Peta Utama
Peta SD Negeri
Peta SMP Negeri
Peta SMA Negeri
Your result will display here
 
 BERANDA |  ARTIKEL/ PUBLIKASI |  GALLERY |  BUKU TAMU |  HUBUNGI KAMI     

Beranda

Profil

Jadwal Kegiatan

Tautan Website

Sistem Informasi SDM

Sistem Informasi Diklat

Sistem Informasi Kelembagaan

Sistem Informasi Pengadaan Barang dan Jasa

Informasi Publik BPP Jambi

Denah Balai Pelatihan Pertanian Jambi

  PENCARIAN DATA :

MUTIARA HIKMAH :

"Dari Pada Mengutuki Kegelapan, Lebih Baik Ambil Sebatang Lilin dan Nyalakan”
(Pepatah Tiongkok)

Bagaimanakah Pendapat Anda Tentang Website ini?

 Baik Sekali
             59%
 Baik
             19%
 Cukup
             22%

Bagaimana pelayanan BPP Jambi

 Sangat Baik
             68%
 Baik
             28%
 Cukup
             4%

 
User ID :
Password :
 

LIVE CHAT

Pengelola Web Yahoo Messenger

ARTIKEL/ PUBLIKASI

Layanan ini disediakan dalam rangka penyebarluasan informasi kepada masyarakat umum. Data yang tersimpan dalam modul ini adalah data-data yang bersifat umum (bukan rahasia). Kami sangat menghargai jika kutipan yang Anda ambi dari artikel yang kami publikasikan ini Anda tidak lupa mencantumkan sumbernya www.bppjambi.info, dan Kami tidak bertanggungjawab atas segala bentuk penyalah gunaan yang timbul dikemudian hari.


TEKNOLOGI PEMBUATAN TAHU SKALA RUMAH TANGGA

Oleh: Masnun, S.Pt., M.Si.
Widyaiswara Madya

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tahu bukan asli dari Indonesia, tetapi masyarakat Indonesia sudah sejak zaman dulu mengenal tahu. Nama "tahu" merupakan serapan dari bahasa Hokkian (tauhu) (hanyu pinyin : doufu), yang secara harfiah berarti "kedelai terfermentasi". Tahu telah dikenal di Tiongkok sejak zaman dinasti Han sekitar 2200 tahun lalu. Penemunya Liu An yang merupakan seorang bangsawan, cucu dari Kaisar Han Gaozu, Liu Bang yang mendirikan dinasti Han. Versi tahu yang dikenal di Jepang adalah tofu. Tofu lebih lunak dan kurang tahan terhadap pengolahan. Tofu dan tahu dibawa para perantau Cina ke seluruh penjuru dunia sehingga menyebar ke Asia Timur dan Asia Tenggara, dan akhirnya ke seluruh dunia.
Tahu sangat diminati oleh orang, baik itu masyarakat Indonesia maupun negara lain. Di Australia tahu dengan label Nutrisoy sudah beredar hampir di seluruh Australia bahkan sampai ke New Zealand meskipun di NZ baru masuk di toko-toko health food. Di Sydney, Nutrisoy dapat dijumpai di semua Asian Grocery bahkan di Coles atau Woolworth.
Tahu dapat menjadi makanan ringan ataupun dapat menjadi menu lauk pauk. Disamping tahu mudah dalam pengolahan dan tidak kalah pentingnya adalah tahu merupakan makanan yang sangat baik untuk kesehatan. Untuk kesehatan tahu adalah makanan rendah kalori namun tinggi protein, tahu juga sebagai sumber yang baik dari berbagai mineral, seperti kalsium, besi, magnesium, fosfor, seng, kalium. Vitamin pada tahu seperti vitamin D, A, B6, C, thiamin, riboflavin, niasin, dan asam folat.
Pembuatan tahu sangat mudah, dapat dilakukan oleh rumah tangga dengan bahan dan sarana prasarana yang mudah di dapat. Oleh karena itu tulisan ini memberikan informasi tentang teknologi sederhana pengolahan kedelai menjadi tahu.

B. Tujuan
Memberikan informasi cara membuat tahu dengan teknologi yang sederhana untuk dilakukan oleh skala keluarga

A. Pembuatan Tahu
Tahu adalah makanan yang dibuat dari endapan perasan biji kedelai yang mengalami koagulasi atau kedelai yang dihaluskan hingga menjadi jus dan diperas hingga menjadi ekstrak. Ekstrak kedelai kemudian dipadatkan atau dicetak sesuai ukuran.
Bahan:
1.Kedelai 1 kg
2.Cuka makan (jeruk nipis) 1 sdm untuk cuka makan (6 buah jeruk nipis)
3.Air secukupnya untuk proses pemblenderan agar lancar

Gambar 1. a. Kedelai b. Jeruk nipis

Alat :
Alat yang digunakan adalah peralatan dalam dapur keluarga yaitu:
1.Blender
2.Kain blacu, dipotong ukuran 1 m x 1 m gunanya adalah untuk memeras bubur kedelai (memisahkan ekstrak dan ampas)
3.Panci
4.Pengaduk
5.Kompor.
6.Cetakan, cetakan dapat dibuat dari wadah bahan plastik dengan ukuran 25 cm x 35 cm, sebanyak 2 buah (1 buah diberi lubang lubang pada dasarnya dan yang satunya lagi sebagai penekan). Untuk wadah penampung air sisa penggumpalan digunakan wadah plastik ukuran 35 cm x 45 cm


Proses pembuatan tahu mudah dilakukan yaitu sebagai berikut :
1. Sortasi biji
Biji-biji yang akan diproses menjadi tahu harus disortir terlebih dahulu. Biji kedelai dipilih yang utuh dan tidak tercampur kotoran. Sortasi dapat dilakukan dengan tangan atau ditampi. Tujuan dari sortasi ini untuk mendapatkan kedelai yang bersih, bebas dari kotoran sehingga menghasilkan produk tahu yang berkualitas.

Gambar 3. Biji Kedelai yang telah disortir

2. Pencucian
Biji-biji hasil sortasi dimasukkan ke dalam bak atau ember, kemudian dicuci hingga bersih sehingga kotoran yang melekat maupun tercampur diantara biji dapat hilang. Pencucian disarankan menggunakan air bersih dan yang mengalir.

3. Perendaman
Perendaman biji kedelai dilakukan di dalam bak berisi air bersih selama 6-12 jam. Tetapi biasanya home industri ini merendam kedelai selama 7 jam. Perendaman kedelai dimaksudkan agar kedelai menyerap air sehingga lebih lunak dan kulit arinya mudah dikupas.

Gambar 4. Perendaman biji kedelai

4. Pengupasan kulit ari biji
Proses pengupasan kulit ari biji dapat dilakukan secara manual menggunakan tangan dengan cara diremas-remas kedelai dalam air kemudian dikuliti sehingga biji-biji kedelai kelihatan bersih. Selain itu bisa juga menggunakan alat pengupas kulit ari. Hasil pengupasan biji kedelai berupa keping-keping biji kedelai.

Gambar 5 : Pengupasan biji kedelai

5. Penggilingan
Penggilingan dilakukan dengan alat penggiling atau blender yang telah ditambahkan air panas agar enzim lipoksigenase (penyebab bau langu) tidak aktif. Penggilingan dilakukan sampai halus dan hasil gilingan berupa bubur putih. Cara penggilingan adalah keping-keping kedelai direndam air panas selama beberapa menit kemudian dimasukkan ke dalam penggilingan atau blender. Keping-keping kedelai tergiling menjadi halus dan menjadi bubur putih.

6. Penyaringan
Setelah digiling bubur disaring dengan kain blacu kemudian diperas sampai ampas tidak mengandung sari lagi. Dibawah kain blacu diberi wadah untuk menampung sari kedelai. Caranya adalah bubur kedelai diletakkan diatas kain blacu yang ada di dalam wadah. Setelah itu, kain blacu ditutupkan pada bubur lalu diletakkan diantara penjepit yang berada pada peremukaan wadah. Penjepit ditekan sekuat-kuatnya agar semua air yang terdapat dalam bubur terperas semua. Bila perlu, ampas saringan diperas lagi dengan menambah sedikit air, penyaringan ini dapat dilakukan berulang kali hingga diperoleh sari kedelai yang optimal. Selain sari kedelai, kita juga mendapatkan hasil lain yaitu ampas tahu yang dapat dijadikan pakan ternak dan tempe gembus.

Gambar 6. Penyaringan bubur kedelai

7. Pendidihan/Perebusan
Hasil saringan yang berupa sari kedelai dimasak dalam panci sampai mendidih dengan api kecil (kurang lebih 30 menit) dan busa yang terbentuk pada saat perebusan dibuang. Pendidihan ini bertujuan untuk menonaktifkan zat antinutrisi kedelai dan meningkatkan nilai cerna. Cara pendidihan adalah bubur kedelai dimasukkan ke dalam wajan besar lalu dipanaskan diatas tungku. Selama pendidihan ini akan mengeluarkan busa, maka agar buasa tidak tumpah perlu diaduk. Lama pendidihan ini sekitar 15-39 menit. Sari kedelai yang telah mendidih diangkat dan didinginkan hingga suhu + 370 C.

Gambar 7. Hasil perebusan sari kedelai

8. Penggumpalan
Masukkan air jeruk nipis sedikit demi sedikit pada sari kedelai yang telah dingin sambil diaduk sehingga tercampur rata dan sari kedelai menggumpal. Penggumpalan ini berlangsung selama 10 menit agar mendapatkan protein yang sempurna. Selain menggunakan air jeruk nipis penggumpalan dapat menggunakan batu tahu (Ca SO4) yang berasal dari batu gips atau sulfat kapur yang telah dibakar dan kemudian ditumbuk dibuat tepung. Penggumpalan dapat juga menggunakan asam cuka (cuka makan) yang diencerkan untuk 1 botol cuka makan dicampur dengan 36 liter air. Sisa air asam kemudian dipisahkan dari gumpalan dan disimpan, sebab sisa air asam itu masih dapat dipakai lagi.
Bila kita menggunakan bahan-bahan itu kita harus mengetahui dosis yang tepat, bila tidak tepat maka kemungkinan akan gagal proses pembuatan tahu. Misalnya, penggunaan asam cuka dengan dosis yang tidak pas kemungkinan besar rasa tahu menjadi masam. Begitu pula dengan penggunaan biang (sisa cairan setelah tahap pengendapan protein atau sisa cairan dari pemisahan gumpalan tahu yang dibiarkan semalam) juga memiliki resiko tang cukup tinggi. Misalnya jika biang ini mengandung bekteri pengurai protein cukup tinggi tahu akan busuk. Tetapi bila kita menggunakan sari jeruk beban biaya produksi akan meningkat pesat karena harga jeruk nipis mahal.

Gambar 8. Pencampuran air jeruk nipis dengan sari kedelai

9. Pencetakan
Gumpalan-gumpalan sari pati kedelai dimasukkan dalam wadah cetakan tahu yang telah dilapisi dengan kain blacu, kemudian kain blacu dilipat sampai membungkus sari pati kedelai dan mencetak tahu. Di atasnya diberi pemberat agar air dalam sari kedelai dapat keluar dan tahu memadat. Setelah 10 menit alat pemberat dilepaskan, tahu diangkat dari cetakan dan kemudian dipotong-potong sesuai dengan selera.

Gambar 9. Pencetakan dan pemotongan tahu
Setelah dipotong-potong tahu dapat diolah menjadi beraneka masakan atau hanya digoreng saja. Agar tahu tidak cepat basi maka setelah menjadi tahu bisa dilakukan perebusan. Dalam perebusan juga bisa ditambahkan sedikit garam atau perasan kunyit. Proses pembuatan tahu selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 8.
B. Gambar proses pembuatan tahu


D. Diagram Alir Pembuatan tahu


KESIMPULAN
Tahu dapat menjadi makanan ringan ataupun dapat menjadi menu lauk pauk. Disamping tahu mudah dalam pengolahan dan tidak kalah pentingnya adalah tahu merupakan makanan yang sangat baik untuk kesehatan. Untuk kesehatan tahu adalah makanan rendah kalori namun tinggi protein, tahu juga sebagai sumber yang baik dari berbagai mineral, seperti kalsium, besi, magnesium, fosfor, seng, kalium. Vitamin pada tahu seperti vitamin D, A, B6, C, thiamin, riboflavin, niasin, dan asam folat. Pembuatan tahu sangat mudah, dapat dilakukan oleh rumah tangga dengan bahan dan sarana prasarana yang mudah di dapat.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Kandungan Gizi dan Manfaat Tahu. http://tautauenak.wordpress.com/kandungan-gizi-dan-manfaat-tahu/
Anonim. Karya Tulis Membuat Tahu. leeyaleeyut.files.wordpress.com/2010/07/karya-tulis-membuat-tahu.doc
Anonim. (http://v2.indomedia.com.au/feature/kunjungan-konjen-ri-ke-pabrik-tahu-dan-tempe/). Diakses tanggal 09 Maret 2015
Anonim. (http://www.tipscaramanfaat.com/manfaat-tahu-bagi-kesehatan-dan-kandungan-gizinya-07.html#sthash.p9lEfPI3 .dpuf. diakses tanggal 09 Maret 2015
Astawan, M. dan Mita W. Teknologi pengolahan pangan nabati tepat guna. Jakarta : Akademika Pressindo, 1991. Hal. 94-96.
Bambang Cahyono. 2007. Kedelai, Tehnik Budidaya dan Analisis Usahatani. Semarang: CV Aneka Ilmu.
Buku seri teknologi makanan II. Bogor : Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor, 1983. Hal. 39-45.

Tanggal Upload : 16-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 350 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


MIKROORGANISME PENTING DALAM TANAH

Oleh : Lisa Marianah, SP (Widyaiswara Pertama)


Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroorganisme tanah. Organisme tanah berperan penting dalam mempercepat penyediaan hara dan juga sebagai sumber bahan organik tanah. Penambahan bahan organik dalam tanah akan menyebabkan aktivitas dan populasi mikrobiologi dalam tanah meningkat, terutama yang berkaitan dengan aktivitas dekomposisi dan mineralisasi bahan organik.

Tanggal Upload : 10-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 618 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


MEMPERBANYAK DAN MENGAPLIKASIKAN AGENSIA HAYATI

Oleh : Lisa Marianah, SP (Widyaiswara Pertama)


Kesadaran masyarakat semakin tinggi akan bahaya dan pengaruh negatif dari penggunaan pestisida kimia, baik itu terhadap manusia ataupun lingkungan. Resurgensi hama, resistensi hama, munculnya hama kedua serta terbunuhnya musuh alami (hama bukan sasaran) merupakan beberapa dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia yang kurang bijaksana. oleh karena itu penggunaan agensia hayati dapat mengurangi dampak yang timbul akibat penggunaan pestisida kimia.

Tanggal Upload : 10-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 1048 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


TEKNOLOGI PENGOLAHAN KEDELAI MENJADI TEMPE

Oleh: Masnun, S.Pt., M.Si.
Widyaiswara Madya

I.PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Tempe merupakan produk asli Indonesia sebagai makanan tradisional masyarakat terutama dalam tatanan budaya makan masyarakat Jawa. Makanan ini sudah dikenal sejak berabad-abad lalu. Bukan hanya masyarakat Jawa gemar terhadap tempe, tetapi di seluruh wilayah Indonesia tempe sudah populer bahkan sampai ke negara lain seperti Belanda, Jepang, Australia dan Amerika. Justru di Jepang harga tempe lebih mahal dibandingkan dengan daging, dan Jepang mematenkan tempe buatan mereka. Ini disebabkan karena tempe rasanya lezat, dan manfaatnya yang sangat banyak bagi kesehatan.

Salah satu penerapan bioteknologi yang menggunakan jasa mikroorganisme untuk pangan adalah tempe. Tempe adalah hasil olahan biji kedelai secara fermentasi dengan menggunakan cendawan Rhizopus. Teknologi pembuatan tempe sangat sederhana, relatif mudah dilakukan. Oleh karena itu Balai Pelatihan Pertanian Jambi pada salah satu materi diklat dalam pelatihan pasca panen dan pengolahan hasil adalah mengolah kedelai menjadi Tempe.

B.Tujuan

Memberikan informasi tentang :
1.Khasiat dan peran serta kandungan gizi tempe dari kedelai
2.Pengolahan kedelai menjadi tempe dengan teknologi yang sederhana.

II. KHASIAT DAN PERAN SERTA KANDUNGAN GIZI TEMPE

A. Khasiat Tempe
Tempe berpotensi untuk digunakan melawan radikal bebas, sehingga dapat menghambat proses penuaan dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif (aterosklerosis, jantung koroner, diabetes melitus, kanker, dan lain-lain). Selain itu tempe juga mengandung zat antibakteri penyebab diare, penurun kolesterol darah, pencegah penyakit jantung, hipertensi, dan lain-lain. Komposisi gizi tempe baik kadar protein, lemak, dan karbohidratnya tidak banyak berubah dibandingkan dengan kedelai.

B. Peran tempe sebagai pembersih radikal bebas
Tempe berasal dari kedele yang terfermentasi oleh jamur Rhizopus oligosporus sehingga menjadikannya mudah dicerna dan mempunyai nilai gizi lebih tinggi dibandingkan dengan kedele. Peningkatan nilai gizi yang terjadi antara lain adalah: kadar vitamin B2, Vitamin B12, niasin dan asam pantotenat. Bahkan terjadi juga peningkatan dan asam amino bebas, asam lemak bebas. dan zat besi.

C. Kandungan Gizi Pada Tempe
a. Asam Lemak
Asam lemak dapat menetralkan efek negatif sterol di dalam tubuh.

b. Vitamin

III. TEKNOLOGI PEMBUATAN TEMPE

A. Karakteristik Tempe
Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus.

B. Membuat Tempe
Pembuatan tempe secara tradisional biasanya menggunakan tepung tempe
yang dikeringkan di bawah sinar matahari. Sekarang pembuatan tempe ada juga yang menggunakan ragi tempe. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada proses pengolahan tempe agar diperoleh hasil yang baik ialah:
1) Kedelai harus dipilih yang baik (tidak busuk) dan tidak kotor;
2) Air harus jernih, tidak berbau dan tidak mengandung kuman penyakit;
3) Cara pengerjaannya harus bersih;
4) Bibit tempe (ragi tempe) harus dipilih yang masih aktif (bila diremas membentuk butiran halus atau tidak menggumpal).

a. Bahan
Bahan yang digunakan dalam membuat tempe adalah sebagai berikut:
1) Kedelai 1 kg
2) Ragi tempe 1-2 sdm
3) Daun pisang
4) Air secukupnya




Gambar : Bahan membuat kedelai 1. Biji Kedelai, 2. Ragi Tempe, 3.Daun pisang


b. Alat
Alat yang digunakan dalam pembuatan tempe adalah sebagi berikut:
1) Tampah
2) Baskom
3) Bakul peniris
5) Cetakan
6) Pengaduk kayu
7) Dandang
8) Tungku atau kompor

c. Cara pembuatan
Proses pembuatan tempe dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu proses pemasakan dan proses fermentasi. Adapun tahapannya sebagai berikut:
1. Penyortiran biji kedelai
Biji kedelai dipilih yang baik dan bersih.
2. Pencucian 1
Biji kedelai dimasukkan ke dalam bak air untuk dicuci hingga bersih. Proses pencucian akan lebih baik bila dengan air yang mengalir.


Gambar 2. Proses pencucian kedelai

3. Perebusan 1
Perebusan 1 dilakukan sekitar 30 menit atau biji kedelai mendekati setengah matang dengan ukuran yang membesar (1,5 kali lipat dari ukuran asal). Pada tahap awal pembuatan tempe, biji kedelai direbus. Tahap perebusan ini berfungsi sebagai proses hidrasi, yaitu agar biji kedelai menyerap air sebanyak mungkin. Perebusan juga dimaksudkan untuk melunakkan biji kedelai supaya nantinya dapat menyerap asam pada tahap perendaman

4. Perendaman
Setelah dikupas, biji kedelai direndam. Tujuan tahap perendaman ialah untuk hidrasi biji kedelai dan membiarkan terjadinya fermentasi asam laktat secara alami agar diperoleh keasaman yang dibutuhkan untuk pertumbuhan fungi. Fermentasi asam laktat terjadi dicirikan oleh munculnya bau asam dan buih pada air rendaman akibat pertumbuhan bakteri Lactobacillus.
Bila pertumbuhan bakteri asam laktat tidak optimum (misalnya di negara-negarasubtropis, asam perlu ditambahkan pada air rendaman. Fermentasi asam laktatdan pengasaman ini ternyata juga bermanfaat meningkatkan nilai gizi dan menghilangkan bakteri-bakteri beracun.

5. Pengupasan kulit ari
Kulit biji kedelai dikupas pada tahap pengupasan agar miselium fungi dapat menembus biji kedelai selama proses fermentasi. Pengupasan dapat dilakukan dengan tangan, diinjak-injak dengan kaki, atau dengan alat pengupas kulit biji.

6. Pencucian 2
Proses pencucian akhir dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang mungkin dibentuk oleh bakteri asam laktat dan agar biji kedelai tidak terlalu asam. Bakteri dan kotorannya dapat menghambat pertumbuhan fungi.
7. Perebusan 2
Tujuan perebusan 2 untuk melunakkan keping-keping biji kedelai. Selain itu juga bertujuan untuk meminimalkan pertumbuhan bakteri patogen.
8. Penirisan dan pendinginan
Biji kedelai hasil perebusan 2 ditiriskan dan disimpan diatas tampah, kemudian diaduk-aduk secara merata agar keping biji menjadi kering dan dingin.
9. Inokulasi dengan ragi (peragian)
Proses peragian sangat menentukan kualitas tempe yang akan dihasilkan. Dosis ragi yang dibutuhkan untuk 1 kg biji kedelai sekitar 2 gram (1- 2 sdm) inokulum tempe. Inokulum tersebut diaduk merata pada seluruh keping biji yang akan dibuat tempe. Keping biji kedelai yang telah dicampur dengan inokulum dihamparkan diatas rak kayu yang telah disiapkan pada ketebalan sekitar 2-3 cm. Setelah itu keping biji kedelai dibungkus dengan kantong plastik, daun jati atau daun pisang.
10. Proses pemeraman
Setelah diinokulasi, biji-biji kedelai dibungkus atau ditempatkan dalam wadah untuk fermentasi. Berbagai bahan pembungkus atau wadah dapat digunakan (misalnya daun pisang, daun waru, daun jati, plastik, gelas, kayu,dan baja), asalkan memungkinkan masuknya udara karena kapang tempe membutuhkan oksigen untuk tumbuh. Bahan pembungkus dari daun atau plastik biasanya diberi lubang-lubang dengan cara ditusuk-tusuk.Biji-biji kedelai yang sudah dibungkus dibiarkan untuk mengalami proses fermentasi. Pada proses ini kapang tumbuh pada permukaan dan menembus biji-biji kedelai, menyatukannya menjadi tempe. Fermentasi dapatdilakukan pada suhu 20°C–37°C selama 18–36 jam. Waktu fermentasi yanglebih singkat biasanya untuk tempe yang menggunakan banyak inokulum dan suhu yang lebih tinggi, sementara proses tradisional menggunakan laru dari daun biasanya membutuhkan waktu fermentasi sampai 36 jam.

d. Gambar Proses Pembuatan Tempe


e. Bagan Alir Pembuatan Tempe


III. PENUTUP
A Kesimpulan
Berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika untuk menyembuhkan infeksi danantioksidan pencegah penyakit degeneratif. teknik pembuatan tempe di Indonesia secara umum terdiri dari tahapan perebusan, pengupasan, perendaman danpengasaman, pencucian, inokulasi dengan ragi, pembungkusan, dan fermentasi.
Kandungan Gizi Pada Tempe antara lain Asam Lemak, Vitamin, Mineral dan Antioksidan. Hasil beberapa temuan terhadap potensi tempe di dalam mencegah oksidasi ataupun sebagai pembersih radikal bebas dapat memberikan nilai tambah bagi tempe yang selama ini seakan akan tenggelam di tengah kancah persaingan bahan pangan modern. Selain tempe berbahan dasar kacang kedelai, terdapat pula berbagai jenis makanan berbahan bukan kedelai yang juga disebut tempe. Terdapat dua golongan besar tempe menurut bahan dasarnya, yaitu tempe berbahan dasar legum dan tempe berbahan dasar non-legum.
Proses pembuatan tempe melibatkan mikroorganisme yaitu menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai "ragi tempe".

B.Saran
Penulis menyarankan kepada para pedagang tempe untuk membuat usaha pembuatan tempe sendiri (home industri) sehingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan.


DAFTAR PUSTAKA
Anonimous, 2008. Panduan SL – PTT Departemen Pertanian.
Astawan, M. dan Mita W. Teknologi pengolahan pangan nabati tepat guna. Jakarta : Akademika Pressindo, 1991. Hal. 94-96.

Bambang Cahyono. 2007. Kedelai, Tehnik Budidaya dan Analisis Usahatani. Semarang: CV Aneka Ilmu.
Buku seri teknologi makanan II. Bogor : Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor, 1983. Hal. 39-45.

Sarwono, B. Membuat tempe dan oncom. Jakarta : PT. Penebar Swadaya, 1982. Hal. 10-15.

http://jaringnews.com/politik-peristiwa/umum/19679/ternyata-tempe-makanan-mewah-di-luar-negeri. Diakses tanggal 2 Maret 2015.

https://www.academia.edu/6191948/kandungan_gizi_tempe_beserta_manfaatnya. Diakses tanggal 2 Maret 2015.

Tanggal Upload : 02-03-2015
Jumlah Hit (telah di download) : 546 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


PENGGUNAAN ISTILAH EVALUASI, PENGUKURAN, TES, DAN ASESMEN DALAM DIKLAT

Oleh Ir. Lindung, MP
Widyaiswara Balai Pelatihan Pertanian Jambi



Penempatan atau penggunaan istilah-istilah evaluasi (penilaian), pengukuran, tes, dan asesmen seringkali rancu dipakai oleh berbagai kalangan yang bergerak di bidang pendidikan, termasuk oleh widyaiswara pertanian yang bergerak di bidang diklat pertanian.
Dalam praktek acapkali terjadi kerancuan atau tumpang tindih (overlap) dalam penggunaan istilah, kenyataan seperti itu memang dapat dipahami, mengingat bahwa diantara istilah tersebut saling kait- mengkait sehingga sulit untuk dibedakan.
Setelah melakukan kajian terhadap berbagai konsep, definisi atau pengertian, maka dibuatlahartikel ini yang tujuannya untuk mendudukkan semua istilah evaluasi, penilaian, tes, pengukuran, hingga asesmenpada tempatnya yang tepat.

KONSEP EVALUASI

a. Pengertian Evaluasi

1. Anas Sujidono (2005)
Evaluasi menunjuk pada suatu kegiatan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.

2. Barbara A., Frey dan Susan W. Alman (2003)
Evaluation The systematic process of collecting, analyzing, and interpreting information to determine the extent to which pupils are achieving instructional objectives. (Evaluasi adalah proses sistematis pengumpulan, analisis, dan interpretasi informasi untuk menentukan sejauh mana siswa yang mencapai tujuan instruksional).

3. Djemari Mardapi(2003)
Penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran.

4. Joint Committee on Standards For Educational Evaluation (1994) dalam Stufflebeam and Shinkfield
Evaluation is the systematic assessment of the worth or merit of an object (Evaluasi adalah penilaian yang sistematis dari nilai atau manfaat dari sebuah objek)

5. Mehrens dan Lehman (1978) dalam Ngalim Purwanto
Evaluasi dalam arti luas sebagai suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan.

6. Oxford Advanced Learner’s Dictionary Of Current English (AS Hornby, 1986)
Evaluasi adalah to find out, decide the amaunt or value. (suatu upaya untuk menentukan nilai atau jumlah)

7. Suchman (1961) dalam Anderson (1975); yang dikutip Suharsimi Arikunto dan Cepi Safrudin Abdul Jabar
Evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai beberapa kegiatan yang telah direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan.

8. Allen Philips (1979)
Evaluation is a complex term that often is misused by both teachers and students. It involves making decicions or judgements about students based on the extent to which instructional objectives are achieved by them. (Evaluasi adalah istilah kompleks yang sering disalahgunakan oleh para guru dan siswa. Ini melibatkan membuat keputusan atau penilaian tentang siswa didasarkan pada sejauh mana tujuan instruksional yang dicapai oleh mereka)

9. Sutarsih dan Kadarsih yang dikutip oleh Sridadi (2007)
Evaluasi : suatu proses untuk memberikan atau menentukan nilai kepada obyek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu.

10. Zainul, Asmawi dan Noehi Nasution (2001)
Penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes.

b. Kesimpulan Tentang Pengertian Evaluasi:
• Evaluasi berasal dari bahasa Inggris value yang artinya nilai, jadi istilah evaluasi sinonim dengan penilaian.
• Evaluasi merupakan proses sistematis dari mengumpulkan, menganalisis, hingga interpretasi (menafsirkan) data atau informasi yang diperoleh.
• Data atau informasi diperoleh melalui pengukuran (measurement) hasil belajarmelalui tes atau nontes.
• Evaluasi bersifat kualitatif.
• Evaluasi merupakan suatu proses atau kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dengan menggunakan beberapa metode tertentu untuk mengukur dan menilai suatu program atau kegiatan dalam rangka mencapai suatu tujuan.

KONSEP PENGUKURAN (MEASURUMENT)

a. Pengertian Pengukuran (Measurement)

1. Alwasilah dkk.(1996)
Measurement (pengukuran) merupakan proses yang mendeskripsikan performa siswa dengan menggunakan suatu skala kuantitatif (sistem angka) sedemikian rupa sehingga sifat kualitatif dari performa siswa tersebut dinyatakan dengan angka-angka.

2. Arikunto dan Jabar (2004)
Pengukuran (measurement) sebagai suatu kegiatan membandingkan suatu hal dengan satuan ukuran tertentu sehingga sifatnya menjadi kuantitatif.

3. James S. Cangelosi (1995),
Pengukuran adalah proses pengumpulan data secara empiris yang digunakan untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan tujuan yang telah ditentukan.

4. Sridadi (2007)
Pengukuran adalah suatu prose yang dilakukan secara sistematis untuk memperoleh besaran kuantitatif dari suatu obyek tertentu dengan menggunakan alat ukur yang baku.

5. Anas Sudijono
Pengukuran sebagai kegiatan yang dilakukan untuk mengukur sesuatu. Mengukur pada haikatnya adalah membandingkan sesuatu dengan atau atas dasar ukuran tertentu.

6. Kerlinger (1996) dalam Purwanto,
Pengukuran adalah membandingkan sesuatu yang diukur dengan alat ukurnya dan kemudian menerakan angka menurut sistem aturan tertentu.

7. Zaenal Arifin
Pengukuran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu.

8. Robert L. Ebel dan David A. Frisbie (1986)
Measurement is a process of assigning numbers to the individual numbers of a set of objects or person for the purpose of indicating differences among them in the degree to which they process the characteristic being measured (Pengukuran adalah proses menetapkan nomor ke nomor individu seperangkat benda atau orang untuk tujuan menunjukkan perbedaan di antara mereka dalam sejauh mana mereka memproses karakteristik yang sedang diukur)

9. William A.Mehrens dan Irlin J. Lehmann (1973)
Using observations, rating scales. Or any other device that allows us to obtain information in a quantitative form is measurement (menggunakan pengamatan, skala rating. Atau perangkat lain yang memungkinkan kita untuk mendapatkan informasi dalam bentuk kuantitatif adalah pengukuran)

10. Norman E. Gronlund (1971)
Measurement is limited to quantitative descriptions of pupil behavior (Pengukuran terbatas pada deskripsi kuantitatif dari perilaku murid)

b. Kesimpulan Tentang Pengertian Pengukuran:
• Kegiatan pengukuran dilakukan dengan membandingkan hasil belajar dengan suatu ukuran tertentu.
• Dilakukan dengan proses sistematis.
• Hasil pengukuran berupa besaran kuantitatif (berupa angka).
• Pengukuran menggunakan alat ukur yang baku.
• Pengukuran merupakan suatu kegiatan membandingkan sesuatu dengan ukuran tertentu untuk mendapatkan nilai atau akurasi suatu objek. Pengukuran dalam praktiknya lebih bersifat kuantitatif
• Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan dimana seseorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu. Pengukuran berkaitan erat dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif. Pengukuran diartikan sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas

KONSEP ASESMEN

a. Pengertian Asesmen

1. T.A.Angelo (1991)
Classroom Assessment is a simple method faculty can use to collect feedback, early and often, on how well their students are learning what they are being taught. (Asesmen Kelas adalah suatu metode yang sederhana dapat digunakan untuk mengumpulkan umpan balik, baik di awal maupun setelah pembelajaran tentang seberapa baik siswa mempelajari apa yang telah diajarkan kepada mereka.)

2. Bob Kizlik (2009)
Assessment is a process by which information is obtained relative to some known objective or goal. Assessment is a broad term that includes testing. A test is a special form of assessment. Tests are assessments made under contrived circumstances especially so that they may be administered. In other words, all tests are assessments, but not all assessments are tests. (Artinya : asesmen adalah suatu proses dimana informasi diperoleh berkaitan dengan tujuan pembelajaran. Asesmen adalah istilah yang luas yang mencakup tes (pengujian). Tes adalah bentuk khusus dari asesmen. Tes adalah salah satu bentuk asesmen. Dengan kata lain, semua tes merupakan asesmen, namun tidak semua asesmen berupa tes)

3. Terry Overton(2008)
Assesment is a process of gathering information to monitor progress and make educational decisions if necessary. As noted in my definition of test, an assesment may include a test, but also include methods such as observations, interview, behavior monitoring, etc. (Asesmen adalah suatu proses pengumpulan informasi untuk memonitor kemajuan dan bila diperlukan pengambilan keputusan dalam bidang pendidikan.

4. Palomba dan Banta (1999)
Assessment is the systematic collection , review , and use of information about educational programs undertaken for the purpose of improving student learning and development (Asesmen adalah pengumpulan, reviu, dan penggunaan informasi secara sistematik tentang program pendidikan dengan tujuan meningkatkan belajar dan perkembangan siswa).

5. Nana Sudjana
Penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu.

6. Gronlund (1984) dalam Asep Jihad dan Abdul Haris
Penilaian sebagai proses sistematik pengumpulan, penganalisaan, dan penafsiran informasi untuk menentukan sejauh mana siswa mencapai tujuan.

7. The Task Group on Assesment and Testing (TGAT) dalam Griffin & Nix (1991) dalam Eko Putro Widoyoko mendeskripsikan
Assessment sebagai semua cara yang digunakan untuk menilai unjuk kerja individu atau kelompok.

8. Boyer and Ewel
Assessment sebagai proses yang menyediakan informasi tentang individu siswa, tentang kurikulum atau program, tentang institusi atau segala sesuatu yang berkaitan dengan system institusi.

9. Eko Putro Widoyoko
Penilaian dapat diartikan sebagai kegiatan menafsirkan data hasil pengukuran berdasarkan kriteria maupun aturan-aturan tertentu.

10. Asmawi Zainul dan Noehi Nasution
Penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes

b. Kesimpulan Tentang Pengertian Asesmen:
• Assessment atau penilaian merupakan suatu tindakan memilih, menentukan, dan menilai suatu objek tertentu secara kualitatif (baik-buruk, tinggi-pendek, besar-kecil, dan lain-lain) berdasarkan atas beberapa standar atau kriteria tertentu.

• Penilaian (assessment) merupakan istilah yang umum dan mencakup semua metode yang biasa dipakai untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa dengan cara menilai unjuk kerja individu peserta didik atau kelompok. Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat. Penilaian untuk memperoleh berbagai ragam informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau informasi tentang ketercapaian kompetensi peserta didik. Proses penilaian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar peserta didik.

KONSEP TES

a. Pengertian Tes

1. Wayan Nurkencana (1993).
Tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas yang harus dikerjakan anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut yang kemudian dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau standar yang telah ditetapkan

2. Overton, Terry (2008)
Test is a method to determine a student’s ability to complete certain tasks or demontstrate mastery of a skill or knowledge of content. Some types would be multiple choice tests or a weekly spelling test. While it commonly used interchangeably with assesment, or even evaluation, it can be distinguished by the fact that a test is one form of an assesment. (Tes adalah suatu metode untuk menentukan kemampuan siswa menyelesaikan sejumlah tugas tertentu atau mendemonstrasikan penguasaan suatu keterampilan atau pengetahuan pada suatu materi pelajaran. Beberapa tipe tes misalnya tes pilihan ganda atau tes mengeja mingguan. Seringkali penggunaannya tertukar dengan asesmen, atau bahkan evaluasi (penilaian), yang mana sebenarnya tes dapat dengan mudah dibedakan berdasarkan kenyataan bahwa tes adalah salah satu bentuk asesmen)

b. Kesimpulan Tentang Pengertian Tes:
• Tes adalah cara atau metode untuk menentukan kemampuan siswa menyelesaikan tugas tertentu atau mendemonstrasikan penguasaan suatu keterampilan atau pengetahuan.
• Beberapa tipe tes misalnya tes pilihan ganda atau tes mengeja mingguan.
• Tes adalah salah satu bentuk asesmen

Kedudukan Istilah Evaluasi, Penilaian, Pengukuran, Asesmen, dan Tes.
Hasil pengertian dan kesimpulan tentang istilah-istilah evaluasi, penilaian, pengukuran, asesmen, maka dapat disusun sebuah diagram yang menggambarkan kedudukan istilah-istilah tersebut, yang disajikan dalam Gambar di bawah.



Gambar 1. Diagram kedudukan Evaluasi, Pengukuran, dan Asesmen



REFERENSI
Alwasilah, et al. (1996). Glossary of educational Assessment Term. Jakarta: Ministry of Education and Culture.
Anas Sudijono, 2001. Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta:PT.Grafindo persada
Angelo, T.A., (1991). Ten easy pieces: Assessing higher learning in four dimensions. In Classroom research: Early lessons from success. New directions in teaching and learning (#46), Summer, 17-31.
Arikunto, S & Jabar. 2004. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Asep Jihad dan Abdul Haris, Evaluasi Pembelajaran, cetakan ketiga, (Yogyakarta : Multi Pressindo, 2010)
Calongesi, James S. 1995. Merancang Tes untuk Menilai Prestasi Siswa. Bandung :
Daniel L. Stufflebeam and Antony J. Shinkfield, Evaluation Theory, Models, & Aplications, First Edition, (United State Of Amarica : Jossey Bass, 2007)
Eko Putro Widoyoko, Evaluasi Program Pembelajaran : Panduan Praktis Bagi Pendidik dan Calon Pendidik, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009)
Frey, Barbara A., and Susan W. Alman. (2003). Formative Evaluation Through Online Focus Groups, in Developing Faculty to use Technology, David G. Brown (ed.), Anker Publishing Company: Bolton, MA.
Kizlik, Bob. (2009). Measurement, Assessment, and Evaluation in Education. Online : http://www.adprima.com/measurement.htm diakses tanggal 20-01-2013.
Mardapi, Djemari (2003). Desain Penilaian dan Pembelajaran Mahasiswa. Makalah Disajikan dalam Lokakarya Sistem Penjaminan Mutu Proses Pembelajaran tanggal 19 Juni 2003 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Nana Sudjana 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Rosda Karya)
Overton, Terry. (2008). Assessing Learners with Special Needs: An Applied Approach (7th Edition). University of Texas – Brownsville
Palomba, Catherine A. And Banta, Trudy W. (1999). Assessment Essentials: Planning, Implementing, Improving. San Francisco: Jossey-Bass
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009)
Sridadi. (2007). Diktat Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran Penjas. Yogyakarta: FIK UNY.
Suharsimi Arikunto dan Cepi Safrudin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan : Pedoman Teoritis Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan, cetakan ketiga, (Jakarta : Bumi Akasara, 2009)
Wayan Nurkencana. (1993). Evaluasi Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional.
Zainul, Asmawi dan Noehi Nasution. 2001. Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Zaenal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2009).


Jambi, 7 Juli 2014. Lindung

Tanggal Upload : 08-07-2014
Jumlah Hit (telah di download) : 13 kali


TEKNIK MEMBUAHKAN BUAH NAGA

Oleh Ir. Lindung, MP
Widyaiswara Balai Pelatihan Pertanian Jambi


Pendahuluan

Buah naga (Inggris: pitaya) adalah buah dari beberapa jenis kaktus dari marga Hylocereus dan Selenicereus. Buah ini berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan namun sekarang banyak dibudidayakan di Indonesia, karena pemeliraannya termasuk mudah dan sederhana.
Buah naga berbentuk lonjong bulat, seperti buah nanas, dengan kulit berwarna merah jambu. Berat rata rata adalah 600 – 800 gram. Buah naga mudah sekali tumbuh dan mudah pula berbunga. Buah naga berdaging merah, lezat dan manis rasanya
Buah naga banyak digemari orang karena mempunyai banyak manfaat, antara lain:
- Membersihkan darah.
- Menguatkan ginjal.
- Menyehatkan lever.
- Perawatan kecantikan.
- Menguatkan daya kerja otak.
- Meningkatkan ketajaman mata.
- Mengurangi keluhan panas dalam dan sariawan.
- Menstabilkan tekanan darah.
- Mengurangi keluhan keputihan.
- Mengurangi kolesterol dan mencegah kanker usus.
- Mencegah sembelit dan memperlancar feses.
- Memperlancar proses pencernaan


Jenis Buah Naga
Buah naga banyak jenisnya dengan warna daging buah yang berbeda beda, yakni berdaging buah putih, kuning dan merah.


Gambar 1. Buah naga daging putih (Hylocereus undatus)


Gambar 2. Buah naga daging merah (Hylocereus polyrhizus)


Gambar 3. Buah naga super merah (Hylocereus costaricensis)


Gambar 4. Buah naga kuning (Selenicereus megalanthus)

Secara alamiah, dari jenis-jenis buah naga tersebut yang mudah dibudidayakan adalah jenis buah naga berdaging buah warna putih, kuning dan yang paling sulit adalah buah naga berdaging merah. Tingkat kesulitan terdapat pada proses penyerbukan, yang disebabkan letak kepala putik menonjol keluar dari kepala sari. Namun demikian hal tersebut dapat dipecahkan dengan melakukan proses penyerbukan bantuan manusia (penyerbukan buatan).
Masalah utama untuk mengembangkan tanaman tersebut adalah bunga mudah rondtok/layu, yang disebabkan tidak terjadi penyerbukan, akibatnya adalah pembuahan gagal.

Buah Naga mulai berbunga setelah tanaman berumur ± 9-15 bulan. Waktu pembentukan bunga (kuncup) sampai mekar membutuhkan waktu ± 1 bulan. Buah naga dapat dipetik setelah umur 50-60 hari setelah terjadinya penyerbukan , dengan ditandai muncul aroma wangi atau buah sudah merah, dan ujung buah mulai meretak. Buah naga berdaging merah sulit berbuah, salah satu penyebabnya adalah tidak terjadi penyerbungan secara alami (dibantu angin/serangga), karena letak kepala putik jauh di luar dari benang sari/b], sehingga tepung sari tidak dapat menempel pada kepala putik. Bunga buah naga berdaging merah mekar pada malam hari (antara pukul 21.00 s/d 04.00 dan setelah itu bunga layu) walaupn pada saat itu tidak terjadi penyerbukan.



Gambar 5. Bunga buah naga


Gambar 6. Bunga buah naga yang mekar


PENYERBUKAN
Penyerbukan adalah proses bersatunya atau menempelnya tepung sari pada kepala putik dari suatu bunga. Penyerbukan akan berhasil apabila kepala putik dan tepung sari sudah sama sama matang (siap untuk diserbuki).
Peralatan yang diperlukan dalam penyerbukan bunga buah naga antara ain:
1. Lampu penerangan/lampu senter
2. Kuas pensil
Caranya:
- Tunggu bunga buah naga mekar sempurna, ditandai mahkota bunga berwarna putih cerah membuka penuh.
- Dengan menggunakan kuas pensil, benang sari pada kepala sari diketuk ketuk agar tepung sari jatuh pada mahkota bunga.
- Ambil tepung sari yang jatuh dimahkota bunga dengan ujung kuas (tepung sari menempel pada ujung kuas).
- Ulaskan ujung kuas tersebut pada kepala putik sekali saja, agar kepala putik tidak rusak


Gambar 7. Bunga buah naga yang mekar

- Tunggu beberapa hari (3 – 5 hari), mahkota bunga akan layu dan gugur. Salah satu penyerbukan berhasil antara lain ditandai 7 hari setelah dilakukan penyerbungan kelopak bunga hijau segar. Apabila warnanya berubah kecoklatan beberapa hari berikutnya bunga akan gugur/jatuh.


Gambar 8. Kelopak bunga berubah warna menjadi kecoklatan

- Buah naga matang dan siap dipetik pada umur 50-60 hari setelah dilakukan penyerbukan.Kelopok bunga berwarna hijau, selanjutnya mahkota bunga gugur dari bagian atas bakal buah. Proses beikutnya diikuti dengan aliran asimilat ke bakal buah dan semakin jelas perkemangannya. Buah naga selanjutnya berwana hijau kulitnya dan setelah tua berubah menjadi warna merah.


Gambar 9. Buah naga siap dipetik

- Retakan yang terdapat pada ujung buah (bekas pangkal mahkota bunga) merupakan tanda buah naga siap dipetik. Rasa menjadi lebih manis bila dikonsumsi setelah 3 hari dari pemetikan.

Prinsip Pembuahan:
Pembungaan dirangsang dengan memangkasan cabang produksi, sepanjang 5-10 cm dari ujung tunas. Pemangkasan cabang produksi sudah tidak menghasilkan buah lagi, bertujuan untuk menumbuhkan tunas baru.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Litbang Departemen Pertanian RI (2007). Buah Naga Kuatkan Fungsi Ginjal. http://www.InfoSehat.com
Halimin, M. A. 2008. Manual Ringkas Cara Penanaman dan Penjagaan Buah Naga. http://www.balitro.litbang.deptan.go.id
http://id.wikipedia.org/wiki/Buah_naga
http://drydogdesign.com/teknik-dan-cara-mudah-budidaya-buah-naga/
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/53726



Jambi 02 Juni 2014. Lindung

Tanggal Upload : 02-06-2014
Jumlah Hit (telah di download) : 8 kali


PENYADAPAN TANAMAN KARET

Syukur, SP, MP. 2014. Penyadapan tanaman karet. Penyadapan adalah pelukaan buatan yang diberikan pada kulit batang dengan tujuan mengeluarkan lateks. Tanaman karet mulai dapat disadap pada umur 5-6 tahun, lilit batang 45 cm dengan ketinggian 100 cm diatas permukaan tanah dengan arah dari kiri atas kekanan bawah dengan sudut kemiringan 450 . Kedalaman irisan sadap 1-1,5 mm dari cambium dengan ketebalan 1,5-2 mm dengan frekuensi peyadapan satu kali dalam dua hari, waktu penyadapan yang dianjurkan mulai jam 06.00 WIB dan selesai tidak lebih dari jam 10.00 WIB. Kemampuan tanaman dalam menghasilkan lateks berubah dari waktu kewaktu, diperlukan system panen. Sistem panen yang dianjurkan untuk karet rakyat adalah system panen konvensional

Tanggal Upload : 02-06-2014
Jumlah Hit (telah di download) : 1236 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


TEKNOLOGI TATA AIR DI LAHAN GAMBUT UNTUK BUDIDAYA PERTANIAN

Oleh Ir. Lindung, MP
Widyaiswara Balai Pelatihan Pertanian Jambi


Pendahuluan

Pengelolaan lahan gambut harus dilakukan secara hati-hati dan terencana dengan baik, agar tidak terjadi kerusakan, karena pemulihan lahan gambut yang rusak membutuhkan waktu yang lama. Pengelolaan lahan rawa gambut untuk pertanian hendaknya diutamakan pada areal lahan gambut yang telah mengalami kerusakan, namun memiliki potensi pemanfaatan yang tinggi dengan batas kedalaman tidak lebih dari satu meter. Kegiatan pertanian dengan membuka lahan baru, apalagi yang masih berhutan harus dihindari.

Tanggal Upload : 12-05-2014
Jumlah Hit (telah di download) : 3591 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


TEKNIK IDENTIFIKASI DAN ANALISIS KEBUTUHAN MATERI DIKLAT

Oleh Ir. Lindung, MP
Widyaiswara Balai Pelatihan Pertanian Jambi



I. PENDAHULUAN

Pendidikan dan Latihan (Diklat) merupakan proses belajar untuk mendapatkan tambahan kemampuan baik dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Suatu diklat yang baik haruslah didasarkan pada kebutuhan calon peserta latihan; kebutuhan akan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, artinya materi diklat atau mata diklat yang akan disampaukan harus merupakan kebutuhan calon peserta dalam rangka mengurangi diskrenpasi kompetensi.
Untuk mengetahui kebutuhan mata diklat dalam suatu diklat maka ditempuhlah kegiatan identifikasi kebutuhan materi diklat (IKMD) yang datanya diolah dalam bentuk analisa kebutuhan materi diklat (AKMD).

Tanggal Upload : 09-05-2014
Jumlah Hit (telah di download) : 753 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


TEKNOLOGI APLIKASI ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT; plant growth regulator)

Oleh Ir. Lindung, MP.
Widyaiswara BPP Jambi



I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pembangunan pertanian yang memanfaatkan komponen lokal untuk peningkatan produksi dan ramah lingkungan haruslah didukung dan diaplikasikan di tingkat petani. Salah satu komponen lokal tersebut adalah dengan kelompok bakteri dan hormon-horman yang mampu mengatur pertumbuhan tanaman.
Hormon atau zat yang mampu memberikan pengaruh terhadap pengaturan pertumbuhan tanaman merupakan potensi besar dalam memproduksi suatu komoditi pertanian. Hormon atau zat tersebut dapat dikelola dalam bentuk ZPT (zat pengatur tumbuh).

Tanggal Upload : 08-05-2014
Jumlah Hit (telah di download) : 2787 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]

Hal : 1  2  3  4  5  [ 6 ]  7  8  9  10  11  12 

INFORMASI PENGUNJUNG :


Browser : CCBot/2.0 (http://commoncrawl.org/faq/)

Anda adalah pengunjung kami yang ke : 445008

Statistik Pengunjung Web 6 Bulan Terakhir

8889
9054
9128
10146
13671
3615

08-2017

09-2017

10-2017

11-2017

12-2017

01-2018