Peta Utama
Peta SD Negeri
Peta SMP Negeri
Peta SMA Negeri
Your result will display here
 
 BERANDA | SISTEM INFORMASI DIKLAT  ARTIKEL/ PUBLIKASI |  GALLERY |  BUKU TAMU |  HUBUNGI KAMI     

Beranda

Profil

Jadwal Kegiatan

Tautan Website

Sistem Informasi SDM

Sistem Informasi Diklat

Sistem Informasi Kelembagaan

Informasi Publik BPP Jambi

Denah Balai Pelatihan Pertanian Jambi

RTL Pelatihan

  PENCARIAN DATA :

MUTIARA HIKMAH :

"Dari Pada Mengutuki Kegelapan, Lebih Baik Ambil Sebatang Lilin dan Nyalakan”
(Pepatah Tiongkok)

Bagaimanakah Pendapat Anda Tentang Website ini?

 Baik Sekali
             1%
 Baik
             98%
 Cukup
             0%

Bagaimana pelayanan BPP Jambi

 Sangat Baik
             73%
 Baik
             22%
 Cukup
             5%

 
User ID :
Password :
 

ARTIKEL/ PUBLIKASI

Layanan ini disediakan dalam rangka penyebarluasan informasi kepada masyarakat umum. Data yang tersimpan dalam modul ini adalah data-data yang bersifat umum (bukan rahasia). Kami sangat menghargai jika kutipan yang Anda ambi dari artikel yang kami publikasikan ini Anda tidak lupa mencantumkan sumbernya www.bppjambi.info, dan Kami tidak bertanggungjawab atas segala bentuk penyalah gunaan yang timbul dikemudian hari.


PENGGUNAAN ISTILAH EVALUASI, PENGUKURAN, TES, DAN ASESMEN DALAM DIKLAT

Oleh Ir. Lindung, MP
Widyaiswara Balai Pelatihan Pertanian Jambi



Penempatan atau penggunaan istilah-istilah evaluasi (penilaian), pengukuran, tes, dan asesmen seringkali rancu dipakai oleh berbagai kalangan yang bergerak di bidang pendidikan, termasuk oleh widyaiswara pertanian yang bergerak di bidang diklat pertanian.
Dalam praktek acapkali terjadi kerancuan atau tumpang tindih (overlap) dalam penggunaan istilah, kenyataan seperti itu memang dapat dipahami, mengingat bahwa diantara istilah tersebut saling kait- mengkait sehingga sulit untuk dibedakan.
Setelah melakukan kajian terhadap berbagai konsep, definisi atau pengertian, maka dibuatlahartikel ini yang tujuannya untuk mendudukkan semua istilah evaluasi, penilaian, tes, pengukuran, hingga asesmenpada tempatnya yang tepat.

KONSEP EVALUASI

a. Pengertian Evaluasi

1. Anas Sujidono (2005)
Evaluasi menunjuk pada suatu kegiatan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.

2. Barbara A., Frey dan Susan W. Alman (2003)
Evaluation The systematic process of collecting, analyzing, and interpreting information to determine the extent to which pupils are achieving instructional objectives. (Evaluasi adalah proses sistematis pengumpulan, analisis, dan interpretasi informasi untuk menentukan sejauh mana siswa yang mencapai tujuan instruksional).

3. Djemari Mardapi(2003)
Penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran.

4. Joint Committee on Standards For Educational Evaluation (1994) dalam Stufflebeam and Shinkfield
Evaluation is the systematic assessment of the worth or merit of an object (Evaluasi adalah penilaian yang sistematis dari nilai atau manfaat dari sebuah objek)

5. Mehrens dan Lehman (1978) dalam Ngalim Purwanto
Evaluasi dalam arti luas sebagai suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan.

6. Oxford Advanced Learner’s Dictionary Of Current English (AS Hornby, 1986)
Evaluasi adalah to find out, decide the amaunt or value. (suatu upaya untuk menentukan nilai atau jumlah)

7. Suchman (1961) dalam Anderson (1975); yang dikutip Suharsimi Arikunto dan Cepi Safrudin Abdul Jabar
Evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai beberapa kegiatan yang telah direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan.

8. Allen Philips (1979)
Evaluation is a complex term that often is misused by both teachers and students. It involves making decicions or judgements about students based on the extent to which instructional objectives are achieved by them. (Evaluasi adalah istilah kompleks yang sering disalahgunakan oleh para guru dan siswa. Ini melibatkan membuat keputusan atau penilaian tentang siswa didasarkan pada sejauh mana tujuan instruksional yang dicapai oleh mereka)

9. Sutarsih dan Kadarsih yang dikutip oleh Sridadi (2007)
Evaluasi : suatu proses untuk memberikan atau menentukan nilai kepada obyek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu.

10. Zainul, Asmawi dan Noehi Nasution (2001)
Penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes.

b. Kesimpulan Tentang Pengertian Evaluasi:
• Evaluasi berasal dari bahasa Inggris value yang artinya nilai, jadi istilah evaluasi sinonim dengan penilaian.
• Evaluasi merupakan proses sistematis dari mengumpulkan, menganalisis, hingga interpretasi (menafsirkan) data atau informasi yang diperoleh.
• Data atau informasi diperoleh melalui pengukuran (measurement) hasil belajarmelalui tes atau nontes.
• Evaluasi bersifat kualitatif.
• Evaluasi merupakan suatu proses atau kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dengan menggunakan beberapa metode tertentu untuk mengukur dan menilai suatu program atau kegiatan dalam rangka mencapai suatu tujuan.

KONSEP PENGUKURAN (MEASURUMENT)

a. Pengertian Pengukuran (Measurement)

1. Alwasilah dkk.(1996)
Measurement (pengukuran) merupakan proses yang mendeskripsikan performa siswa dengan menggunakan suatu skala kuantitatif (sistem angka) sedemikian rupa sehingga sifat kualitatif dari performa siswa tersebut dinyatakan dengan angka-angka.

2. Arikunto dan Jabar (2004)
Pengukuran (measurement) sebagai suatu kegiatan membandingkan suatu hal dengan satuan ukuran tertentu sehingga sifatnya menjadi kuantitatif.

3. James S. Cangelosi (1995),
Pengukuran adalah proses pengumpulan data secara empiris yang digunakan untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan tujuan yang telah ditentukan.

4. Sridadi (2007)
Pengukuran adalah suatu prose yang dilakukan secara sistematis untuk memperoleh besaran kuantitatif dari suatu obyek tertentu dengan menggunakan alat ukur yang baku.

5. Anas Sudijono
Pengukuran sebagai kegiatan yang dilakukan untuk mengukur sesuatu. Mengukur pada haikatnya adalah membandingkan sesuatu dengan atau atas dasar ukuran tertentu.

6. Kerlinger (1996) dalam Purwanto,
Pengukuran adalah membandingkan sesuatu yang diukur dengan alat ukurnya dan kemudian menerakan angka menurut sistem aturan tertentu.

7. Zaenal Arifin
Pengukuran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu.

8. Robert L. Ebel dan David A. Frisbie (1986)
Measurement is a process of assigning numbers to the individual numbers of a set of objects or person for the purpose of indicating differences among them in the degree to which they process the characteristic being measured (Pengukuran adalah proses menetapkan nomor ke nomor individu seperangkat benda atau orang untuk tujuan menunjukkan perbedaan di antara mereka dalam sejauh mana mereka memproses karakteristik yang sedang diukur)

9. William A.Mehrens dan Irlin J. Lehmann (1973)
Using observations, rating scales. Or any other device that allows us to obtain information in a quantitative form is measurement (menggunakan pengamatan, skala rating. Atau perangkat lain yang memungkinkan kita untuk mendapatkan informasi dalam bentuk kuantitatif adalah pengukuran)

10. Norman E. Gronlund (1971)
Measurement is limited to quantitative descriptions of pupil behavior (Pengukuran terbatas pada deskripsi kuantitatif dari perilaku murid)

b. Kesimpulan Tentang Pengertian Pengukuran:
• Kegiatan pengukuran dilakukan dengan membandingkan hasil belajar dengan suatu ukuran tertentu.
• Dilakukan dengan proses sistematis.
• Hasil pengukuran berupa besaran kuantitatif (berupa angka).
• Pengukuran menggunakan alat ukur yang baku.
• Pengukuran merupakan suatu kegiatan membandingkan sesuatu dengan ukuran tertentu untuk mendapatkan nilai atau akurasi suatu objek. Pengukuran dalam praktiknya lebih bersifat kuantitatif
• Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan dimana seseorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu. Pengukuran berkaitan erat dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif. Pengukuran diartikan sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas

KONSEP ASESMEN

a. Pengertian Asesmen

1. T.A.Angelo (1991)
Classroom Assessment is a simple method faculty can use to collect feedback, early and often, on how well their students are learning what they are being taught. (Asesmen Kelas adalah suatu metode yang sederhana dapat digunakan untuk mengumpulkan umpan balik, baik di awal maupun setelah pembelajaran tentang seberapa baik siswa mempelajari apa yang telah diajarkan kepada mereka.)

2. Bob Kizlik (2009)
Assessment is a process by which information is obtained relative to some known objective or goal. Assessment is a broad term that includes testing. A test is a special form of assessment. Tests are assessments made under contrived circumstances especially so that they may be administered. In other words, all tests are assessments, but not all assessments are tests. (Artinya : asesmen adalah suatu proses dimana informasi diperoleh berkaitan dengan tujuan pembelajaran. Asesmen adalah istilah yang luas yang mencakup tes (pengujian). Tes adalah bentuk khusus dari asesmen. Tes adalah salah satu bentuk asesmen. Dengan kata lain, semua tes merupakan asesmen, namun tidak semua asesmen berupa tes)

3. Terry Overton(2008)
Assesment is a process of gathering information to monitor progress and make educational decisions if necessary. As noted in my definition of test, an assesment may include a test, but also include methods such as observations, interview, behavior monitoring, etc. (Asesmen adalah suatu proses pengumpulan informasi untuk memonitor kemajuan dan bila diperlukan pengambilan keputusan dalam bidang pendidikan.

4. Palomba dan Banta (1999)
Assessment is the systematic collection , review , and use of information about educational programs undertaken for the purpose of improving student learning and development (Asesmen adalah pengumpulan, reviu, dan penggunaan informasi secara sistematik tentang program pendidikan dengan tujuan meningkatkan belajar dan perkembangan siswa).

5. Nana Sudjana
Penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu.

6. Gronlund (1984) dalam Asep Jihad dan Abdul Haris
Penilaian sebagai proses sistematik pengumpulan, penganalisaan, dan penafsiran informasi untuk menentukan sejauh mana siswa mencapai tujuan.

7. The Task Group on Assesment and Testing (TGAT) dalam Griffin & Nix (1991) dalam Eko Putro Widoyoko mendeskripsikan
Assessment sebagai semua cara yang digunakan untuk menilai unjuk kerja individu atau kelompok.

8. Boyer and Ewel
Assessment sebagai proses yang menyediakan informasi tentang individu siswa, tentang kurikulum atau program, tentang institusi atau segala sesuatu yang berkaitan dengan system institusi.

9. Eko Putro Widoyoko
Penilaian dapat diartikan sebagai kegiatan menafsirkan data hasil pengukuran berdasarkan kriteria maupun aturan-aturan tertentu.

10. Asmawi Zainul dan Noehi Nasution
Penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes

b. Kesimpulan Tentang Pengertian Asesmen:
• Assessment atau penilaian merupakan suatu tindakan memilih, menentukan, dan menilai suatu objek tertentu secara kualitatif (baik-buruk, tinggi-pendek, besar-kecil, dan lain-lain) berdasarkan atas beberapa standar atau kriteria tertentu.

• Penilaian (assessment) merupakan istilah yang umum dan mencakup semua metode yang biasa dipakai untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa dengan cara menilai unjuk kerja individu peserta didik atau kelompok. Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat. Penilaian untuk memperoleh berbagai ragam informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau informasi tentang ketercapaian kompetensi peserta didik. Proses penilaian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar peserta didik.

KONSEP TES

a. Pengertian Tes

1. Wayan Nurkencana (1993).
Tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas yang harus dikerjakan anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut yang kemudian dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau standar yang telah ditetapkan

2. Overton, Terry (2008)
Test is a method to determine a student’s ability to complete certain tasks or demontstrate mastery of a skill or knowledge of content. Some types would be multiple choice tests or a weekly spelling test. While it commonly used interchangeably with assesment, or even evaluation, it can be distinguished by the fact that a test is one form of an assesment. (Tes adalah suatu metode untuk menentukan kemampuan siswa menyelesaikan sejumlah tugas tertentu atau mendemonstrasikan penguasaan suatu keterampilan atau pengetahuan pada suatu materi pelajaran. Beberapa tipe tes misalnya tes pilihan ganda atau tes mengeja mingguan. Seringkali penggunaannya tertukar dengan asesmen, atau bahkan evaluasi (penilaian), yang mana sebenarnya tes dapat dengan mudah dibedakan berdasarkan kenyataan bahwa tes adalah salah satu bentuk asesmen)

b. Kesimpulan Tentang Pengertian Tes:
• Tes adalah cara atau metode untuk menentukan kemampuan siswa menyelesaikan tugas tertentu atau mendemonstrasikan penguasaan suatu keterampilan atau pengetahuan.
• Beberapa tipe tes misalnya tes pilihan ganda atau tes mengeja mingguan.
• Tes adalah salah satu bentuk asesmen

Kedudukan Istilah Evaluasi, Penilaian, Pengukuran, Asesmen, dan Tes.
Hasil pengertian dan kesimpulan tentang istilah-istilah evaluasi, penilaian, pengukuran, asesmen, maka dapat disusun sebuah diagram yang menggambarkan kedudukan istilah-istilah tersebut, yang disajikan dalam Gambar di bawah.



Gambar 1. Diagram kedudukan Evaluasi, Pengukuran, dan Asesmen



REFERENSI
Alwasilah, et al. (1996). Glossary of educational Assessment Term. Jakarta: Ministry of Education and Culture.
Anas Sudijono, 2001. Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta:PT.Grafindo persada
Angelo, T.A., (1991). Ten easy pieces: Assessing higher learning in four dimensions. In Classroom research: Early lessons from success. New directions in teaching and learning (#46), Summer, 17-31.
Arikunto, S & Jabar. 2004. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Asep Jihad dan Abdul Haris, Evaluasi Pembelajaran, cetakan ketiga, (Yogyakarta : Multi Pressindo, 2010)
Calongesi, James S. 1995. Merancang Tes untuk Menilai Prestasi Siswa. Bandung :
Daniel L. Stufflebeam and Antony J. Shinkfield, Evaluation Theory, Models, & Aplications, First Edition, (United State Of Amarica : Jossey Bass, 2007)
Eko Putro Widoyoko, Evaluasi Program Pembelajaran : Panduan Praktis Bagi Pendidik dan Calon Pendidik, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009)
Frey, Barbara A., and Susan W. Alman. (2003). Formative Evaluation Through Online Focus Groups, in Developing Faculty to use Technology, David G. Brown (ed.), Anker Publishing Company: Bolton, MA.
Kizlik, Bob. (2009). Measurement, Assessment, and Evaluation in Education. Online : http://www.adprima.com/measurement.htm diakses tanggal 20-01-2013.
Mardapi, Djemari (2003). Desain Penilaian dan Pembelajaran Mahasiswa. Makalah Disajikan dalam Lokakarya Sistem Penjaminan Mutu Proses Pembelajaran tanggal 19 Juni 2003 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Nana Sudjana 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Rosda Karya)
Overton, Terry. (2008). Assessing Learners with Special Needs: An Applied Approach (7th Edition). University of Texas – Brownsville
Palomba, Catherine A. And Banta, Trudy W. (1999). Assessment Essentials: Planning, Implementing, Improving. San Francisco: Jossey-Bass
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009)
Sridadi. (2007). Diktat Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran Penjas. Yogyakarta: FIK UNY.
Suharsimi Arikunto dan Cepi Safrudin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan : Pedoman Teoritis Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan, cetakan ketiga, (Jakarta : Bumi Akasara, 2009)
Wayan Nurkencana. (1993). Evaluasi Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional.
Zainul, Asmawi dan Noehi Nasution. 2001. Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Zaenal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2009).


Jambi, 7 Juli 2014. Lindung

Tanggal Upload : 08-07-2014
Jumlah Hit (telah di download) : 16 kali


TEKNIK MEMBUAHKAN BUAH NAGA

Oleh Ir. Lindung, MP
Widyaiswara Balai Pelatihan Pertanian Jambi


Pendahuluan

Buah naga (Inggris: pitaya) adalah buah dari beberapa jenis kaktus dari marga Hylocereus dan Selenicereus. Buah ini berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan namun sekarang banyak dibudidayakan di Indonesia, karena pemeliraannya termasuk mudah dan sederhana.
Buah naga berbentuk lonjong bulat, seperti buah nanas, dengan kulit berwarna merah jambu. Berat rata rata adalah 600 – 800 gram. Buah naga mudah sekali tumbuh dan mudah pula berbunga. Buah naga berdaging merah, lezat dan manis rasanya
Buah naga banyak digemari orang karena mempunyai banyak manfaat, antara lain:
- Membersihkan darah.
- Menguatkan ginjal.
- Menyehatkan lever.
- Perawatan kecantikan.
- Menguatkan daya kerja otak.
- Meningkatkan ketajaman mata.
- Mengurangi keluhan panas dalam dan sariawan.
- Menstabilkan tekanan darah.
- Mengurangi keluhan keputihan.
- Mengurangi kolesterol dan mencegah kanker usus.
- Mencegah sembelit dan memperlancar feses.
- Memperlancar proses pencernaan


Jenis Buah Naga
Buah naga banyak jenisnya dengan warna daging buah yang berbeda beda, yakni berdaging buah putih, kuning dan merah.


Gambar 1. Buah naga daging putih (Hylocereus undatus)


Gambar 2. Buah naga daging merah (Hylocereus polyrhizus)


Gambar 3. Buah naga super merah (Hylocereus costaricensis)


Gambar 4. Buah naga kuning (Selenicereus megalanthus)

Secara alamiah, dari jenis-jenis buah naga tersebut yang mudah dibudidayakan adalah jenis buah naga berdaging buah warna putih, kuning dan yang paling sulit adalah buah naga berdaging merah. Tingkat kesulitan terdapat pada proses penyerbukan, yang disebabkan letak kepala putik menonjol keluar dari kepala sari. Namun demikian hal tersebut dapat dipecahkan dengan melakukan proses penyerbukan bantuan manusia (penyerbukan buatan).
Masalah utama untuk mengembangkan tanaman tersebut adalah bunga mudah rondtok/layu, yang disebabkan tidak terjadi penyerbukan, akibatnya adalah pembuahan gagal.

Buah Naga mulai berbunga setelah tanaman berumur ± 9-15 bulan. Waktu pembentukan bunga (kuncup) sampai mekar membutuhkan waktu ± 1 bulan. Buah naga dapat dipetik setelah umur 50-60 hari setelah terjadinya penyerbukan , dengan ditandai muncul aroma wangi atau buah sudah merah, dan ujung buah mulai meretak. Buah naga berdaging merah sulit berbuah, salah satu penyebabnya adalah tidak terjadi penyerbungan secara alami (dibantu angin/serangga), karena letak kepala putik jauh di luar dari benang sari/b], sehingga tepung sari tidak dapat menempel pada kepala putik. Bunga buah naga berdaging merah mekar pada malam hari (antara pukul 21.00 s/d 04.00 dan setelah itu bunga layu) walaupn pada saat itu tidak terjadi penyerbukan.



Gambar 5. Bunga buah naga


Gambar 6. Bunga buah naga yang mekar


PENYERBUKAN
Penyerbukan adalah proses bersatunya atau menempelnya tepung sari pada kepala putik dari suatu bunga. Penyerbukan akan berhasil apabila kepala putik dan tepung sari sudah sama sama matang (siap untuk diserbuki).
Peralatan yang diperlukan dalam penyerbukan bunga buah naga antara ain:
1. Lampu penerangan/lampu senter
2. Kuas pensil
Caranya:
- Tunggu bunga buah naga mekar sempurna, ditandai mahkota bunga berwarna putih cerah membuka penuh.
- Dengan menggunakan kuas pensil, benang sari pada kepala sari diketuk ketuk agar tepung sari jatuh pada mahkota bunga.
- Ambil tepung sari yang jatuh dimahkota bunga dengan ujung kuas (tepung sari menempel pada ujung kuas).
- Ulaskan ujung kuas tersebut pada kepala putik sekali saja, agar kepala putik tidak rusak


Gambar 7. Bunga buah naga yang mekar

- Tunggu beberapa hari (3 – 5 hari), mahkota bunga akan layu dan gugur. Salah satu penyerbukan berhasil antara lain ditandai 7 hari setelah dilakukan penyerbungan kelopak bunga hijau segar. Apabila warnanya berubah kecoklatan beberapa hari berikutnya bunga akan gugur/jatuh.


Gambar 8. Kelopak bunga berubah warna menjadi kecoklatan

- Buah naga matang dan siap dipetik pada umur 50-60 hari setelah dilakukan penyerbukan.Kelopok bunga berwarna hijau, selanjutnya mahkota bunga gugur dari bagian atas bakal buah. Proses beikutnya diikuti dengan aliran asimilat ke bakal buah dan semakin jelas perkemangannya. Buah naga selanjutnya berwana hijau kulitnya dan setelah tua berubah menjadi warna merah.


Gambar 9. Buah naga siap dipetik

- Retakan yang terdapat pada ujung buah (bekas pangkal mahkota bunga) merupakan tanda buah naga siap dipetik. Rasa menjadi lebih manis bila dikonsumsi setelah 3 hari dari pemetikan.

Prinsip Pembuahan:
Pembungaan dirangsang dengan memangkasan cabang produksi, sepanjang 5-10 cm dari ujung tunas. Pemangkasan cabang produksi sudah tidak menghasilkan buah lagi, bertujuan untuk menumbuhkan tunas baru.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Litbang Departemen Pertanian RI (2007). Buah Naga Kuatkan Fungsi Ginjal. http://www.InfoSehat.com
Halimin, M. A. 2008. Manual Ringkas Cara Penanaman dan Penjagaan Buah Naga. http://www.balitro.litbang.deptan.go.id
http://id.wikipedia.org/wiki/Buah_naga
http://drydogdesign.com/teknik-dan-cara-mudah-budidaya-buah-naga/
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/53726



Jambi 02 Juni 2014. Lindung

Tanggal Upload : 02-06-2014
Jumlah Hit (telah di download) : 9 kali


PENYADAPAN TANAMAN KARET

Syukur, SP, MP. 2014. Penyadapan tanaman karet. Penyadapan adalah pelukaan buatan yang diberikan pada kulit batang dengan tujuan mengeluarkan lateks. Tanaman karet mulai dapat disadap pada umur 5-6 tahun, lilit batang 45 cm dengan ketinggian 100 cm diatas permukaan tanah dengan arah dari kiri atas kekanan bawah dengan sudut kemiringan 450 . Kedalaman irisan sadap 1-1,5 mm dari cambium dengan ketebalan 1,5-2 mm dengan frekuensi peyadapan satu kali dalam dua hari, waktu penyadapan yang dianjurkan mulai jam 06.00 WIB dan selesai tidak lebih dari jam 10.00 WIB. Kemampuan tanaman dalam menghasilkan lateks berubah dari waktu kewaktu, diperlukan system panen. Sistem panen yang dianjurkan untuk karet rakyat adalah system panen konvensional

Tanggal Upload : 02-06-2014
Jumlah Hit (telah di download) : 1297 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


TEKNOLOGI TATA AIR DI LAHAN GAMBUT UNTUK BUDIDAYA PERTANIAN

Oleh Ir. Lindung, MP
Widyaiswara Balai Pelatihan Pertanian Jambi


Pendahuluan

Pengelolaan lahan gambut harus dilakukan secara hati-hati dan terencana dengan baik, agar tidak terjadi kerusakan, karena pemulihan lahan gambut yang rusak membutuhkan waktu yang lama. Pengelolaan lahan rawa gambut untuk pertanian hendaknya diutamakan pada areal lahan gambut yang telah mengalami kerusakan, namun memiliki potensi pemanfaatan yang tinggi dengan batas kedalaman tidak lebih dari satu meter. Kegiatan pertanian dengan membuka lahan baru, apalagi yang masih berhutan harus dihindari.

Tanggal Upload : 12-05-2014
Jumlah Hit (telah di download) : 4469 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


TEKNIK IDENTIFIKASI DAN ANALISIS KEBUTUHAN MATERI DIKLAT

Oleh Ir. Lindung, MP
Widyaiswara Balai Pelatihan Pertanian Jambi



I. PENDAHULUAN

Pendidikan dan Latihan (Diklat) merupakan proses belajar untuk mendapatkan tambahan kemampuan baik dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Suatu diklat yang baik haruslah didasarkan pada kebutuhan calon peserta latihan; kebutuhan akan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, artinya materi diklat atau mata diklat yang akan disampaukan harus merupakan kebutuhan calon peserta dalam rangka mengurangi diskrenpasi kompetensi.
Untuk mengetahui kebutuhan mata diklat dalam suatu diklat maka ditempuhlah kegiatan identifikasi kebutuhan materi diklat (IKMD) yang datanya diolah dalam bentuk analisa kebutuhan materi diklat (AKMD).

Tanggal Upload : 09-05-2014
Jumlah Hit (telah di download) : 842 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


TEKNOLOGI APLIKASI ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT; plant growth regulator)

Oleh Ir. Lindung, MP.
Widyaiswara BPP Jambi



I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pembangunan pertanian yang memanfaatkan komponen lokal untuk peningkatan produksi dan ramah lingkungan haruslah didukung dan diaplikasikan di tingkat petani. Salah satu komponen lokal tersebut adalah dengan kelompok bakteri dan hormon-horman yang mampu mengatur pertumbuhan tanaman.
Hormon atau zat yang mampu memberikan pengaruh terhadap pengaturan pertumbuhan tanaman merupakan potensi besar dalam memproduksi suatu komoditi pertanian. Hormon atau zat tersebut dapat dikelola dalam bentuk ZPT (zat pengatur tumbuh).

Tanggal Upload : 08-05-2014
Jumlah Hit (telah di download) : 4534 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


HUBUNGAN BERAT DAN DAYA (FWP) PADA TRAKTOR RODA DAN TRACK

Oleh : Abdul Roni Angkat, S.TP. M.Si (Widyaiswara Muda)


Berat sangat identik dengan besarnya tenaga yang dihasilkan oleh benda yang bergerak, begitu pula dengan traktor pertanian. Daya yang dihasilkan oleh traktor berbanding lurus dengan beratnya.

Tanggal Upload : 24-03-2014
Jumlah Hit (telah di download) : 819 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


ANALISIS TEKNOLOGI PENYIMPANAN DALAM PENANGANAN PASCA PANEN BUAH-BUAHAN

Oleh : Abdul Roni Angkat, S.TP. M.Si (Widyaiswara Muda)


Kajian ini bertujuan untuk menganalisis teknologi penyimpanan buah untuk memaksimalkan daya simpan buah dalam rangka mempertahankan kualitas buah.Teknologi penyimpanan yang menjadi kajian terdiri atas penyimpanan buah pada suhu dingin (rendah), penyimpanan dengan perlakuan kimia, penggunaan atmosfer terkendali, serta kombinasi perlakuan-perlakuan tersebut di atas.

Tanggal Upload : 24-03-2014
Jumlah Hit (telah di download) : 7117 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]


MEMBUAT STRAWMIX

Oleh :Drh. Linda Hadju
Widyaiswara Madya



Hijauan merupakan sumber pakan utama untuk ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba). Untuk meningkatkan produksi diperlukan penyediaan hijauan pakan yang cukup baik kuantitas, kualitas maupun kontinuitasnya.
Hijauan pakan ternak yang umum diberikan untuk ternak ruminansia adalah rumput-rumputan yang berasal dari padang penggembalaan atau kebun rumput, tegalan, pematang serta pinggiran jalan. Sedangkan faktor penghambat penyediaan ini adalah karena adanya perubahan fungsi lahan dimana menjadi lahan pemukiman, lahan tanaman pangan dan tanaman industri. Sumberdaya alam untuk peternakan berupa padang penggembalaan di Indonesia semakin berkurang. Secara umum ketersediaan hijauan pakan ternak juga dipengaruhi oleh iklim, sehingga pada musim kemarau terjadi kekurangan hijauan pakan ternak dan sebaliknya di musim hujan jumlahnya melimpah.
Adapun solusinya adalah pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak. Jenis limbah pertanian sebagai sumber pakan ternak adalah jerami padi, jerami jagung, jerami kedelai, jerami kacang tanah, pucuk ubi kayu dan jerami ubi jalar. Penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak mengalami kendala terutama disebabkan adanya faktor pembatas dengan nilai nutrisi yang rendah karena kandungan protein rendah sekitar 3-5%, serat kasar tinggi serta kecernaan rendah karena mengandung lignin 6-7 % dan silikat 13%, sehingga perlu diolah lebih lanjut untuk meningkatkan protein dan daya cernanya.

Tanggal Upload : 04-03-2014
Jumlah Hit (telah di download) : 16 kali


MEMBUAT SILASE

Oleh : Drh. Linda Hadju
Widyaiswara Madya



Hijauan merupakan sumber pakan utama untuk ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba). Untuk meningkatkan produksi diperlukan penyediaan hijauan pakan yang cukup baik kuantitas, kualitas maupun kontinuitasnya.
Hijauan pakan ternak yang umum diberikan untuk ternak ruminansia adalah rumput-rumputan yang berasal dari padang penggembalaan atau kebun rumput, tegalan, pematang serta pinggiran jalan. Sedangkan faktor penghambat penyediaan ini adalah karena adanya perubahan fungsi lahan dimana menjadi lahan pemukiman, lahan tanaman pangan dan tanaman industri. Sumberdaya alam untuk peternakan berupa padang penggembalaan di Indonesia semakin berkurang. Secara umum ketersediaan hijauan pakan ternak juga dipengaruhi oleh iklim, sehingga pada musim kemarau terjadi kekurangan hijauan pakan ternak dan sebaliknya di musim hujan jumlahnya melimpah.
Adapun solusinya adalah pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak. Jenis limbah pertanian sebagai sumber pakan ternak adalah jerami padi, jerami jagung, jerami kedelai, jerami kacang tanah, pucuk ubi kayu dan jerami ubi jalar. Penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak mengalami kendala terutama disebabkan adanya faktor pembatas dengan nilai nutrisi yang rendah karena kandungan protein rendah sekitar 3-5%, serat kasar tinggi serta kecernaan rendah karena mengandung lignin 6-7 % dan silikat 13%, sehingga perlu diolah lebih lanjut untuk meningkatkan protein dan daya cernanya.

Untuk membaca Artikel ini selengkapnya, silahkan Klik [DOWNLOAD LAMPIRAN] dibawah ini >>>

Tanggal Upload : 04-03-2014
Jumlah Hit (telah di download) : 6903 kali

DOWNLOAD LAMPIRAN ]

Hal : 1  2  3  4  5  6  [ 7 ]  8  9  10  11  12  13 

INFORMASI PENGUNJUNG :


Browser : CCBot/2.0 (https://commoncrawl.org/faq/)

Anda adalah pengunjung kami yang ke : 531299

Statistik Pengunjung Web 6 Bulan Terakhir

8094
6841
12134
7152
11613
5595

05-2018

06-2018

07-2018

08-2018

09-2018

10-2018