indonesia, Kopi Indonesia, No. 3 Th. 1981.

Ciptadi, W. dan M.Z. Nasution, Pengolahan Kopi (Bogor:Agrp Industri Press Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB, 1985)

Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian. 2006. Pedoman Umum Pasca Panen Perkebunan Yang Baik dan Benar. Deparetemen Pertanian. Jakarta.

Pusat Penelitian Kopi dan Kako Indonesia. 2006. Pengolahan Produk Primer dan Sekunder Kakao. Puslit Kopi dan Kakao. Jember.

Sulistyowati, Budi Sumartono dan Cahya Ismayadi.1996.Pengaruh ukuran biji dan lama penyangraian terhadap beberapa sifat fisiko-kimia dan oranoleptik kopi robusta.Pelita perkebunan, 12 (1),48-60.



(Download versi PDF)

Tanggal Upload : 27-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 12917 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


TEPUNG MOCAF SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI TEPUNG TERIGU

Oleh : Puji Lestari, S.TP (Widyaiswara Pertama)

I. PENDAHULUAN

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap terigu dan pengembangan pangan yang berbasis pada sumber daya lokalita ubi kayu merupakan alternatif diversifikasi pangan pada bahan pangan lokal ubi kayu merupakan potensi yang cerah dari 227 juta ton. Produksi ubi kayu dapat diolah menjadi bahan pangan dan non pangan baru sekitar 22,3 %, karena itu perlu saat suatu upaya peningkatan nilai tambah (added Value). Salah satu olahan ubi kayu dapat diolah menjadi tepung mocaf.
Tepung mocaf dikenal sebagai tepung singkong alternatif pengganti terigu kata mocaf sendiri merupakan singkatan dari “Modiefied cassava flour.” yang berarti tepung singkong yang dimodifikasi dalam bahasa indonesianya disebut juga modifikasi tepung ketela pohon atau MOTEKAP.
Tepung mocaf adalah tepung singkong yang telah dimodifikasi dengan perlakuan fermentasi, sehingga dihasilkan dengan karakteristik terigu sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengganti terigu atau campuran terigu 30-100 % dan dapat menekan biaya konsumsi tepung terigu 20-30%. Dibandingkan dengan tepung singkong biasa atau gaplek, tepung mocaf memiliki penampilan yang lebih baik yaitu lebih putih, lembut dan tidak apek. Kunci dari rahasia pembuatan tepung macaf adalah terletak pada proses fermentasi yang menyebabkan tepung mocaf memiliki tekstur yang berbeda dengan tepung singkong biasa. Perbedaan tepung mocaf dengan tepung gaplek adalah proses pengolahannya. Tepung singkong atau tepung cassava dibuat dari singkong yang dikupas-kupas menjadi sawut langsung dikeringkan, kemudian ditepungkan. Sedangkan tepung mocaf setelah singkong dipotong-potong menjadi sawut kemudian difermentasi dahulu, dicuci, dikeringkan kemudian digiling.
Mocaf produk tepung dari singkong yang diproses menggunakan prinsip memodifikasi sel singkong secara fermentasi selama fermentasi tepung singkong ini. Mikroba yang tumbuh menghasilkan enzim pektionik dan selulotik yang dapat menghancurkan dinding sel singkong. Mikroba tersebut menghasilkan enzim-enzim yang menghidrolisis pati menjadi gula dan selanjutnya akan mengubahnya menjadi asam-asam organik, terutama asam laktat. Hal ini akan menyebabkan perubahan karakteristik dari tepung seperti viskositas, kemampuan gelasi, daya rehidrasi dan kemudian melarut.

II. MOCAF

Mocaf adalah produk tepung dari ubi kayu (Manihot esculenta crantz) yang diproses menggunakan prinsip memodifikasi sel ubi kayu secara fermentasi. Mikroba yang tumbuh menyebabkan perubahan karakteristik dari tepung yang dihasilkan berupa naiknya viskositas, kemampuan gelasi, daya rehidrasi, dan kemampuan melarut.
Mikroba juga menghasilkan asam-asam organik, terutama asam laktat yang akan terimbibisi dalam bahan, dan ketika bahan tersebut di olah akan dapat menghasilkan aroma dan citra rasa khas yang dapat menutupi aroma dan cita rasa ubi kayu yang cend erung tidak menyenangkan konsumen. Selama proses fermentasi terjadi penghilangan komponen penimbul warna dan protein yang dapat menyebabkan warna cokelat ketika pengeringan.
Kondisi saat ini menunjukkan bahwa produk mocaf secara ekonomis ternyata jauh lebih murah daripada pada terigu yang selama ini beradar di pasaran. Bahan baku yang mudah dibudidayakan, murahnya harga ubi kayu di pasaran saat ini, serta proses pengolahan tepung yang tidak memerlukan teknologi tinggi, harga mocaf saat ini hanya berkisar antara 40-60% dari harga terigu.
Selama ini penggunaan tepung kayu biasa karena kualitasnya, masih sangat terbatas. Untuk food ingredient misalnya, seperti subtitusi terigu sebesar 5% pada mie instant yang menghasilkan produk dengan mutu rendah, atau kue kering. Namun aplikasi tepung mocaf dengan karakteristik yang dijelaskan diatas, ternyata mampu menghasilkan produk dengan mutu rendah, atau pada kue kering. Namun aplikasi tepung mocaf dengan karakteristik yang dijelaskan diatas, ternyata mampu menghasilkan produk makanan yang berkualitas.
Mocaf juga telah diujicoba untuk digunakan beragam olahan kue seperti brownies, mie, pancake, beragam kue kering seperti cookies, nastar, kastengel, dimana 100% tepungnya Mocaf. Hasilnya menunjukkan bahwa kue kering yang dihasilkan mempunyai karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan menggunakan tepung terigu berprotein rendah. Hanya mocaf memerlukan mentega tau margarine sedikit lebih banyak dibandingkan tepung terigu untuk mendapatkan tekstur yang baik.

III. PROSES PEMBUATAN TEPUNG MOCAF

Prinsip pembuatan tepung mocaf adalah dengan memodifikasi sel ubi kayu atau singkong secara fermentasi, sehingga menyebabkan perubahan karakteristik yang lebih baik. Secara umum proses pembuatan mocaf meliputi tahap sebagai berikut:
1. Kupas Kulit Ubi
2. Bersihkan permukaan ubi dengan air
3. Potong-potong tipis ubi kayu dengan pisau atau alat-alat pencacah hingga berbentuk keripik atau chips
4. Rendam dalam air bersih yang telah dicampurkan starter
(1kg: 1 gram bimo CF)
5. Angkat rendaman, tiriskan. Dan jemur hingga kering kadar air 10-12%
6. Tumbuk atau giling chips kering
7. Ayak dengan ayakan ukuran butiran atau 80 mesh
8. Simpan mocaf dalam wadah plastik yang tertutup dengan rapat

IV. PEMANFAATAN TEPUNG MOCAF

Mocaf merupakan produk baru yang terus berkembang dan dengan menggunakan teknik penggilingan yang cermat, dihasilkan MOCAF dengan kandungan serat yang tinggi yang kemudian diberi label MOCAF. Berbagai campuran (composite flour),misalnya campuran antara tepung mocaf dengan terigu. Pencampuran tepung mocaf dan tepung terigu 1: 3(25%:75%) untuk produk roti yang mengembang seperti roti manis, donat dalam pembuatannya sangat diperlukan gluten. Pencampuran tepung mocaf dan terigu 1:1 (50%:50%) untuk produk kue kering akan menghasilkan kue kering dengan cita rasa yang enak, tekstur renyah dan aroma singkong yang tidak kuat sehingga di sukai. Aneka olahan dari tepung mocaf serta proses pembuatannya.

1. Brownies Mocaf
Bahan:

• Telur 6 Butir
• Tepung Mocaf 100 gram
• Baking Powder 1 sdt
• Gula Pasir 200 gram
• Cokelat Bubuk 200 Gram
• Cokelat Masak 250 gram
• Mentega 50 gram

Cara Pembuatan:
• Kocok telur dan gula hingga mengembang (kental) dengan kecepatan tinggi
• Lelehkan mentega dan cokelat matang, didinginkan
• Campurkan tepung mocaf dan cokelat bubuk, kemudian ayak. Tambahkan campuran tepung ini ke dalam kocokan telur, aduk hingga rata. Tambahkan mentega dan cokelat masak, aduk hingga rata
• Masukkan dalam Loyang yang telah diolesi margarine dan kukus hingga matang

2. Mie Tepung Mocaf
Bahan
• 60 gr Tepung Mocaf
• 140 gr Tepung terigu protein tinggi
• 1/4 sdt Garam
• 1/4 CMC
• ¼ sdt STPP (penggenyal mie dan melenturkan mie)
• 68 ml air
• 1 butir telur ayam
• Minyak goreng

Cara Membuat:
• Campurkan tepung terigu protein tinggi, mocaf, CMC, dan STPP dalam wadah plastik
• Tambahkan air, aduk rata lalu gumpalkan
• Giling adonan dengan alat penggiling mie dari ukuran terbesar sampai ukuran no.2, digiling 2-3 kali sampai licin
• Potong-potong menggunakan gilingan mie
• Rebus dalam air mendidih kurang lebih 2 menit, angkat lumuri minyak goring, aduk rata.

3. Mocaf Pancake
• Tepung Mocaf 225 gram
• Youghurt 400 ml
• Gula Kastor 30 gram
• Garam 1 sendok the
• Baking Soda 1 sendok teh
• Baking Powder 2 sendok teh
• Kuning telur 3 Buah
• Butter 50 Gram

Cara Membuat:
• Kocok kuning telur dan youghurt. Ayak tepung mocaf, garam, baking soda dan baking powder
• Tambahkan gula pasir ke campuran, buang lubang ditegahnya. Masukkan campuran youghurt dan kuning telur, aduk rata sampai licin
• Kocok putih telur sampai kaku, masukkan ke campuran mocaf, aduk rata. Cairkan butter, masukkan dan aduk rata. Diamkan adonan selama 15 menit
• Panggang adonan pancake sesendok sesondok hingga habis.

V. PENUTUP

Mocaf adalah produk tepung dari ubi kayu (Manihot esculenta crantz) yang diproses menggunakan prinsip memodifikasi sel ubi kayu secara fermentasi, sehingga dihasilkan dengan karakteristik terigu sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengganti terigu atau campuran terigu 30-100 % dan dapat menekan biaya konsumsi tepung terigu 20-30%.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Formulasi Tepung Komposit Campuran Tepung Talang, Kacang Hijau dan Pisang dalam Pembuatan Brownies Panggang No. 2 Vol I

Anonim. http://bisnisukm.com/mocaf-primadona-tepung-alternatif-penggani-terigu.html

Indriani, R. 2011. Casava Brownies. http://www rice Ordinary Kitchen Blogspot.com.

Rury, F. 2013. Brownies Mocaf Panggang. http: www.dapur masak.com.

Setiavani, G. 2014. Teknologi Pembuatan Makanan Dengan Menggunakan Tepung Mocaf Sebagai Subtitusi Tepung Terigu, Medan


(Download versi PDF)

Tanggal Upload : 27-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 1439 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


TEKNOLOGI MIE SEHAT BUAH NAGA

Oleh: Masnun, S.Pt., M.Si.
Widyaiswara Madya

I. PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Tanaman buah naga atau dragon fruit merupakan tanaman sejenis kaktus. Tanaman ini berasal dari Meksiko, Amerika tengan dan Amerika Selatan bagian utara (Colombia). Di daerah asalnya buah naga terkenal dengan sebutan pitahaya atau pitaya roja.
Buah naga mulai dikenal luas di Indonesia pada awal tahun 2000, namun saat ini sudah cukup populer dan mendapat banyak perhatian dari masyarakat. Hal ini dikarenakan penampilan buahnya yang eksotik, rasanya manis dan segar serta memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan.
Buah dapat dijadikan sebagai bahan utama maupun bahan pelengkap dalam suatu proses pengolahan pangan. Sebagai bahan utama dalam suatu proses pengolahan pangan berarti buah tersebut digunakan = 50% dari total bahan yang digunakan untuk membuat produk. Sedangkan sebagai bahan pelengkap berarti buah tersebut digunakan = 10% dari total bahan yang digunakan untuk membuat produk. Baik sebagai bahan utama maupun sebagai pelengkap, buah tersebut mempengaruhi produk yang dihasilkan baik dalam hal rasa, warna, aroma, maupun tekstur. Bahkan kadang karakteristik buah tersebut memang yang ditonjolkan agar produknya lebih menarik.
Karakteristik buah naga yang mempengaruhi produk salah satunya adalah warna. Warna pada buah dan sayur bukanlah sekadar pembeda jenis antara buah yang satu dengan lainnya. Lebih dari itu, warna buah ternyata merupakan informasi kandungan nutrisinya. Buah berwarna merah tua bahkan hampir mendekati ungu umumnya mengandung anthocyanin. Sejenis antioksidan yang mampu menghambat terbentuknya gumpalan dalam pembuluh darah, sehingga risiko penyakit jantung dan stroke, berkurang. Buah berwarna merah mengindikasikan kandungan antosianin dan likopen. Antosianin berguna untuk mencegah infeksi dan kanker kandung kemih, sedangkan likopen menghambat fungsi kemunduran fisik dan mental agar tidak mudah pikun. Selain itu, likopen juga mencegah bermacam-macam penyakit kanker. Buah berwarna kuning kaya akan kalium, unsur nutrisi yang sangat bermanfaat untuk mencegah stroke dan jantung koroner.
Buah naga berwarna merah mempunyai warna yang khas dan kuat sehingga tidak perlu menambahkan zat pewarna. Karena warnanya tersebut buah naga merah banyak dijadikan bahan baku produk olahan. Produk olahan dari buah naga super red salah satunya adalah mie buah naga.
Mie adalah adonan tipis dan panjang yang telah digulung, dikeringkan, dan dimasak dalam air mendidih. Bahan pewarna yang ditambahkan dalam pembuatan mie adalah daging buah naga super red, sehingga mie yang dihasilkan berwarna merah dari bahan alami dan tidak kalah pentingnya adalah aman dan sehat untuk dikonsumsi.

B.Tujuan
Memberikan informasi teknologi pembuatan mie buah naga

II. MEMBUAT MIE BUAH NAGA
A. Bahan
Bahan yang digunakan dalam membuat mie buah naga adalah :
• Buah naga 50 gr
• Terigu 200 gr
• Tepung Kanji 25 gr
• Tepung maizena 1 sendok makan
• Telur 2 butir ( kocok dahulu)
• Minyak goreng 3 sendok makan
• Garam seujung sendok teh


Gambar: Bahan pembuatan mie

B. Alat
Alat yang digunakan antara lain adalah :
• Kompor
• Panci
• Pisau
• Baskom
• Ampia
• Blender

C. Cara Membuat
Cara membuat mie buah naga adalah sebagai berikut :
• Cuci buah naga kemudian kupas buah naga dan diblender tanpa air
• Tuang ke baskom dan campur semua bahan yaitu terigu, tepung kanji, garam, telur, maizena dan sedikit minyak goreng
• Aduk adonan sampai kalis
• Bentuk tipis-tipis dengan ampia
• Giling dengan ampia membentuk untaian mie
• Letakkan mie dalam wadah dan taburi dengan tepung agar tidak lengket
• Rebus air dengan sedikit minyak goreng agar tidak lengket
• Angkat jika sudah terapung
• Masak mie sesuai selera


Gambar 2. proses pembuatan mie buah naga


d. Bagan alir pembuatan mie buah naga



III. PENUTUP
Buah naga berwarna merah mempunyai warna yang khas dan kuat sehingga tidak perlu menambahkan zat pewarna. Karena warnanya tersebut buah naga merah banyak dijadikan bahan baku produk olahan. Produk olahan dari buah naga super red salah satunya adalah mie buah naga.
Mie adalah adonan tipis dan panjang yang telah digulung, dikeringkan, dan dimasak dalam air mendidih. Bahan pewarna yang ditambahkan dalam pembuatan mie adalah daging buah naga super red, sehingga mie yang dihasilkan berwarna merah dari bahan alami dan tidak kalah pentingnya adalah aman dan sehat untuk dikonsumsi.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Ciri-Ciri Buah Naga dan Manfaatnya http://manfaatbuaha.blogspot. com/2014/ 05/ciri-ciri-buah-naga-dan-manfaatnya.html
Anonim. Serat Pangan. http://id.wikipedia.org/wiki/Serat_pangan
Direktorat Budidaya dan Pasca Panen Buah. 2011. Profil Sentra Produksi Buah Naga. Jakarta
Hardjadinata S. 2011. Budidaya Buah Naga Super Red secara Organik. Penebar Swadaya. Jakarta
Satuhu, S. 1994. Penanganan dan Pengolahan Buah. PT Penebar Swadaya. Jakarta.

Tanggal Upload : 26-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 371 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


PENYULUH PERTANIAN SWASTA

I. PENDAHULUAN

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2006 pasal 8 menyatakan bahwa kelembagaan penyuluhan terdiri atas Penyuluh Pertanian Pemerintah (PNS), Penyuluh Pertanian Swadaya dan/atau Penyuluh Pertanian Swasta. Hal ini sebagai indikasi bahwa keterbatasan pemerintah dalam menyelenggarakan kegiatan penyuluhan pertanian memerlukan mitra kerja yang memadai sesuai azas-azas dalam pasal 2 Undang-Undang tersebut.
Pembinaan terhadap pelaksanaan kegiatan penyuluhan pertanian khususnya bagi Penyuluh Pertanian Swasta selama ini dirasakan belum memiliki arah yang jelas, karena belum didayagunakan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan pelaku utama dan pelaku usaha. Padahal Penyuluh Pertanian Swasta memiliki peranan penting dalam pembangunan pertanian, terutama dalam proses transfer teknologi dan informasi pertanian bagi pelaku utama dan pelaku usaha.
Penyuluh Pertanian Swasta harus menciptakan mekanisme kerja kemitraan antara penyuluh PNS, THL-TBPP dan Penyuluh Swadaya. Dengan demikian Penyuluh Pertanian Swasta perlu dilakukan pembinaan dan difasilitasi oleh Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) di wilayah kerja berdasarkan persyaratan dan ketentuan sesuai Peraturan Kementerian Pertanian yang telah ditetapkan atas dasar Undang-Undang No.16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K) .



II. PENYULUH PERTANIAN SWASTA

1. Pengertian
Penyuluh Pertanian Swasta adalah penyuluh yang berasal dari dunia usaha dan/atau lembaga yang mempunyai kompetensi dalam bidang penyuluhan.

2. Persyaratan Penyuluh Pertanian Swasta
A) Persyaratan Umum
* Warga Negara Republik Indonesia ;
* Memiliki keterampilan dan keahlian teknis dalam bidang pertanian ;
* Mempunyai kesempatan, kesediaan, kemauan, kemampuan dan perhatian untuk menyebarluaskan keahliannya kepada pelaku utama melalui kegiatan pertanian ;
* Mempu berkomunikasi khusus dengan pelaku utama dan pelaku usaha ;
* Mampu bermitra dengan Penyuluh Pertanian PNS dalam melakukan kegiatan penyuluhan di bidang pertanian ;
* Bersedia mengikuti pelatihan di bidang penyuluhan pertanian yang diselenggarakan oleh pemerintah.
B) Persyaratan Khusus
* Karyawan perusahaan swasta dan atau lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam pemberdayaan pelaku utama di bidang pertanian ;
* Mempunyai kompetensi di bidang penyuluhan pertanian ;
* Dalam melaksanakan tugasnya berhadapan langsung dengan pelaku utama kegiatan pertanian.


3. Identifikasi dan Penetapan
a. Kelembagaan penyuluhan pertanian melakukan identifikasi terhadap karyawan perusahaan swasta dan atau LSM di bidang pertanian yang melakukan kegiatan penyuluhan;
b. Kelembagaan penyuluhan pertanian melakukan rekapitulasi calon Penyuluh Pertanian Swasta dan mengirimkannya ke kelembagaan penyuluhan pertanian setingkat lebih tinggi;
c. Kelembagaan pada butir 2 melakukan klarifikasi dan verifikasi terhadap calon Penyuluh Pertanian Swasta;
d. Calon Penyuluh Pertanian Swasta yang memenuhi syarat ditetapkan sebagai Penyuluh Pertanian Swasta di wilayah kerja yang menjadi tanggungjawabnya;
e. Hasil penetapan pada butir 4 dikirimkan kepada Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Departemen Pertanian sebagai bahan perencanaan dan pembinaan;
f. Calon Penyuluh Pertanian Swasta pada butir 5 diusulkan ke Lembaga Pendidikan dan Pelatihan yang berwenang untuk mengikuti pelatihan;
g. Calon Penyuluh Pertanian Swasta yang telah mengikuti Pelatihan dan lulus diberikan sertifikat pelatihan penyuluh;
h. Untuk mendapatkan sertifikat kompetensi, Penyuluh Pertanian Swasta yang bersangkutan harus mengikuti uji kompetensi yang diselenggarakan oleh lembaga sertifikasi profesi yang diselenggarakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Penyuluh (LSP-Penyuluh)



III. TUGAS POKOK DAN FUNGSI PENYULUH SWASTA

1. Kedudukan
Kedudukan Penyuluh Pertanian Swasta adalah sebagai mitra Penyuluh Pertanian PNS dalam melakukan kegiatan penyuluhan pertanian, baik sendiri - sendiri maupun kerjasama yang terintegrasi dalam programa penyuluhan pertanian sesuai dengan tingkat administrasi pemerintahan dimana kegiatan penyuluhan diselenggarakan. Keberadaan Penyuluh Pertanian Swasta bersifat mandiri dan independen untuk memenuhi kebutuhan pelaku utama dan pelaku usaha pertanian.


2. Tugas Pokok
Tugas pokok Penyuluhan Pertanian Swasta adalah melakukan kegiatan penyuluhan pertanian kepada pelaku utama dan pelaku usaha sesuai dengan rencana kerja penyuluhan pertanian yang disusun berdasarkan programa penyuluhan pertanian di wilayah kerjanya.

3. Fungsi
Untuk dapat melaksanakan tugas pokok, Penyuluh Pertanian Swasta menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :
* Menyusun rencana kegiatan penyuluhan pertanian yang dikoordinasikan dengan kelembagaan penyuluhan pertanian setempat ;
* Melaksanakan kegiatan penyuluhan pertanian sesuai dengan rencana kerja yang telah disusun ;
* Melaksanakan pertemuan koordinasi dengan Penyuluh Pertanian PNS, Pelaku utama dan pelaku usaha dalam rangka mewujudkan sinergi kerja ;
* Mengikuti kegiatan rembug, pertemuan teknis, dan temu lapang pelaku utama dan pelaku usaha;
* Berperan aktif menumbuhkembangkan kelembagaan pelaku utama;
* Menjalin kemitraan usaha dengan pihak yang terkait dengan bidang tugasnya;
* Menumbuhkembangkan jiwa kepemimpinan dan kewirausahaan pelaku utama;
* Menyampaikan informasi dan teknologi baru dan tepat guna kepada pelaku utama;
* Melaksanakan proses pembelajaran secara partisipatif melalui berbagai media penyuluhan seperti antara lain percontohan dan pengembangan model usaha agribisnis bagi pelaku utama; dan
* Menyusun laporan kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan.



IV. KESIMPULAN

Undang Undang No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K), Penyuluh dikategorikan ke dalam tiga klasifikasi, yakni Penyuluh Pegawai Negeri Sipil, Penyuluh Swasta dan Penyuluh Swadaya. Keberadaan Penyuluh Pertanian Swasta diharapkan dapat menciptakan mekanisme kerja kemitraan dengan penyuluh PNS, THL-TBPP dan Penyuluh Swadaya guna mencapai keberhasilan Pembangunan Pertanian dan mendukung Program – Program Nasional.
Penyuluh Pertanian Swasta perlu dilakukan pembinaan dan difasilitasi oleh BPP/BP3K di wilayah kerja berdasarkan persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan.



DAFTAR PUSTAKA


Mardikanto, T., 1999. Penyuluhan Pembangunan Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 52 Tahun 2009 Tentang Metode Penyuluhan Pertanian

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pengelolaan Balai Penyuluhan

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26 Tahun 2013 Tentang Pedoman Pengelolaan Balai Penyuluhan

Petunjuk Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian Di Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan. Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP 2013

Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 Tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan


Penulis : Puguh Nugroho, SST ( Widyaiswara Pertama )
Publish : 25 Maret 2015

(Download versi PDF)

Tanggal Upload : 25-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 890 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


JENIS - JENIS METODE PENYULUHAN PERTANIAN

I. PENDAHULUAN

Penyuluhan Pertanian adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K) melalui Pasal 26 mengamanatkan bahwa penyuluhan dilakukan dengan pendekatan partisipatif melalui metode penyuluhan pertanian yang disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi pelaku utama dan pelaku usaha. Agar penyuluhan pertanian dilaksanakan secara efektif dan efisien, diperlukan metode penyuluhan pertanian yang tepat sesuai kebutuhan pelaku utama dan pelaku usaha.



II. TUJUAN

Penulisan artikel ini bertujuan memberikan informasi kepada Penyuluh Pertanian (pertanian, perikanan dan kehutanan) baik itu penyuluh PNS, Penyuluh THL-TBPP, Penyuluh Swadaya dan Penyuluh Swasta dapat mengetahui Jenis - Jenis Metode Penyuluhan Pertanian yang sesuai berdasarkan tujuan penyuluhan.



III. JENIS – JENIS METODE PENYULUHAN PERTANIAN

Metode penyuluhan pertanian adalah cara/teknik penyampaian materi penyuluhan oleh penyuluh pertanian kepada pelaku utama dan pelaku usaha agar mereka tahu, mau, dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, sumberdaya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Metode Penyuluhan Pertanian bertujuan untuk :
a Mempercepat dan mempermudah penyampaian materi dalam pelaksanaan penyuluhan pertanian ;
b Meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan dan pelaksanaan penyuluhan pertanian ;
c Mempercepat proses adopsi inovasi teknologi pertanian.

Penggunaan metode penyuluhan harus disesuaikan dengan tujuan yang dicapai, adapun jenis-jenis metode penyuluhan pertanian berdasarkan tujuan yaitu ;

1) Pengembangan kreativitas dan inovasi antara lain ;
a. Temu Wicara adalah dialog antara pelaku utama dan pelaku usaha dengan pejabat pemerintah membicarakan perkembangan dan pemecahan masalah pembangunan pertanian.
b. Temu Lapang (field day) adalah pertemuan antara pelaku utama dan pelaku usaha dengan penyuluh pertanian dan/atau peneliti/ahli pertanian di lapangan untuk mendiskusikan keberhasilan usahatani dan/atau mempelajari teknologi yang sudah diterapkan.
c. Temu Karya adalah pertemuan sesama pelaku utama dan pelaku usaha untuk tukar menukar informasi, pengalaman dan gagasan dalam kegiatan usahatani.
d. Temu Usaha adalah pertemuan antar pelaku utama dengan pelaku usaha/pengusaha dibidang agribisnis dan/atau agroindustri agar terjadi tukar menukar informasi berupa peluang usaha, permodalan, teknologi produksi, pasca panen, pengolahan hasil, serta pemasaran hasil, dengan harapan akan terjadi kontrak kerjasama.

2) Pengembangan kepemimpinan antara lain ;
a. Rembug Paripurna adalah pertemuan lengkap seluruh anggota pengurus organisasi pelaku utama dan pelaku usaha tingkat nasional/provinsi/kabupaten/kota ditambah utusan dari wilayah dibawahnya yang membahas masalah umum pembangunan pertanian yang akan menjadi dasar kegiatan organisasi tingkat nasional.
b. Rembug Utama adalah pertemuan lengkap seluruh anggota pengurus organisasi pelaku utama dan pelaku usaha, untuk menilai/mengevaluasi pelaksanaan kesepakatan program dan rencana kerja periode yang lalu, serta menyusun kepengurusan nasional/provinsi/kabupaten/kota periode yang akan datang.
c. Rembug Madya adalah pertemuan para anggota pengurus organisasi pelaku utama dan pelaku usaha untuk mendiskusikan dan mencari kesepakatan dalam pelaksanaan Pekan Nasional Pertemuan Pelaku Utama dan Pelaku usaha pemecahan suatu masalah yang dihadapi untuk kemudian dilaksanakan oleh mereka sendiri beserta kelompoknya.
d. Mimbar Sarasehan adalah pertemuan konsultasi secara berkala dan berkesinambungan antara pelaku utama dan pelaku usaha andalan dengan pejabat pemerintah terutama lingkup pertanian untuk perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan pertanian.

3) Pengembangan kerukunan dengan masyarakat antara lain ;
a. Temu Akrab adalah kegiatan pertemuan untuk menjalin keakraban antara pelaku utama dengan masyarakat setempat/sekitar lokasi pertemuan.
b. Ceramah adalah media penyampaian informasi secara lisan kepada pelaku utama, pelaku usaha dan/atau tokoh masyarakat dalam suatu pertemuan.
c. Demonstrasi adalah peragaan suatu teknologi (bahan, alat atau cara) dan atau hasil penerapannya secara nyata yang dilakukan oleh demonstrator kepada pelaku utama dan pelaku usaha.

Ditinjau dari materi, demonstrasi dibedakan atas ;
* Demonstrasi cara adalah peragaan cara kerja suatu teknologi, antara lain: demonstrasi cara pemupukan, demonstrasi cara penggunaan alat perontok.
* Demonstrasi hasil adalah peragaan hasil penerapan teknologi, antara lain: demonstrasi hasil budidaya padi varietas unggul, demonstrasi hasil penggunaan alat perontok padi.
* Demonstrasi cara dan hasil adalah gabungan peragaan cara dan hasil suatu teknologi.

Ditinjau dari luasan areal dan pelaksana demonstrasi dibedakan atas ;
* Demonstrasi plot (Demplot) adalah peragaan penerapan teknologi oleh petani perorangan dilahan usahataninya.
* Demonstrasi usahatani (Dem farm) adalah peragaan penerapan teknologi oleh kelompoktani dalam hamparan usahatani anggotanya.
* Demontrasi area (Dem area) adalah peragaan penerapan teknologi secara bersama oleh gabungan kelompoktani dalam hamparan usahatani anggotanya.
* Demonstrasi Unit (demunit) adalah peragaan penerapan teknologi dilakukan oleh kelembagaan pelaku utama dan kelembagaan pelaku usaha yang berbadan hukum di lahan yang dikuasai oleh kelembagaan pelaku utama dan kelembagaan pelaku usaha.

4) Kaji Terap
Kaji terap adalah Ujicoba teknologi yang dilakukan oleh pelaku utama untuk meyakinkan keunggulan teknologi anjuran dibandingkan teknologi yang pernah diterapkan, sebelum diterapkan atau dianjurkan kepada pelaku utama lainnya.

5) Karya Wisata
Karya wisata adalah Kegiatan peninjauan oleh sekelompok pelaku utama untuk melihat dan mempelajari keberhasilan penerapan teknologi usahatani di satu atau beberapa tempat.

6) Kunjungan Rumah/Tempat Usaha
Kunjungan rumah/Tempat usaha adalah Kunjungan terencana oleh penyuluh ke rumah atau tempat usaha pelaku utama dan atau pelaku usaha.

7) Kursus Tani
Kursus tani adalah proses belajar-mengajar yang diperuntukan bagi para pelaku utama beserta keluarganya yang diselenggarakan secara sistematis, teratur dan dalam jangka waktu tertentu.

8) Magang di Bidang Pertanian
Magang adalah proses belajar mengajar antar pelaku utama dengan bekerja di lahan dan/ atau tempat usahatani pelaku utama yang berhasil.

9) Mimbar Sarasehan
Mimbar sarasehan adalah forum konsultasi antara wakil pelaku utama dan/atau pelaku usaha dengan pihak pemerintah secara periodik dan berkesinambungan untuk musyawarah dan mufakat dalam pengembangan usaha pelaku utama dan pelaksanaan program pembangunan pertanian.

10) Obrolan Sore
Obrolan sore adalah percakapan antar pelaku utama yang dilakukan sore hari dengan santai dan akrab mengenai pengembangan usahatani dan pembangunan pertanian.

11) Pameran
Pameran adalah usaha untuk memperlihatkan atau mempertunjukkan model, contoh, barang, peta, grafik, gambar, poster, benda hidup dan sebagainya secara sistematik pada suatu tempat tertentu.

12) Pemberian Penghargaan
Pemberian penghargaan adalah kegiatan untuk memotivasi pelaku utama melalui pemberian penghargaan atas prestasinya dalam kegiatan usahatani.

13) Pemutaran Film
Pemutaran film merupakan metode penyuluhan dengan menggunakan alat film yang bersifat visual dan massal, serta menggambarkan proses sesuatu kegiatan.

14) Pemasangan Poster/Spanduk
Pemasangan poster/spanduk merupakan metode penyuluhan dengan menggunakan gambar dan sedikit kata - kata yang dicetak pada kertas/bahan lain yang berukuran tidak kurang dari 45 cm x 60 cm, dan ditempelkan pada tempat-tempat yang sering dilalui orang atau yang sering digunakan sebagai tempat orang berkumpul di luar suatu ruangan.

15) Penyebaran Brosur, Folder, Leaflet dan Majalah
Penyebaran brosur, folder, leafleat dan majalah merupakan metode penyuluhan dengan menggunakan brosur, folder, leaflet dan majalah yang dibagikan kepada masyarakat pada saat-saat tertentu, antara lain pada saat pameran, kursus tani, temu wicara, temu karya dan lain-lain atau berlangganan khusus untuk majalah.

16) Perlombaan unjuk Ketangkasan
Perlombaan unjuk ketangkasan merupakan suatu kegiatan dengan aturan serta waktu yang ditentukan untuk menumbuhkan persaingan yang sehat antar petani untuk mencapai prestasi yang diinginkan secara maksimal.

17) Diskusi
Diskusi merupakan suatu pertemuan yang jumlah pesertanya tidak lebih dari 20 orang dan biasanya diadakan untuk bertukar pendapat mengenai suatu kegiatan yang akan diselenggarakan, atau guna mengumpulkan saran-saran untuk memecahkan permasalahan.

18) Pertemuan Umum
Pertemuan umum merupakan suatu rapat atau pertemuan yang melibatkan instansi terkait, tokoh masyarakat dan organisasi-organisasi yang ada di masyarakat. Pada pertemuan ini disampaikan beberapa informasi tertentu untuk dibahas bersama dan menjadikan kesepakatan yang dicapai sebagai pedoman pelaksanaannya.

19) Siaran Pedesaan Melalui Radio
Siaran pedesaan melalui radio merupakan siaran khusus yang ditujukan bagi para petani dan keluarganya dengan maksud menyebarkan secara cepat informasi-informasi dan pengetahuan baru di bidang pertanian secara luas. Dengan dilakukannya dengar pendapat, diskusi dan gerak oleh kelompok pendengar maka efektifitas penangkapan informasi ditingkatkan sehingga memungkinkan terjadinya adopsi.

20) Temu Akrab
Temu akrab adalah Pertemuan untuk menjalin keakraban antara pelaku utama dengan masyarakat setempat/sekitar lokasi pertemuan.

21) Temu Karya
Temu karya adalah pertemuan antar pelaku utama untuk bertukar pikiran dan pengalaman serta belajar atau saling mengajarkan sesuatu pengetahuan dan keterampilan untuk diterapkan. Bentuk kegiatannya merupakan ungkapan pengalaman seseorang yang telah berhasil menerapkan suatu teknologi baru di bidang usahataninya.

22) Temu Lapang
Temu lapang merupakan pertemuan antara petani dengan peneliti untuk saling tukar menukar informasi tentang teknologi yang dihasilkan oleh peneliti dan umpan balik dari petani.

23) Temu Tugas
Temu tugas merupakan pertemuan berkala antara pengemban fungsi penyuluhan, peneliti, pengaturan dan pelayanan dalam rangka pemberdayaan petani beserta keluarganya.

24) Widyawisata
Widyaiwisata merupakan suatu perjalanan bersama yang dilakukan oleh kelompoktani untuk belajar dengan melihat suatu penerapan teknologi dalam keadaan yang sesungguhnya, atau melihat suatu akibat tidak ditetapkannya teknologi di suatu tempat.



IV. KESIMPULAN

Metode Penyuluhan Pertanian ini sebagai dasar dalam penyelenggaraan dan pelaksanaan penyuluhan pertanian untuk meningkatkan kemampuan pelaku utama dan pelaku usaha dalam melaksanakan kegiatan usaha. Penetapan metode penyuluhan pertanian, penyuluh harus mempertimbangkan tahapan dan kemampuan adopsi, sasaran, sumber daya, keadaan daerah serta kebijakan pemerintah.

Menetapkan metode atau kombinasi beberapa metode yang tepat berdasarkan spesifik lokasi kebutuhan pelaku utama dan pelaku usaha adalah metode yang efektif dan efesien dalam melakukan penyuluhan pertanian.



DAFTAR PUSTAKA


Mardikanto, T., 1999. Penyuluhan Pembangunan Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 52 Tahun 2009 Tentang Metode Penyuluhan Pertanian

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pengelolaan Balai Penyuluhan

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26 Tahun 2013 Tentang Pedoman Pengelolaan Balai Penyuluhan

Petunjuk Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian Di Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan. Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP 2013

Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 Tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan

Padmowihardjo, S., 2000. Metode dan teknik penyuluhan pertanian, Universitas Terbuka, Jakarta.


Penulis : Puguh Nugroho, SST ( Widyaiswara Pertama )
Publish : 25 Maret 2015

(Download versi PDF)

Tanggal Upload : 25-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 7334 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]

Hal : 1  2  3  4  [ 5 ]  6  7  8  9  10  11  12 

INFORMASI PENGUNJUNG :


Browser : CCBot/2.0 (http://commoncrawl.org/faq/)

Anda adalah pengunjung kami yang ke : 445009

Statistik Pengunjung Web 6 Bulan Terakhir

8889
9054
9128
10146
13671
3616

08-2017

09-2017

10-2017

11-2017

12-2017

01-2018